Bahayanya Sebuah Puisi

Oleh: Jones Gultom

DI tengah persiapan menyambut Hari Puisi Nasional yang dirayakan se­tiap tanggal 28 April, Sukmawati Soekarnoputri justru harus mering­kuk dan berulang kali meminta maaf ke­pada publik. Puisinya berjudul “Ibu In­donesia” yang ia bacakan beberapa wak­tu lalu digugat sebagian umat Mus­lim. Pasalnya puisi itu dianggap mem­banding-bandingkan nasio­nalis­me (budaya) dengan ajaran agama Islam.

Tentu hal-hal semacam itu tidak ter­terima. Bagaimanapun indah­nya se­buah puisi, tidak bisa disejajarkan de­ngan ajaran agama. Mungkin bagi Sukmawati puisi hanya ungkapan hati (labil) namun bagi yang lain bisa saja bermakna beda.

Kasus puisi Sukmawati meng­ingat­kan kita dengan “Heboh Sastra” yang terjadi Medan pada tahun 1968. Kala itu Majalah Sastra edisi Agustus, me­nerbitkan cerpen berjudul “Langit Ma­kin Mendung” karya Kipanjikusmin. Cer­pen ini dianggap menghina Nabi Mu­ham­mad SAW sehingga membuat berang umat Islam. Majalah itu pun dilarang beredar oleh Kejak­saan Tinggi Medan.

Kipanjkusmin sendiri adalah nama sa­­maran. Nama sebenarnya hanya di­ketahui redaksi Majalah Sastra. Namun karena pihak redaksi Majalah Sastra menolak memberitahu nama Kipan­ji­kus­min yang sebenarnya, maka HB Jassin selaku pemimpin redaksi ma­jalah itu harus berhadapan dengan pe­ngadilan. Sementara, akibat desakan mas­sa, pada 22 Oktober 1968, Ki­pan­ji­kus­min akhirnya mencabut cer­pen itu  dan meng­anggapnya tidak per­nah ada.

Pengadilan terhadap HB Jassin sendiri berlangsung di Jakarta (1969-1970). HB Jassin bersikukuh pada prinsipnya bahwa cerpen itu adalah sebuah karya fiksi. Sebuah imajinasi penulisnya. Tidak ada niat sama sekali untuk mendis­kreditkan umat Islam. Karena bertahan dengan prinsipnya tidak mau membuka kedok si penulis cerpen, akhirnya HB Jassin pun dijatuhi hukuman penjara 1 tahun.

Cerpen “Langit Makin Mendung” sen­diri menggambar­kan kompleksitas sua­sana politik di Jakarta dan dunia di ta­hun 1960-an. Dalam cerpen itu di­sing­gung-singgung soal  “isme”-“isme” yang berkembang di masa itu. Tokoh utamanya adalah Muhammad yang dalam cerita disebut memohon izin kepada Tuhan untuk turun ke bumi demi melakukan riset. Ia pun me­lihat kompleksitas politik yang ter­jadi di Indonesia salah satunya sebagai campur tangan pihak-pihak asing.

Bagaimana dengan konteks puisi “Ibu Indonesia” karya Sukma­wati itu? Se­cara pribadi sulit melihatnya sebagai se­buah karya sastra yang patut dibela. Bagi saya puisi itu buruk. Baik dari es­tetika, makna maupun struktur penu­lisan.  Bila kemudian Sukmawati sem­pat menyangkal bahwa ia hanya mengu­sung nasionalisme keindo­nesiaan, bagi saya semangat itu pun tidak tampak. Sekedar hanya sampai pada kata.

Beda halnya misalnya dengan pui­si-puisi edisi celana yang ditulis Joko Pi­nurbo. Dalam beberapa puisi ten­tang itu“celana” itu ada yang berjudul “Celana Ibu” .

Puisi itu selengkapnya tertulis begini // Maria sangat sedih melihat anak­nya mati di kayu salib tanpa celana dan hanya berbalutkan sobekan jubah yang berlumuran darah/Ketika tiga hari kemudian, Yesus bangkit dari mati, pagi-pagi sekali Maria da­tang ke kuburan anaknya itu, memba­wa celana yang dijahitnya sendiri dan meminta Yesus mencoba­nya .....dst.

