Memaknai Kembali Arti Kebebasan

memaknai-kembali-arti-kebebasan

Oleh: M. Fakhruddin Al-Razi

MASIH banyak orang-orang yang memaknai kebebasan sebagai sesuatu yang negatif. Dikonotasikan dengan cara hidup layaknya di hutan yang teramat bebas, seks bebas, egosentris dan hal-hal buruk lainnya. Seolah-olah manusia hidup liar dan berhak melakukan apa saja semaunya. Dengan kata lain, kebebasan disamakan dengan keliaran. Bebas adalah liar, begitu kira-kira singkatnya.

Dilihat lagi, kebebasan dalam bahasa lain biasa dikenal dengan kata freedom, asal katanya sudah tentu free. Free arti­nya bebas. Sebenarnya, respon apa yang akan muncul ketika orang melihat label free pada sebuah produk jualan? Sudah tentu mereka akan gembira dan berbinar-binar sebab akan mendapat sesuatu secara cuma-cuma kan. Selain bebas free juga memiliki makna gratis. Nah, sampai di sini, masihkah ada unsur negatif di balik konsep kebebasan? Bebas itu freedom, asal katanya free, free artinya bebas atau gratis. Jadi sudah senyatanya kebebasan tidak perlu dimaknai yang tidak-tidak.

Secara naluriah pun kebebasan adalah unsur alamiah dari makhluk hidup. Mereka, juga kita sebagai manusia, memiliki pikiran dan perasaan yang sudah tentu akan digunakan untuk memilih apa yang diinginkan, apa yang menjadi kemauan. Berhak memilih bagi diri sendiri adalah dasar dari kebebasan. Kalau makhluk, lebih-lebih manusia sudah mempunyai otak sebagai sarana berpikir dan organ tubuh yang akan digunakan untuk ber­gerak maka sudah tentu mereka diberi kebebasan untuk memilih apa yang akan mereka lakukan. Berbeda dengan batu yang tidak bisa bergerak dan tidak bisa memilih di mana mereka akan terlempar, bagaimana mereka akan hancur sebab mereka adalah makhluk tak hidup (mati).

Kebebasan itu manusiawi, dan alami. Ketika makhluk punya otak dan bisa berpikir, di sanalah sudah pasti ada ke­­bebasan. Lihat saja ketika kita masih kecil dan tidak tahu apa, maka wajar saja apa-apa akan dipilihkan oleh orang tua. Makan dipilihkan, pakaian dipilihkan, apapun dipilihkan sebab pada masa anak-anak pikiran manusia tidak bisa difungsikan dengan maksimal dan lagi mereka tidak begitu mengetahui dunia luas yang kelak akan menjadi pilihannya. Tapi lambat laun ketika beranjak dewasa manusia dengan sendirinya akan memilih dunia­nya sendiri.

Kebebasan, bagaimanapun sudah pasti akan menuntut privasi. Dalam artian selain orang lain tidak boleh ikut-ikut dalam pilihan seseorang, individu yang memi­lih juga harus dengan sepenuh hati me­nanggung konsekuensi atas pilihannya. Tidak mungkin aku yang memilih dan kamu yang tanggung jawab. Adalah sesuatu yang wajar bila kebebasan dikaitkan dengan individualisme. Tapi tidak selamanya individualisme itu buruk.

Selama ini, kebebasan dan individu­lisme seringkali disangkutpautkan de­ngan budaya Eropa, ke barat-baratan, yang parahnya, kerap dibanding-ban­dingkan dengan budaya timur yang notabene sarat dengan aturan-aturan kea­gamaan. Di Indonesia sendiri, yang secara akar historis menjadi sebuah “la­han” dari budaya timur, kebebasan dan individualisme selalu menjadi permasalahan. Dengan anggapan bahwa in­di­vidualisme tidak sesuai dengan karakter masyarakat Indonesia yang kolektivis, bersifat gotong royong dan penuh akan so­lidaritas kekeluargaan. Oleh karena­nya, kebebasan masih mendapat tekanan dan lika-liku ketidaksetujuan.

Kita lihat lagi bagaimana kolektivisme dan yang katanya kepentingan ke­lompok itu kerap kali memaksakan kehendak pribadi terhadap orang lain. Akan muncul orang-orang yang mengatasnamakan kepentingan umum atau kepen­tingan ko­lektif yang bahkan akan dengan mudahnya membawa-bawa label agama untuk membuat orang lain tunduk. Selama ini orang-orang lebih mengkhawatirkan akan ada banyak dari anggota ma­syarakat yang menjadi individualistik dan abai akan kebersamaan. Karena itu mereka menolak kebebasan. Tapi yang justru lebih patut dikhawatirkan dari kolekti­visme ini ada­lah akan ada banyak orang yang memanfaat kepentingan kelompok untuk menekan orang-orang agar kepen­tingan pri­badinya tercapai. Kalau sudah seperti ini, kebersamaan, gotong royong, atau segala hal yang ada dalam budaya kolektif tak lebih hanya sebuah selubung yang pada hakikatnya adalah kapitalisme. Hanya menguntungkan segelintir orang saja.

