Oleh: J Anto
DENDAM sempat singgah, meski sekelebat, di hati bocah laki-laki itu. Lumban Nabolon, Porsea, pada 1980-an hanyalah sebuah huta seperti umumnya kampung di pinggiran Danau Toba. Malam hari orang-orang lebih memilih berdiam di rumah. Kaum perempuan meringkuk dibalut selimut dan syal di leher.
Sementara kaum laki-laki membungkus diri dengan jaket dan topi wol sembari mengisap sigaret. Sebagian berkumpul di lapo tuak, kombur, ada juga yang bernyanyi sembari memetik gitar.
Di luar rumah, hanya kegelapan yang menyergap dan sepi yang memagut. Sampai era 1990-an, keadaan tak banyak berubah. Akses transportasi dari Jembatan Porsea menuju ke desa-desa klan marga Batak di hulu Sungai Asahan yang mendapat aliran air Danau Toba, masih mengandalkan becak dayung. Desa-desa marga itu berkelompok, dikelilingi areal persawahan subur.
Seperti impian anak-anak kampung lainnya, musim liburan sekolah adalah saat yang dinanti. Saat untuk melancong ke kota, menjenguk suasana lain. Medan adalah impian anak-anak dari kota kecil penghasil ombus-ombus dan tipa-tipa itu. Torang Sitorus, salah satunya.
Namun impiannya itu kandas. Ayah dan ibunya justru membawa keenam anak mereka pesiar mengelilingi Pulau Samosir. Mengunjungi sanak kerabat. Menginap berhari di rumah-rumah panggung yang bagian kolongnya digunakan untuk kandang ternak.
“Pulangnya, kulit tangan bentol-bentol merah. Malu saat kembali masuk sekolah,” tutur Torang Sitorus sembari tertawa terbahak. Ia ditemui sore hari di rumahnya di Kompleks Royal Sumatra, Cluster Topaz, Senin (18/11). Sebuah patung mejan dan hombung, peti orang Batak untuk menyimpan barang-barang berharga, menyambut setiap tamu saat hendak masuk ke dalam rumah.
Di ruang tamu, Torang Sitorus langsung memerlihatkan selembar ulos biru yang disebutnya ulos tumtuman. Usia wastra Batak itu diklaim telah lebihseratus tahun. Di rumahnya, ulos tumtuman hanya satu dari ribuan ulos klasik yang dikoleksi, dirawat, dan diperlakukan bak orang yang disayangi. Sudah dua dekade lebih ia mengoleksi ulos-ulos itu.
“Ulos harus disayang, caranya beri udara segar yang cukup di siang sampai sore, dan hawa sejuk AC pada malam. Ulos juga harus disimpan dengan cara digulung dengan kertas khusus bebas asam.
Benang Hidup Kembali
Cukup? Ternyata belum. Menjaga marwah ulos, apalagi ulos kuno, juga harus dicuci dengan cairan alami yang khusus dipesan dari museum wastra di Jakarta. Pencucian ulos bagian dari proses treatment. Tujuannya agar benang-benang ulos yang puluhan tahun tak terjamah air, berubah segar dan “hidup kembali”.
Layaknya barang yang sekian lama dimandikan, setelah bersih, ulos harus dijemur. Namun syaratnya, tak boleh langsung kena sinar matahari. Cukup dianginkan sampai kering. Setelah itu disetrika dengan derajat panas paling tinggi.
Ritual pencucian dan pengeringan ulos kuno ini dilakukan 2 pekan atau 20 hari sekali. Itu dilakukan bergiliran.
Tamu yang bertandang ke Rumah Torang Sitorus, memang harus bersiap seolah turis yang tengah berkunjung ke sebuah mansion. Di ruang tamu terdapat rak kain. Tempat memajang beberapa koleksi ulos klasik yang telah berhasil direplikasi para penenun ulos mitranya.
Ada ulos tumtuman yang lagi booming. Ini jenis ulos yang dalam 5 tahun terakhir popular di kalangan perempuan Batak. Ulos ini banyak dijadikan kain sarung mengganti kain songket palembang.
Di ruang itu ada juga beberapa barang antik yang pernah digunakan masyarakat Batak sebelum era modernisasi dan kristenisasi datang. Ada losung (tempat menyimpan air), panel gorga segitiga seperti biasa terdapat pada rumah bolon buatan 1930, patung-patung, dsb.
