Kualasimpang, (Analisa). Meski telah dilindungi Undang-Undang Nomor: 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, namun populasi penyu hijau yang tersebar di wilayah Indonesia termasuk di Kabupaten Aceh Tamiang tetap sedikit, bahkan terancam punah.
“Kalau tidak diselamatkan, kita dan anak cucu tidak akan tahu lagi penyu hijau seperti apa. Jadi hari ini adalah upaya kita bersama menyelamatkan penyu hijau dengan harapan sampai fauna itu dewasa dan bertelur lagi di sini,” kata Kepala BKSDA Aceh, Sapto Aji Prabowo, S.Hut.M.Sc kepada Analisa usai acara pelepasliaran sebanyak 93 ekor tukik penyu hijau di sebuah pulau kawasan Pantai Pusong Cium, Kecamatan Seruway, Aceh Tamiang, Senin (16/4) sore.
Kegiatan tersebut merupakan kerja sama antara BKSDA Aceh, PT Pertamina EP Rantau Field, Yayasan Satucita Lestari Indonesia (YSLI) dan Pemda Aceh Tamiang, yang selama ini konsen terhadap pelestarian lingkungaan dan satwa.
Diungkapkan Sapto Aji Prabowo, tingkat keberhasilan hidup penyu hijau sampai usia dewasa sangat rendah. Dari 93 tukik penyu itu diprediksikan hanya dua ekor penyu saja yang akan selamat hidup di alam bebas.
“Survival/bertahan hidup penyu hanya 2 persen. Artinya, dari 93 tukik yang kita lepaskan tadi, paling cuma dua ekor yang akan bertahan hidup sampai besar,” ungkapnya.
Oleh karena itu, dalam hal penyelamatan hewan yang dilindungi, seperti tuntong laut (Batagur borneoensis) dan penyu hijau (Chelonia mydas) di Aceh Tamiang, menurut Sapto Aji, BKSDA Aceh punya MoU dengan PT Pertamina Rantau, Pemkab Atam dan Yayasan SLI yang bersama-sama melakukan patroli penyelamatan sejak spesies itu bertelur hingga melakukan perlindungan sampai ditetaskan dan dilepasliarkan. Sebab, kalau hal itu tidak dilakukan, disinyalir masih ada kalangan masyarakat yang memanfaatkan berburu telur reptil langka tersebut untuk dikonsumsi.
“Kalau tidak kita selamatkan dari sekarang, lama-lama tuntong dan penyu akan punah. Khusus untuk tuntong laut selain dilindungi oleh Qanun/Perda Aceh Tamiang Nomor: 03/2016 juga masuk dalam perhatian Badan PBB/Konservasi Dunia (IUCN) yang mengurusi tentang konservasi tentang satwa liar, karena keberadaan tuntong laut sudah sangat kritis terancam punah, sehingga kami dan kawan-kawan di YSLI sangat konsen menyelamatkan itu,” papar Sapto Aji.
Program CSR
Field Manager (FM) PT Pertamina EP Rantau Field, Hari Widodo dalam kesempatan itu mengatakan, pelestarian tuntong laut/penyu sudah dirintis sejak beberapa tahun lalu bekerjasama dengan YSLI dalam bentuk program CSR/tanggung jawab perusahaan.
Pertamina EP Rantau ikut terlibat dalam pelestarian setelah melihat tuntong laut termasuk hewan/fauna endemik di Indonesia dan merupakan hewan khas yang ada di daerah sini (Aceh Tamiang) seperti halnya penyu hijau juga.
Kedua hewan ini, ungkap Hari Widodo, kondisinya sudah hampir punah. Konon lagi saat ini penyebaran populasinya sudah sangat terbatas sekali. “Kami memilih pelestarian tuntong laut, karena merupakan hewan endemik tidak ditemukan di tempat lain, sehingga memiliki khas unik tersendiri. Setahu saya, tuntong laut hanya ada di dua daerah di Indonesia yaitu, Kalimantan dan di Kabupaten Aceh Tamiang saja,” ujarnya.
Menurutnya, pelestarian spesies tuntong laut ke depan akan dikembangkan lagi ke arah sektor lainnya sekaligus melakukan pengawasan hutan magrove di kawasan pesisir, sebagai tempat berkembangbiaknya biota laut dan kekayaan hayati yang ada di dalamnya, sehingga bermanfaat bagi warga di sini sebagai lokasi ekowisata.
“Ini tanggung jawab kita bersama dan mohon dukungan semua pihak, agar indukan tutong laut dan penyu hijau bisa terus berreproduksi/bertelur kembali di habitatnya ini,” katanya.
Sebelumnya, Ketua YSLI, Yusriono menyampaikan, tukik penyu hijau yang dilepas sebanyak 93 ekor dari jumlah telur 119 butir. Tukik tersebut hasil penetasan dari penangkaran di pusat rumah informasi tuntong laut (RITL) milik yayasan di Desa Pusong Kapal, Seruway.
Menurut Yusriono, ini merupakan pelepasanliaran ke-2 sejak YSLI melakukan upaya penyelamatan tuntong laut. “Sebelumnya pada tahun 2015 kita juga pernah melakukan penglepasan penyu hijau sebanyak 109 ekor di lokasi yang sama di pulau ini,” jelasnya.
Belum bisa mendata
Dia menyatakan, sejauh ini YSLI sudah melakukan kerja sama dengan BKSDA Aceh, Pertamina Rantau, Pemkab Aceh Tamiang dalam upaya penyelamatan tuntong laut. “Untuk penyelamatan reptil penyu, kami belum melakukan kerja sama dengann pihak mana pun karena kami dari YSLI belum bisa mendata seberapa banyak populasi penyu di daerah pesisir Aceh Tamiang,” tandasnya.
Camat Seruway, Husaini yang mewakili Pemda Atam berharap, pelestarian tuntong laut di Seruway bisa mendatangkan animo orang banyak, sehingga roda perekonomian masyarakat pesisir yang mayoritas sebagai nelayan tradisional bisa terdongkrak dengan kehadiran para pengunjung.
“Terima kasih kepada semua pihak yang berkiprah dalam pelestarian satwa dan lingkungan di Seruway, dan harapan kami melalui program CSR dari Pertamina Rantau bisa berlanjut dalam jangka panjang serta harus mengena dalam sendi kehidupan masyarakat sekitar, agar lebih sejahtera dari sebelumnya, ujar camat.
Secara terpisah, Anggota Komisi D DPRK Aceh Tamiang, Irma Suryani, M.Kes kepada Analisa mengatakan, kelestarian lingkungan sangat bergantung pada peran manusia, apabila manusia bisa memanfaatkan ilmu dan teknologi dengan baik maka kelestarian lingkungan dan sumber daya alam akan terjaga, karena setiap makhluk hidup memiliki hak untuk melangsungkan kehidupannya termasuk satwa dan habitatnya.
Disinggung terkait aksi perburuan telur dan perambahan hutan mangrove secara liar, politisi perempuan dari NasDem ini menyatakan, itu jelas mengancam kelestarian satwa langka yang cuma ada di Aceh Tamiang ini.
“Untuk mengatasi itu, maka diperlukan kerja sama setiap masyarakat agar menjaga keseimbangan alam yang menjadi habitat tuntong, mengingat tuntung laut merupakan maskot Kabupaten Aceh Tamiang yang tidak ditemukan di zona lain,” terang Irma. (dhs)










