Oleh: Dian Purba & Angeline.
Imlek kali ini serasa sangat istimewa. Kami berdua memutuskan ber-tandem merayakannya. Satu Batak, satu Tionghoa. Begini ceritanya.
Hubungan di antara kami berdua adalah hubungan antara guru dengan murid. Kami sudah saling mengenal selama enam bulan lebih. Saya, misalnya, yang mengajari sejarah di kelas mereka, yang mayoritas orang Tionghoa, dihantam pertanyaan di hari pertama mengajar di kelas: apa gunanya kami belajar sejarah?
Perkenalan yang sangat berkesan. Saya tidak sanggup menjawab pertanyaan semendasar itu sehingga saya menyebutkan satu contoh saja: Usia orang Batak dari hasil penelitian terakhir oleh beberapa ahli arkeologi menyebut tidak lebih dari 600 tahun, sementara orang Tionghoa, kemungkinan besar, sudah menjejakkan kaki di tempat yang sama jauh sebelum zaman itu. Lalu, di kelas itu, saya simpulkan: dengan belajar sejarah kita dibuat paham bahwa menjadi rasis itu ahistoris.
Kembali ke Imlek. Bertahun-tahun kami berdua merayakan Imlek dengan cara kami masing-masing. Lah, apakah seorang Batak ikut merayakan? Satu dari kami menjadikan Imlek sebagai ajang melacak-lacak literatur hingga berujung postingan status pendek ucapan selamat Imlek di media sosial.
Yang satunya lagi merayakan Imlek karena Imlek itu “milik” mereka. Akan tetapi, bagaimana Imlek itu dirayakan? Atau: Imlek yang bagaimana yang mereka rayakan?
Kami menyebar kusioner. Kami membuat kategori responden yang agak longgar. Apa makna Imlek bagimu? “Sumber duit,” kata satu orang. Dalam nada yang mirip, yang lain mengatakan, “Sumber uang jajan.” Dan jawaban-jawaban berikut: “Ang pao, makan, diskon”; “Merayakannya dengan keluarga dan orang-orang terkdekat”; “Berkumpul dan berinteraksi dengan saudara dan keluarga sesuai adat Tionghoa”; “Aku selalu menghitung uang saat Imlek dan aku bahagia jika uang yang kudapatkan lebih dari yang kuharapkan”. Imlek bagi dipandang sebagai hari keluarga. Imlek adalah hari kemeriahan. Imlek adalah pesta.
Mereka adalah generasi yang sudah tidak mengalami merayakan Imlek dalam kesunyian dan ketersembunyian, merayakan Imlek yang dibonsai. Mereka generasi yang berbahasa Mandarin di sekolah tanpa perlu paham beban masa lalu yang sangat berat yang harus ditanggung oleh siapa pun yang menggunakan bahasa itu secara terbuka.
Bagi mereka, mempelajari bahasa Mandarin adalah bagian dari keahlian untuk mengejar cita-cita. Mereka sama sekali tidak akrab dengan film-film remaja dari Tiongkok. Mereka pecinta film dan musik Korea. Mereka generasi yang sangat berjarak bahkan dari saat peraturan yang melarang “ketionghoaan” dihidupi dicabut oleh Abdurrahman Wahid tahun 2000.
Imlek yang dirayakan saat ini adalah Imlek yang sudah dimodifikasi, sekaligus dikodifikasi, di sana-sini sehingga ucapan “gong xi fat cai” sudah menggantikan “xin nian kuai le”.
Warna merah memenuhi pusat-pusat perbelanjaan. Perayaan-perayaan besar digelar. Harga barang-barang didiskon besar-besaran. Pertunjukan barongsai sangat semarak. Imlek dikesankan wah dan mewah. Tentu saja hal-hal itu harus disyukuri. Kesunyiaan dan ketersembunyian merayakan Imlek di masa lampau tidak terjadi lagi di saat sekarang.
Namun, kami melihat hal ini mengandung sesuatu yang harus dilihat lebih jeli dan kemudian dipikirkan dengan saksama. Imlek dengan semua perayaan-perayaan yang disebutkan di atas itu akan menimbulkan efek yang lain. Efek itu adalah pandangan yang akan semakin mempertebal kesan bahwa orang Tionghoa menempati posisi ekonomi yang tinggi sehingga perayaan Imlek selalu digelar sangat mewah.
Dalam bisik-bisik kami tersua beberapa hal yang selama ini seakan-akan dibiarkan tetap begitu sementara yang lain ditenggelamkan sedemikian rupa sehinga tidak timbul ke permukaan. Maksud kami adalah Imlek hanya salah satu dari tradisi Tionghoa di antara ribuan tradisi yang ada. Pemilihan Imlek sebagai tradisi yang “ditunggalkan” untuk menjadi satu-satunya identitas ketionghoaan, nyata-nyatanya, adalah produk sejarah yang sengaja dizalimi.
Imlek tahun ini begitu istimewa. Selain tulisan ini dihasilkan oleh kolaborasi keberagaman, kami tiba pada pemahaman bahwa merayakan Imlek kali ini adalah merayakan betapa pentingnya memahami sejarah.
Demikian pentingnya hal itu sehingga mereka, generasi yang sudah sangat berjarak dengan peristiwa-peristiwa di masa silam paham kenapa mereka bisa berjarak dan kemudian mencoba mencari tahu hal-hal yang sangat mungkin dilakukan untuk menanggapi hal tersebut. Paling tidak tulisan ini adalah satu contoh kecil untuk itu.***
Dian Purba, adalah guru di Sekolah Bangun Insan Mandiri Medan dan Angeline, murid SMA Bangun Insan Mandiri Medan.