Lalu ada ruang perpustakaan mini, isinya puluhan buku tentang wastra, kebudayaan, dan arsitektur. Kebanyakan buku itu ditulis dalam bahasa Inggris. Ada juga ruang kerja Torang, berupa meja panjang. Di atas meja bertumpuk ulos klasik yang telah diberi nomor seri seperti ragi hotang, i uluan, sibolang, heteran, harangan, lobu-lobu (kain gendong), dsb.
Ada juga ruang khusus untuk penyimpanan ulos. Menurut Torang Sitorus, ulos akan merasa senang jika disimpan dengan cara digulung dilapisi kertas bebas asam. Sekilas, kertas bebas asam itu mirip kertas roti. Karena bebas asam, maka ulos tak mudah berjamur dan busuk, juga berbau.
Ruangan penyimpanan itu juga diberi fasilitas AC. Fungsinya untuk memberi oksigen baru bagi ulos. Di ruang itu ada juga beberapa koleksi tongkat raja Batak. Tongkat kuno, warisan ompung-nya. Konon harga satu tongkat mencapai ratusan juta rupiah. Tongkat-tongkat sering jadi asesoris saat ia menggelar pameran ulos.
Naik ke lantai 2, ada sebuah ruang terbuka. Ruang itu dinamakan ruang treatment ulos. Di ruang itu ulos-ulos yang telah dicuci dengan cairan khusus, dijemur, atau lebih tepatnya dianginkan sebelum disetrika. Setelah melalui proses treatment, ulos lalu diturunkan dan disimpan di ruang penyimpanan.
Setiap jengkal di rumah berukuran 600 m2 itu seolah memang dihuni oleh ulos. Bagi Torang, empat huruf yang menjadi penanda produk budaya material orang Batak itu, seolah memang terbaca “soul”.
Sepenuh Hati
“Mengoleksi ulos itu harus penuh cinta, harus sepenuh hati,”katanya. Tak terdengar lagi sisa-sisa dendam masa kecil karena dulu tak dibawa melancong ke kota. Perjalanan mengelilingi Danau Toba, tinggal di rumah kerabat di kampung-kampung Toba, kini ia pahami sebagai ziarah budaya.
Sebuah investasi budaya yang menjadikannya kini dikenal sebagai kolektor ulos batak terkemuka, sekaligus desainer ulos papan atas. Torang tak memungkiri besarnya peran ibunya, perempuan yang tekun menenun rasa cintanya terhadap ulos semenjak kecil. Meski begitu, perjalanan orang menemukan kembali rumah budayanya bersifat personal.
Semuanya bermula saat ia berusia 19 tahun, tatkala ia tengah berlibur di Bali, ia mengaku memeroleh pencerahan. Aneka wastra nusantara diburu-buru turis asing. Mereka tak segan mengeluarkan ratusan dolar demi mendapatkan wastra-wastra tradisional yang dianggap masterpiece zamannya. Tak terkecuali ulos.
Semua itu memantik ingatannya akan ratusan ulos koleksi orang tuanya, terutama yang dikumpulkan ibunya dari kampung ke kampung. Di Lumban Nabolon, ibunya memiliki usaha katering untuk pesta adat pernikahan dan kematian. Ibunya juga dikenal sebagai bidan pengantin.
Tugas utamanya menyiapkan segala keperluan adat saat pernikahan. Ulos adalah elemen penting pada pesta-pesta adat itu. Ingatan Torang juga berlabuh pada ompung si Tanto. Kakek dari pihak ayahnya. Seorang Raja Pangulu, tokoh yang berperan penting pada upacara-upacara adat di kampungnya. Itu artinya juga berhubungan dengan ulos.
Torang seolah baru terbangun dari tidur panjangnya. Keluarganya punya peninggalan “harta karun”. Sebuah panggilan budaya menarik-nariknya. Ia ingin memopulerkan ulos di kalangan pencinta wastra nasional dan internasional. Namun ia juga tak mau munafik. Ia telah belajar dari pariwisata Bali. Nilai ekonomi ulos juga mesti terkerek.
Sebuah karya masterpiece, harus setara nilai ekonominya dengan lukisan seniman ternama. Penenun juga seniman. Menenun ulos merupakan kerja seni yang rumit. Ia memberi contoh menenun ulos ragi harangan. Saat menghani, penenun harus berkali mengganti benang. Saat benang diganti, penenun tidak bisa melihat hasil sementara motif tenunan karena benang yang dipintal dalam gulungan panjang. Jadi penenun tidak bisa melihat hasil motif tenun sampai ia selesai menenun.
