Filosofi Nilai Kehambaan

filosofi-nilai-kehambaan

Oleh: Dr. H. M. Syukri Albani Nasution MA.

SERING manusia lupa tujuan dasar kehidupannya. Sehingga perjalanan hidup disikapi dengan sangat materialistik an sich. Meskipun tak dapat dipungkiri bahwa taka da orang yang bias hidup nyaman kalua tak sejahtera kehidupan dunia-nya, namun bukan berarti tujuan dasar manusia secara tawhid terabaikan.

Dalam Alquran Surah Ad Dzariyat ayat 56 Allah Menegaskan “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia me­lainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”. Secara konsptual, berarti perja­lanan hidup ini tiak boleh lepas dari prilaku “kehambaann”. Mungkin kesannya sederhana, menyimbolkan kehambaan itu pada hal yang ritualistic saja, sehingga kita kita sudah melaksanakan semua ibadah ritual, maka tuntaslah peran kehambaan dihadapan Allah SWT.

Logika inilah yang harus kita perbaiki sehingga kesan dikotomi antara peran kehambaan yang rituliastik itu ber-efek pada kehidupan social. Menerjer­mah­­kan kehambaan tidak sebatas “mas­jid dan sajadah” saja, tapi menjadi­kan interaksi social sebagai sarana aplikasi-nya.

Meminjam istilah Imam Al Ghazali dalam Kitab Minhaajul ‘Abidiin, di bab pembuka bahwa orang yang be­ribadah harus juga mengikut sertakan ruhaninya sehingga hubuangan ketaatan antara jasmani dan ruhani terwujud.

Maksudnya, kita tidak akan pernah merasa kehilangan (missing) antara taat pada salat dengan kebiasaan berbohong, marah, sombong, menghina dan sejenisnya. Bahwa sikap kepribadian harus terbentuk ketika kita taat. Kesimpulan ini adalah energy dari Alquran Surah Al Ankabut ayat 45 “se­sung­guh­nya Shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar”. Para mufassir condong menggolongkan keji itu pa­da aspek horizontal (hubungan baik pa­da sesame makhluk) dan mungkar itu pada aspek vertical (kesengajaan ingkar pada Allah).

Hakikat Nilai Kehambaan

Garis besar peran manusia itu terikat dengan dua dimensi, pertama menjadi Abid (hamba yang tunduk), dan kedua menjadi khalifah (pemimpin) sesuai dengan Alquran Surah Albaqarah ayat 30 “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi".

Mereka berkata: "Me­ngapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan mem­buat kerusakan padanya dan me­numpahkan darah, padahal kami se­nantiasa bertasbih dengan memuji Eng­kau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".. sa­ngat menarik penutup ayat ini, Allah me­nyebutkan hak AbsolutNya tentang ha­kikat pengetahuan. Sehingga kita pa­­tut bersyukur Allah memberi jaminan akan keberhasilan kita sebagai Khalifah.

Secara konseptual, kita harus mampu men-sejalankan peran kehambaan dan ke-khalifahan secara synergic. Hal ini yang perlu pembalajaran kuat. Se­tidaknya keseriusan kita mencari kesejahteraan di dunia ini tidak menggilas potensi kehambaan kita, sehingga pesan materialistic tidak berbekas dalam setiap gerak, dalam banyak Ayat Alquran Allah memberi penegasan bahwa Rezki itu Hak Absolut-Nya (Watardzuqu man-tasyaa’u bighairi hisaab) sehingga, kita tidak boleh berhenti memahami rezki Allah itu pada hal yang materilistik keduniaan saja. Dengan cara inilah manusia yang tawhidi itu akan terlihat kuat karena sandarannya bukan dunia, tapi keridha-an Allah dalam setiap langkah. Indikator Ridha Allah itu terletak pada ke-istiqamahan berbuat baik, taat dan menjauhi keingkaran. “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman ke­pada Allah...” Qs Ali Imran ayat 110.

Strategi dan Tujuan

Keberhasilan manusia mengabdi itu akan terwujud pada totalitas ketundukan dan pengabdiannya kepada Allah. Tidak boleh serakah dengan tujuan, melihat kasih sayang Allah hanya pada harta keduniaan saja, sehingga semua proses dan nikmat ketaatan hilang dari semua tujuan.