Sebagai seorang Katolik saya sama se­kali tidak tersinggung dengan puisi itu. Antara lain karena saya menikmati puisi itu sebagai sebuah karya seni yang memang unsur-unsur itu ada di da­lam puisinya itu. Puisi itupun tidak ke­­hilangan kandungan filsafat atas ce­rita yang “dipinjam”. Tidak pula mem­­­benturkan keduanya demi me­me­­­nuhi kebutuhan artifisial. Tidak pula me­nyuguhkan tafsir baru. Puisi itu murni sebagai ekspresi kreatif pe­nulis yang meminjam sebuah ter­mi­nologi tanpa harus mende­kons­truk­si­nya.

Beda hal dengan puisi “Ibu Indone­sia” yang semangat awal­nya sudah me­­­nyalahi, dimana puisi itu mem­per­ten­tangkan nasionalisme dan agama. Pertentangan itu memunculkan kesan yang mendiskreditkan ajaran tertentu dalam agama Islam. Misalnya kata-kata //aku tak tahu syariat Islam. Yang kutahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah. Lebih cantik dari cadar dirimu// Pertentangan inilah yang membuat puisi ini tampak ten­den­sius, vulgar dan tentu menyakit­kan bagi sekelompok masyarakat. Bah­­kan tidak hanya umat Islam, non Mus­­lim pun akan merasa terganggu de­ngan puisi itu. Ada beberapa ala­san­nya.

Pertama bahwa umat Islam di In­donesia adalah bagian dari Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika, bukan sekelompok masyarakat yang berten­ta­­ngan dengan prinsip itu. Kedua, bah­wa syariat Islam adalah bagian dari sejarah di Indonesia yang tidak bisa dipungkiri apalagi sampai tidak diketahui oleh orang sekelas Sukma­wati yang tak lain adalah putri Sang Prok­lamator, Soekarno. Ketiga, bah­wa ajaran agama meski tidak diprak­tik­kan secara universal pemeluk­nya, te­taplah harus  dihormati sebagai hak sekelompok masyarakat.

Narasi Puisi

Simbol-simbol dalam sebuah narasi khususnya puisi dapat terterima sebagai sesuatu yang estetik bila ia memberikan suasana yang lebih baik bagi pembacanya. Karenanya sering kita dengar pembaca puisi yang bergumam, “puisi ini sulit dimengerti, tapi enak dibaca” atau “puisi ini kata-katanya sederhana tapi dalam makna­nya” atau “puisi ini blak-blakan, tapi membekas di hati”. Begitulah selalu ada kata “tapi” ketika seseorang baru saja selesai membaca sebuah puisi. Itu­lah yang membuat puisi ini tidak men­jadi sekedar barisan kata-kata yang disusun sedemikian rupa.

Simbol-simbol dalam sebuah puisi pada dasarnya bersifat linear dengan kerangka dasar puisi itu sendiri. Sehingga tidak ada puisi yang benar-benar “gelap” sebagaimana juga tidak ada puisi yang “terang benderang”.

Lagipula, simbol-simbol itu pada dasarnya berusaha menjelaskan sebuah narasi. Dalam puisi, narasi merupakan pemadatan simbol dan perlambang sesuai dengan nilai yang diinginkan muncul oleh si penulis. Dengan kata lain simbol dan perlam­bang itu diarahkan pada suatu bentuk pengertian tertentu.

Narasi selalu mengikuti ruang pi­kiran, pencitraan, pengertian bahkan ima­jinasi manusia. Simbol maupun per­lambang ketika masuk dalam wi­layah narasi cenderung ambigu. Ke­nya­taan ini mengun­tungkan bagi wila­yah eksplorasi narasi sekaligus me­nyim­pan potensi yang membahaya­kan. Narasi menjadi tidak mandiri, ga­mang, penuh tanya dan intrik. Ke­nyataan itu mengakibatkan narasi ter­jebak pada keluasan wilayah yang dijelajahinya sendiri. Hal inilah yang membedakan Di sisi lain, narasi itu akan terus berkembang, melompati simbol-simbol sebelumnya. Pengertiannya bisa saja berbeda di setiap fase karena ditentukan oleh konteks zaman yang berlaku.

Dalam suatu masa, bukan tidak mungkin ia menjadi bias. Tetapi kabar baiknya, ragam tafsir ini justru memberikan kesempatan bagi masya­ra­kat untuk mengarungi ruang jelajah narasinya sendiri. ***

Penulis adalah pekerja seni, media dan budaya

()

Baca Juga

Rekomendasi