Hal ini berbeda dengan tenun daerah lain. Contoh tenun Sumatra Barat, penenun sudah menggambar motif yang mau ditenun. Tak heran jika hasil tenunan ragi harangan bisa rapi, bisa juga tidak. Tergantung ketrampilan penenunnya.
Ia lalu pergi ke Jakarta, giat memperkenalkan ulos asal Batak Toba lewat berbagai acara fashion maupun seminar, di Indonesia juga mancanegara. Ia menerapkan salah satu pesan mendiang ayahnya, Marinus Sitorus.
“Aku harus berada di mana aku bisa tumbuh dan bisa jadi besar. Jadi pertama kali ke Jakarta, yang pertama aku cari museum kain supaya mendukung kerjaku,” tutur Torang. Di museum itulah perlahan ia berkenalan dengan komunitas pencinta kain. Mereka bukan sekadar pencinta kain, tapi juga kolektor. Latar belakang ptofesi mereka mulai pengusaha kakap, pejabat, desainer sampai artis.
Ia juga aktif mem-posting koleksi ulos-ulos klasiknya di akun media social. Tak sedikit kolektor dan pencinta kain yang kaget. Selama ini ada persepsi dominan bahwa ulos itu warnanya merah, kainnya kasar, dan jika terkena kulit punggung atau tangan bisa bikin gatal.
Torang meluruskan salah paham itu. Seiring waktu mulai banyak kolektor kain membeli koleksinya. Turis-turis asing pun mulai memburu koleksinya. Sekalipun ia mencintai kain, Torang tak menabukan kain ulos dipotong menjadi baju, kecuali kain yang memang benar-benar langka. Orang-orang Jepang, menurut Torang, gemar membeli ulos sibolang untuk dibuat baju.
Uniknya oleh orang Batak sendiri, ulos sibolang dianggap tabu dijadikan baju. Hal ini terkait pandangan bahwa ulos sibolang hanya dipakai orang mati. “Padahal dulu, ulos sibolang merupakan baju sehari-hari orang Batak. Kebetulan saat meninggal tengah mengenakan baju dari ulos sibolang. Tapi orang meninggal kan tidak direncanakan,” katanya.
Sejak ulosnya banyak diburu kalangan menengah ke atas, mulailah orang-orang Batak kaya di Jakarta membeli ulos koleksinya. Orang-orang Batak juga mulai membuka-buka lemari koleksi ulos mereka. Maka dalam lima tahun belakangan terjadilah booming ulos.
Sekalipun koleksi ulosnya telah ribuan jumlahnya, Torang tak henti berburu ulos klasik, bahkan sampai menyebrang ke Belanda. Harga tak terlalu masalah. Namun Torang bukan hanya kolektor dan pedagang ulos klasik. Ia juga desainer yang membangun kemitraan dengan 70 penenun ulos yang tersebar di Tarutung, Muara, Uluan, dan Samosir.
Setiap bulan mereka berhasil memproduksi 30 – 35 lembar ulos sesuai spesifikasi dan konsep yang diinginkan Torang. Delapanpuluh persen ulos-ulos itu menggunakan pewarna alami. Seluruh bahan, mulai dari benang sampai pewarna alami, disediakan Torang.
“Kalau ikut aku, penenun harus sulam benang satu per satu untuk mendapat tenunan yang akurat. Selendang bisa tiga minggu dikerjakan, ulos bisa satu bulan. Aku memang sangat menjaga kualitas ulosku,” katanya.
Ia juga mensyaratkan ulos produk mitranya halus. Kompensasinya, ia tak pelit memberi honor untuk penenun. Bagi yang berhasil membuat ulos kelas 1, mereka diganjar honor Rp 7 juta. Prinsip kemitraan yang dibangun adalah menyejahterakan penenun.
Tak sia-sia separuh usia Torang Sitorus digunakan untuk “memuliakan” ulos. Ia kini balik tengah, bahkan sudah “dimuliakan” ulos. Sepanjang tahun 2020, pesanan ulos dari penggemarnya, sebagian besar dari Jakarta, sudah fully booked. Artinya, ia sudah tidak menolerir lagi pesanan untuk membuat ulos baru.