Untuk sampai pada tujuan itu, pertama perlu meluruskan niat kembali, bahwa semua aktivitas dunia kita, bekerja, belajar, berusaha tidak boleh hilang dari harap yang tinggi kepada Allah, bukan hanya pada harap tentang hasil yang banyak, tapi juga harap pada perlindungan Allah Swt. Rezki itu bukan hanya ketika dapat uang banyak, tapi selamat sampai tujuan pun rezki yang mahal harganya.

Kedua, mari belajar membenci ingkar kepada Allah. Filosofinya bukan hanya menghindari, karena menghindar belum tentu benci, tapi membencilah, minta agar Allah beri kekuatan untuk membenci dosa, karena orang yang membenci dosa harusnya isti­qo­mah pada kebaikan dan “jijik” pada do­sa. Outputnya adalah keteladanan. Ka­­rena kita butuh orang baik dan diteladani.

Ketiga, kita harus mampu meng-up­grade orientasi keduniaan. Berupaya se­kuat tenaga bahwa sebesar apapun ke­butuhan pada harta dunia, tapi poten­si ketundukan tidak boleh lepas, bukan hanya mencari rezki yang banyak, tapi juga harus yang halal, yang man­faat dan berharap keberkahan. Tidak hanya focus pada usaha dunianya, tpi juga tak boleh melepas rezki kebersaman pa­da keluarga, jiran dan saudara. Se­hing­ga semua menjadi rezki, bukan hanya yang banyak tapi juga yang ada dise­keliling kita.

Keempat, share dunia berbasis akhirat. Usahamu adalah doa, dan doamu adalah usaha. Jadi semua pekerjaan bertenaga. Tenaganya bukan hanya di bumi, tapi juga di langit. Meleburkan hasil bukan hanya pada angka, tapi sudah mengikut sertakan keridhaan Allah, rasa nikmat, sukarela, sukacita dan optimisme.

Kegelisahan itu bukan hanya pada kurangnya jumlah, tapi gelisah karena sudah mulai sedikitnya taat dan pengabdian.

Khawatir itu bukan hanya pada tidak kabulnya doa, tapi khawatir kalau kehilangan percaya pada kekuatan doa.

Kelima, tujuan akhirnya adalah tenang “yaa ayyatuhannafsul muthmainnah…”, bahkan sampai kematianpun Allah memanggil jiwa jiwa yang tenang. Tenang itu tidak identic dengan kekayaan, tapi orang yang merasa kaya harus mampu tenang. Tenang itu melepas ketergantungan pada sekat dunia. Silahkan miliki dunia itu, tapi belajarlah tidak bergantung padanya. Tenang itu kalau kita tidak sia-sia pada waktu, karena orang yang bertawhid akan memilih ketaatan sebagai hiburan dan kegemarannya.

Lisannya kosong dari upatan dan kesombongan karena lisannya sudah terpaut dengan pujian dan dzikrullah. Ucapan baik itu dzkirullah, mengajak orang berbuat baik itu dzikrullah, berbicara optimis itu dzikrullah dan smua hal baik yang keluar dari lisan kita akan menjadi dzikrullah.

Keenam, geser makana hasil itu pada ketaatan. Kalau kita bahagia mendapat uang banyak, maka tak sempurna kebahagiaan itu kalau ada shalat yang tinggal, ada kejahatan yang kita buat, ada ketidakharmonisan yang kita sengaja. Minta kepada Allah agar dipandu pada ketaatan yang paripurna.. ketaatan yang penuh rasa tunduk, ketaatan yang memberi hikmah dalam setiap keadaan sehingga muncul energy baru, bahwa berhasil itu bertemunya hajat dunia dengan taat kepada Allah Swt.

Ketujuh, tawakkallah, bukan pasrah. Orang pasrah cenderung berhenti berharap pada Allah. Menghakimi nasib dan memposisikan Allah sebagai Tuhan yang “sedikit kejam”. Orang tawakkal itu akan memindahkan perjuangan nasibnya dari bumi menuju langit. Dan atas izin Allah, langkah tidak akan pernah berhenti di dunia sebab semua gerak akan memberi hasil. Allah akan meluaskan cara melihat rezki bukan hanya pada jumlah, tapi kapada kekuatan menerima keadaan.

Semoga apapun tujuan dan harapan yang kita niatkan menjadi kebaikan di sisi Allah Swt. Wallahu a’lam

Penulis: Sekretaris Umum MUI

Kota Medan

()

Baca Juga

Rekomendasi