Kopi, Si Hitam yang Dulu Haram

kopi-si-hitam-yang-dulu-haram

Dalam kopi, cokelat, teh, dan gula, orang menemukan teman, tapi juga bak “candu”. “Ketika gua ngopi, gua nemuin kenyamanan, ketenang­an.... Gua merasa zen ketika gua minum kopi, gua merasa lebih tenang, ibaratnya lu lagi meditasi,” kata Faris Izzi Hibaturrah­man. Dia sempat magang di “warung kopi” di Inggris, Two Gingers Coffee Shop, saat kuliah di University of Hull.

Makanya, tiga empat abad silam, para rohaniwan dan sebagian pengua­sa sempat menaruh syakwasangka melihat orang-orang mulai tergila-gila dengan kopi. Apalagi, saat banyak orang berkumpul di warung kopi, berde­bat dan membicarakan persoal­an di sekitar, termasuk urusan politik.

Dengan dalih warung kopi punya potensi menjadi sumber kebangkitan sekularisme, pada 1511, Gubernur Mekah, Khair Beg, memerintahkan menutup semua warung kopi di wila­yah­nya. Mereka yang tertangkap mi­num, apalagi menjual kopi, akan dihukum. Tapi, larangan itu dianulir Kaisar Ottoman, Sultan Salim I, atas rekomendasi Mufti Agung Mehmet Ebussuud al-Imadi.

Namun, tak berarti tiada lagi yang menentang warung kopi. Beberapa ulama curiga, kopi bisa memabukkan. Pada 1535, mereka mengusulkan agar minum kopi terlarang bagi umat muslim. Ada dua dokter di Persia menyokong usul pelarangan kopi ini. “Para pengkritik kopi menyamakan­nya dengan minum anggur. Alasan itulah yang selalu mereka pakai untuk melarang kopi,” kata Calestous Juma, profesor di Universitas Harvard, dikutip BusinessInsider.

Saat itu, abad ke-16, bahkan ber­tahun-tahun sebelumnya, kopi me­mang sudah menjadi minuman po­puler di jazirah Arab dan wilayah Imperium Ottoman. Pada 1587, Abdul Qadir al-Jaziri menulis artikel soal kopi bertajuk Umdat al safwa fi hill al qahwa. Menurutnya, ulama perta­ma di Semenanjung Arab yang men­cicipi kopi adalah Sheikh Jamaludin al-Dhabhani, mufti dari Aden, Ya­man, pada 1454. Kopi, kata Sheikh al-Dhabhani, berkhasiat mengusir lelah dan lesu.

Dari Yaman, al-Jaziri menelusuri, kopi menyebar ke Mekah dan Madi­nah, kemudian ke Kairo, Damaskus, hingga mencapai Konstantinopel, ibukota Kekaisaran Ottoman (kini Istanbul, Turki) pada pertengahan 1500-an. Johann Vesling, ahli tanam­an asal Jerman, menuliskan penga­laman­nya saat melawat ke Mesir pada awal 1600-an. Saat tiba di Kairo, dia terkesan melihat begitu banyaknya warung kopi di kota itu. Dia menak­sir, ada lebih dari seribu warung kopi di seantero Kairo.

“Tak hanya di Mesir kopi disukai banyak orang, tapi juga di provinsi-provinsi lain di wilayah Imperium Ottoman,” Vesling menulis, seperti dikutip William Harrison Ukers dalam bukunya, All About Coffee. Ukers men­duga, lewat wilayah Imperium Ottoman yang membentang dari jazirah Arab hingga Eropa Selatan, kopi menyeberang ke Eropa bagian selatan seperti Italia dan Prancis. M­akanya tak heran jika orang-orang Italia kenal kopi lebih dulu ketimbang orang-orang Inggris.

Penemuan setan

Konon, pada awal 1600-an, beberapa rohaniwan di lingkungan gereja mengu­sul­kan kepada Paus Clement VIII agar melarang umat Ka­tholik minum kopi. Para ro­haniwan ini beralasan, kopi merupakan penemuan setan. Namun Paus Clement tak se­gera mengabul­kan usul itu. Alih-alih mela­rang, dia ma­lah ingin menci­ci­pi kopi yang dianggap seba­gai minuman setan itu.

