Oleh: Syafitri Tambunan
FASAD bangunan atau tampak luar bangunan berwarna-warni biasanya langsung memagnet visual mata. Perpaduan multiwarna yang apik dapat menjadikan suatu museum, yang dulunya dianggap tidak menarik, kini menjadi ikonik.
Museo de Arte Contemporáneo de Castilla y León (The MUSAC), salah satu museum dengan permainan warna yang atraktif. Bangunan ini merupakan museum seni kontemporer di Kota León, Spanyol, yang sudah dianugerahi berbagai penghargaan untuk arsitektur kontemporer karena gaya arsitektur avant garde-nya.
Bangunan yang dirancang tim The Architectural Studio of Luis M Mansilla and Emilio Tunon ini, memiliki panel warna-warni yang menghiasi eksteriornya, bak jendela-jendela kaca dari sebuah katedral. Arsiteknya, disebut-sebut terinspirasi dari The Rose Window bangunan Katedral Gothic abad ke-13, Santa María de León.
Untuk ukurannya, sebagai bangunan bertingkat tunggal dengan dinding beton putih dan kaca berwarna besar dilihat dari luar, MUSAC diusahakan menjadi ruang seni terasa nyaman dan membantu menghapus batas antara pribadi dan publik, antara kerja dan liburan, dan akhirnya antara seni dan kehidupan. Museum multiwarna ini menjadi ruang baru untuk budaya, dianggap sebagai sesuatu yang memisualisasikan hubungan antara manusia dan alam.
Berikutnya, Museum Brandhorst, di Münich Jerman, dengan skema yang terdiri dari bangunan memanjang sederhana dari tiga volume interkoneksi, yang dibedakan cladding warna-warna berbeda. Museum yang didesain arsitek Sauerbruch Hutton ini menyimpan koleksi pribadi akhir abad ke-20 dan seni kontemporer, kebanyakan lukisan. Aplikasi warna-warni di bangunannya memang menggunakan warna yang sangat rasional, yang umum di Jerman.
Perpaduan perumahan seni modern dan kontemporer juga menjadikan bangunan multiwarna sebagai ikonik daerahnya. Museum Groninger, yang selesai dibangun pada 1994 langsung menjadi perhatian masyarakat. Dibangun tim arsitek dikepalai Alessandro Mendini, museum ini terdiri dari tiga paviliun utama yang ketika disatukan menciptakan modernisasi radikal. Di dalamnya terdapat tangga spiral yang mencolok dengan perpaduan multiwarna yang artistik.
Koleksi porselen karya De Ploeg memiliki tempat khusus di museum. Eksposisi dan interaksi baru dengan para pengunjung memiliki prioritas tinggi di bangunan ini. Bangunan Museum Groninger merupakan pemandangan visual yang kuat dari bentuk, warna, dan material mencolok. Empat paviliun, dikelompokkan di sekitar menara kuning keemasan, menampung pameran koleksi museum itu sendiri. Di bangunan ini, semua jenis seni ditampilkan dalam struktur yang penuh warna dan menyenangkan.
Fasad warna-warni dari Museum Daerah Waterloo juga menarik dari sisi visual. Museum ini merupakan pintu masuk ke Doon Heritage Village, sebuah desa sejarah hidup yang indah, yang dibuka secara musiman mulai 1 Mei hingga 23 Desember. Berjalan kembali ke era 1914 memasuki bangunan bersejarah, pakaian masa itu, hewan ternak, dan menarik kegiatan untuk seluruh keluarga.
Ada pula Waterloo Region Museum yang merupakan museum komunitas terbesar di Ontario. Galeri utamanya, menceritakan kisah Waterloo Region dari 12.000 tahun yang lalu hingga kini. Selain itu, galeri fitur menampilkan pameran lokal dan pameran keliling dari seluruh dunia, serta pengalaman kisah-kisah yang menghubungkan komunitas tersebut.
The Museum of Pop Culture (MoPOP) atau Experience Music Project and Science Fiction Museum and Hall of Fame (EMP SFM) dan belakangan disebut EMP Museum, merupakan museum nirlaba yang didedikasikan untuk budaya populer kontemporer. Didirikan oleh Microsoft co-founder Paul Allen pada 2000 sebagai experience music project. Sejak saat itu MoPOP telah menyelenggarakan puluhan pameran, 17 di antaranya telah melakukan tur di seluruh AS dan internasional.
Sebuah bangunan seluas 140.000 kaki (13.000 m2), didesain Frank O Gehry, yang menampung beberapa galeri dan Gereja Langit, menampilkan layar LED paket hitam Barco C7, salah satu layar LED dalam ruangan terbesar di dunia. Bagian luar bangunan menampilkan perpaduan tekstur dan warna, termasuk emas, perak, merah tua, biru, dan kabut ungu berkilauan, yang dinyatakan sebagai representasi yang tepat dari pengalaman rock Amerika.
Indonesia juga memiliki museum dengan warna-warni yang atraktif. Novelis Andrea Hirata, pascalarisnya novel dan film Laskar Pelangi, tidak ingin berhenti dan kemudian langsung mendirikan Museum Kata Andrea Hirata sejak 2010 di Belitung. Museum Kata Andrea Hirata, bisa dibilang satu-satunya museum literatur pertama di Indonesia. Tujuan pembangunan museum ini untuk menginspirasi semua orang agar berani mewujudkan mimpi mereka, seperti yang dikisahkan dalam novel tersebut.
Wujud fisik museum yang berwarna-warni ini merupakan replika dari SD tempat Andrea Hirata kecil menuntut ilmu. Dari luar, konstruksinya layaknya rumah dan hunian bangunan sederhana. Namun, Andrea membuat warna-warni di berbagai sudut dan sisi, mulai dari pintu, tembok luar dan dalam, jendela, bahkan langit-langit. Museum ini langsung menjadi tujuan terbaik bagi wisatawan dari berbagai penjuru yang ke Bengkulu.