Segala hal memang ada plus dan minusnya. Begitupun kebebasan memang akan membawa masyarakat ke dalam sikap-sikap individualistik. Tapi di sisi lain, yang selama ini dianggap sebagai ke­pentingan umum itu, bisa jadi ha­nyalah kepentingan segelintir orang yang ber­kuasa saja. Cuman mung­kin masih banyak yang belum menyadarinya. Sebab untuk bisa dikatakan sebagai “kepenti­ngan umum” itu harus melalui sejumlah prosedur yang cukup kompleks yang biasa kita kenal dengan prosedur demokra­tis. Di mana harus ada beberapa orang yang berkelompok dan memutuskannya secara matang, tidak serta-merta jadi.

Seperti yang diungkapkan tadi, bahwa kebebasan menuntut privasi yang memang bisa berujung individualisme. Kita tidak bisa terus-menerus memandang kebebasan sebagai sebuah propaganda negara barat agar umat manusia menjadi individualistik dan tidak mempedulikan orang lain sampai-sampai harus memaksakan diri untuk kolektif. Kebersamaan memang penting, tapi menghormati individu sebagai diri yang otonom dan berhak memilih untuk dirinya sendiri juga tak kalah pentingnya.

Sekilas memang akan muncul kekhawatiran bahwa ketika seseorang dibebaskan memilih mereka akan salah dalam melakukan pilihan. Perlu diingat lagi, hasrat untuk bebas itu alamiah dan pasti akan muncul seiring semakin dewasanya seseorang. Bila kita terus saja takut kalau-kalau dalam memilih bisa salah, kapan kita akan berkembang? Kesalahan adalah pro­ses menuju pendewasaan. Kita juga harus optimis bahwa manusia mampu melakukan pilihan yang benar untuk dirinya. Bila jalan hidup kita terus saja dipilihkan maka kapan kita berkembang, toh yang tahu mana yang dibutuhkan dan tidak itu hanya kita sendiri sebagai individu, bukan orang lain.

Bila kebebasan dalam skala individu saja sudah merupakan proses yang alamiah maka bila diperluas dalam skala masyarakat sebagai kumpulan dari ba­nyak individu hal itu akan jadi sama saja. Bahwa masyarakat kelak akan memilih sendiri apa yang yang menjadi pilihannya. Semakin dewasa dan modern suatu masyarakat, maka mereka akan sadar betapa kebebasan adalah sebuah keniscayaan.

Indivisualime adalah konsekuensi yang tidak perlu terlalu dikhawatirkan. Tak perlu lagi mempertentangkan apakah ini buda­ya barat atau budaya timur. Semua ada­lah bagian dari sebuah proses. Masyarakat individualis bukan berarti mereka tak peduli pada orang lain dan hanya mementingkan pribadinya saja. Tapi mereka sadar betapa menghargai kemandirian dan pilihan orang lain adalah kemaslahatan bersama. Toh, rasa kemanusiaan seperti to­long-menolong dan peduli dengan sesama juga merupakan kecenderungan manusiawi yang tidak mungkin hilang dari diri manusia. Kita juga tidak bisa menampik sebuah kenyataan bahwa masing-masing orang akan melihat dunia dengan sudut pandangnya sendiri. Maka sedikit me­minjam ungkapan Rizal Ma­llarangeng, individualis­me bukanlah sebuah paham, melainkan sebuah kenyataan.

Kita juga perlu ingat, bahwa manusia tidak akan bisa hidup bebas sebebas-bebasnya. Kebebasan individu dengan sendirinya akan dibatasi oleh kebebasan dan hak-hak individu lain. Oleh karena itu, kebebasan manusia berbeda dengan kebebasan hewan. Kebebasan manusia tidaklah liar seperti yang banyak dipersepsikan. Tapi kebebasan itu adalah kebebasan yang luhur dan disertai de­ngan tanggung jawab. Berani berbuat juga harus berani terima resiko. ***

Penulis, Mahasiswa UIN Maliki Malang Alumni PP. Nurul Jadid asal Madura.

()

Baca Juga

Rekomendasi