Dua Wajah Salman

dua-wajah-salman

BELUM usai kasus Jamal Khashoggi, seorang wartawan AS keturunan Arab Saudi yang tewas dibunuh agen-agen pe­­merintah Riyadh, negeri pengekspor minyak terbesar du­nia itu kini kembali mendapat sorotan tajam terkait de­ngan penangkapan dan penyiksaan aktivis-aktivis de­mo­krasi. Kasus pelanggaran HAM terbaru ini menambah pan­jang ‘daftar dosa’ Pangeran Mohammed bin Salman (MBS), putra mahkota Arab Saudi yang kini menjalankan pe­me­rin­ta­han negeri itu. Kasus Khashoggi, yang awalnya diduga sebagai prahara kejatuhan MBS, ternyata tidak terjadi. MBS tetap atau bahkan semakin kuat. ‘Selamat’ dari kasus Khashoggi sebaliknya telah membuat MBS semakin berani ber­tindak karena merasa tak tersentuh.

Bagi masyarakat dunia yang saat ini hidup di era de­mokrasi, ke­setaraan dan keterbukaan, sulit untuk mem­ba­yangkan ka­sus Khashoggi masih bisa terjadi. Seorang war­tawan, yang kebetulan kritis atas kebijakan-kebijakan pe­­merintah, ditangkap di kedutaan besar negaranya sendiri, dibunuh dengan keji oleh agen-agen pemerintah di gedung kedubes itu dan jenazahnya dilelehkan dengan zat kimia khusus lalu dibuang di satu tempat. Pembunuhan diduga diperintahkan oleh penguasa tertinggi Arab Saudi, meski MBS menyangkal keras keterlibatannya. Kekejaman ini melayangkan ingatan dunia pada era kediktatoran di masa lalu, bu­kan masa kini. Dan kekejaman yang serupa ternyata tak berhenti di situ. Belum usai dunia menanti dan (mung­kin) berharap adanya hukuman atas kekejaman ini, dunia justru dikejutkan oleh berita-berita tentang aksi pe­nangkapan dan penyiksaan terhadap para aktivis de­mo­krasi, atau mungkin sekedar ‘mereka yang berseberangan pendapat’ dengan MBS yang dilakukan aparat Arab Saudi.

Perhatian utama tertuju pada: Loujain al-Hathloul, aktivis hak-hak wanita Arab Saudi. Berbeda dengan Khashoggi yang me­mang kritikus politik, Loujain adalah aktivis yang ‘hanya’ me­nuntut penghapusan pembatasan terhadap hak-hak wanita di Arab Saudi, jauh dari isu-isu pergantian kepeminpinan se­­perti kritik-kritik model Khashoggi. Yang paling lantang di­s­e­rukan Loujain adalah hanya: wanita Arab Saudi harus diizinkan mengemudi kendaraan sendiri dan keharusan wanita Arab Saudi didampingi pria yang muh­rimnya saat keluar rumah di­cabut. ‘Kesalahan’ Loujain hanya ia membandel: ia beberapa kali ditangkap karena me­­­nge­mudi sendirian di Arab Saudi, ke­salahan yang se­benarnya bukan pelanggaran besar karena ia mengemudi dari Uni Emirat Arab (UEA) dan ia memiliki SIM UAE. Pada Juni 2018, akhirnya Arab Saudi mengizinkan wanita un­­tuk mengemudi di negara itu. Aktivitas politiknya baru terlihat saat ia bersama 14.000 orang lainnya menandatangi petisi me­­minta MBS untuk mencabut UU yang mewajibkan wa­nita Arab Saudi didampingi pria yang muhrimnya saat keluar rumah.

Meski menuntut hal yang ‘sederhana’, Loujain oleh apa­rat Arab Saudi dianggap sebagai aktivis politik yang ber­bahaya hanya karena menandatangi sebuah petisi ter­hadap MBS. Ia didakwa dengan tuduhan mengganggu sta­blitas negara serta ‘meragukan agenda kepemimpinan MBS’. Bila saat ditahan karena mengemudi sendiri, ia hanya disekap 78 hari dan dilepaskan, tapi pasca penandatangan petisi, ia dan suaminya, Fahad Albutairi, dijemput paksa. Sama seperti Khashoggi, mereka berdua justru diciduk saat berada di luar ne­geri. Loujain ditangkap saat berada di UEA dan Fahad saat berada di Jordania, kedua ditahan dengan diborgol, tertutup mata dan diterbangkan dengan pesawat khusus pada Mei 2018. Ia ditahan berasama ratusan, mungkin ribuan, aktivis Arab Saudi lainnya. Dan hingga saat ini keberadaaan dan kondisinya tidak diketahui. Hanya sedikit informasi yang diperoleh dari orang tuanya bahwa Loujain berada di sel khusus dan mendapat penyiksaan yang rutin, sebagaimana para aktivis politik Arab Saudi lainnya.

Berita terkait Loujain ini kembali menguak bagaimana perlakuan yang diterapkan pemerintah MBS terhadap para aktivis demokrasi atau mereka-mereka yang berseberangan pemikiran dengannya. Ini sungguh mengagetkan dunia. Ketika pertama kali diserahi wewenang memimpin negara itu, karena Raja Salman yang lanjut usia, MBS tampil dengan semangat demokrasi. Ia dilihat sebagai pembaharu di kerajaan yang sangat konservatif tersebut. Di awal kepemimpinannya, ia mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang reformis, termasuk mengizinkan wanita mengemudi itu. Tapi sayang, MBS melanjutkan tradisi kepemimpinan Arab Saudi sebelumnya: tidak memberi ruang bagi demokrasi. MBS yang pada dasarnya tidak keberataan bahkan mendukung pembaharuan di Arab Saudi, memberangus demokrasi Arab Saudi hanya karena alasan sederhana: tak se-ide dengannya. MBS mengizinkan penyiksaan aktivis bahkan hanya karena menuntut wa­nita bisa berjalan di tempat umum tanpa pendamping.

()

Baca Juga

Rekomendasi