Sekali mencicipi kopi, Paus Clement malah terke­san dengan aroma dan rasa­nya yang sangat kuat. “Me­ngapa minuman setan ini begitu sedapnya? Sungguh sayang jika hanya orang-orang kafir yang menikma­ti­nya. Kita harus memperdaya setan dengan membaptiskan­nya dan menjadikannya mi­nu­man bagi umat Kristen,” kata Paus Clement, dikutip Ukers dalam bukunya.

Penguasa berganti, beru­bah pula sikapnya terhadap kopi. Sultan Murad IV yang menjadi penguasa Imperium Ottoman kurang lebih sea­bad setelah Sultan Salim I, dari 1623 hingga 1640, me­larang konsumsi tembakau, minuman beralkohol dan ko­pi. Dia menerapkan hukum­an sangat keras, bahkan hu­kuman mati, bagi siapa pun yang melanggarnya. Kabar­nya, demi menegakkan pe­rin­tahnya, kadang Sultan Mu­rad menyamar sebagai rakyat biasa untuk meman­tau pelaksanaan aturannya.

Gara-gara larangan Sang Sultan, para pedagang kopi di wilayah Kekaisaran Ottoman banyak yang lari ke Pran­cis, Italia, dan Austria. Satu demi satu warung kopi bermunculan di Inggris, Be­landa, hingga Prancis. Pas­qua Rosee, salah satu pem­bantu saudagar Inggris, Da­niel Edwards, membuka wa­rung kopi pertama di Corn­hill, London, Inggris, pada 1652. Sekitar 15 tahun ke­mu­dian, warung kopi perta­ma di Belanda dibuka di Den Haag.

Salah satu “warung kopi” tua yang masih bertahan sampai hari ini adalah Le Procope di Paris, Prancis. Kafe ini didirikan oleh Fran­cesco Procopio dei Coltelli, juru masak keturunan Italia, pada 1686. Le Procope, juga Cafe de Foy, segera menjadi tempat kongkow-kongkow yang asyik bagi para inte­lek­tual di Paris hingga ratusan tahun kemudian. Bahkan, di kafe inilah, Maximilien Ro­bespierre, Georges Danton, Jean Paul Marat, dan tokoh-tokoh pergerakan di Paris ber­diskusi dan berdebat hingga melahirkan Revolusi Prancis pada akhir 1700-an.

Di Inggris, hanya 10 ta­hun setelah Rosee membuka warung kopi di London, wa­rung-warung kopi lain ber­munculan hingga ada hampir 80 kafe di kota itu. Pada 1700, jumlah warung kopi di London sudah berlipat men­jadi 500 kafe.

“Minum kopi menjadi ke­ge­maran baru di antara pe­dagang-pedagang di Ing­gris,” kata Markman Ellis, penulis buku The Coffee House: A Cultural History.

Tapi kecurigaan terhadap kopi belum juga sirna. Pada 1674, muncul pamflet ber­tajuk The Women’s Petition Against Coffee. Tak jelas benar siapa penulis pamflet ini, apakah benar dia seorang perempuan dan apakah isi pamflet itu mewakili suara pe­rempuan-perempuan di Inggris. Yang pasti, sebagian besar isi pamflet itu menulis soal dampak buruk dari mi­num kopi. Salah satunya ko­non menyebabkan impotensi pada laki-laki.

Setahun setelah pamflet itu, pada 29 Desember 1675, Raja Inggris Charles II me­merintahkan penutupan se­mua warung kopi. Dia me­nitahkan pemberangusan wa­rung kopi setelah ditemu­k­an puisi yang meramalkan kejatuhannya di salah satu kafe. Namun perintah itu ha­nya bertahan dua pekan. Se­telah mendapatkan tekanan dari banyak pihak, Raja Charles II menarik kembali perintahnya.

“Aku menduga, dia teri­ngat dengan nasib ayahnya yang mati dipenggal...Dia kha­watir memicu lagi ba­nyak masalah,” ujar Mark Pendergrast, penulis buku Uncommon Grounds: The History of Coffee and How It Transformed Our World, dikutip NPR.

Pada 1649, Raja Charles I dihukum mati lantaran ditu­duh telah berkhianat. Hari ini, tiga setengah abad kemudian, minat kopi tak pernah mati, justru makin digemari. (Syailendra Hafiz/dtc)

()

Baca Juga

Rekomendasi