Pesona Air Terjun Tansaran Bidin

pesona-air-terjun-tansaran-bidin

AIR terjun adalah formasi geologi dari arus air yang mengalir melalui suatu for­masi bebatuan yang mengalami erosi dan jatuh ke bawah dari ketinggian. Bagi para penikmat air terjun, seberat apapun posisi objek akan berjuang menemu­kannya.

Kabupaten Bener Meriah adalah salah satu kabupaten di Provinsi Aceh, Kabu­paten ini merupakan hasil pemekaran Ka­bu­paten Aceh Tengah yang terdiri atas tujuh kecamatan. Kabupaten Bener Me­riah beribukota Simpang Tiga Redelong. Kabupaten ini memiliki banyak sekali air terjun yang indah, salah satunya adalah Air Terjun Tansaran Bidin. Arus airnya cu­kup deras karena meluncur dari keting­gian sekitar 50 meter, dan udara di sekitarnya sangat dingin.

Air terjun ini berada di tengah hutan, sehingga pengunjung harus rela berjalan kaki selama sekitar satu jam lebih melewati lembah dan bukit terjal demi sebuah peman­dangan indah dan menikmati jatuh­nya air dari ketinggian. Menurut penulis objek ini berada pada hutan sekunder yang berada di kawasan Taman Nasional Gu­nung Leuser. Walaupun ini Taman Nasio­nal, tanaman kopi masyarakat ber­serak di setiap tempat yang agak datar dan melereng seolah ini telah menjadi tanah milik perorangan.

Objek wisata ini ditutup sejak tahun 2016 sehingga para trekker harus bekerja ekstra keras untuk mencapainya. Sangat disayangkan tidak ada fasilitas ataupun rambu-rambu yang dapat membantu pe­ngunjung untuk mencapai air terjun. Pen­duduk lokal pun yang kami temui merasa enggan untuk pergi menuju objek ini. Akhirnya seorang kerabat yang memang pencinta alam mengajak penulis menuju air terjun walaupun sebenarnya beliau sudah sangat lama tidak pergi ke situ kare­na ada larangan dari Pemerintah Daerah.

Air terjun ini berada di Desa Wono Sari  Kecamatan Bandar, Kabupaten Bener Meriah. Perjalanan yang sangat melelah­kan pun kami lalui dengan menyisir bekas-bekas jalan yang telah hampir tertutup semak belukar. Akhirnya, setelah satu jam lebih dalam perjalanan kami sampai di dekat Air Terjun dengan posisi ditempat yang agak terjal sehingga pengambilan foto sedikit terganggu dan kurang bervariasi. Tetapi sebagai mantan rimba­wan dan boleh dikata penikmat air terjun, kepuasan dan keletihan dalam perjalanan lunaslah sudah.

Sebelum mencapai air terjun kita dihadapkan dengan pemandangan yang sangat indah. Bebukitan hijau dipadukan dengan langit biru yang cerah bisa menjadi obat lelah para trekker. Pintu masuk atau jalan setapak pertama yang dilalui adalah kebun kopi penduduk. Tentu sangat menye­jukkan pandangan mata dan sela­mat datang yang baik buat para trekker.

Larangan Mengunjungi Air Terjun

Alkisah mengapa objek yang sangat indah dan mempesona ini ditutup oleh Pemerintah Daerah, karena pada tanggal 15 Maret 2016, terjadi musibah yang menewaskan sepasang calon pengantin yang sedang melakukan pengambilan foto pra-nikah (prawedding). Memang sudah men­jadi trend bagi pasangan calon pengan­tin ingin melakukan foto prawed­ding di tempat yang spek­takuler dan indah. Hal ini wajar karena pernikahan itu sesuatu yang sakral sehingga apapun akan dilakukan demi keindahan pengam­bilan foto dan lokasi yang tidak biasanya. Tetapi sepasang calon pengantin turun ke lembah naik bukit demi beberapa bidikan foto sepertinya agak aneh juga, atau mungkin keduanya adalah mantan tim SAR atau Anggota Mapala, penulis juga tidak mendapat cerita detail tentang hal itu.

Konon kisah kedua calon pengantin ini tergelincir ketika pengambilan foto karena terlalu dekat ke jurang yang menghadap lang­sung ke air terjun. Si pria duluan terja­tuh dan si wanita ingin menolong tetapi naas keduanya langsung melorot ke air terjun dan tidak tertolong lagi. Kedua calon pengantin tersebut meninggal mengenaskan.

Kemudian Air Terjun ini disebut “Air Terjun Pengantin”. Setelah kejadian ini ragam pendapat terjadi, dan yang paling menonjol adalah hal-hal mistis yang mengatakan air terjun ini ada penunggunya dan sang penunggu sangat tidak suka jika pengunjung terlalu bersukaria.

Beberapa pengunjung juga mengaku pernah melihat banyang-banyangan sosok misterius. Ada juga sebagian pengunjung jatuh sakit sepulang dari sana. Demi tidak terulangnya musibah maka peme­rintah daerah melarang pengunjung memasuki hutan ini untuk melihat air terjun. Sejak saat itu pengunjung merasa takut mengunjungi tempat ini.

Saran

Dalam banyak kejadian alam selalu disa­lahkan. Karena yang membuat per­nyataan itu adalah manusia, coba kalau alam bisa bicara dan berargumentasi de­ngan manusia sudah pasti alam tidak mau disalahkan. Mari kita sama-sama berfikir jernih pada kasus sepasang calon pe­ngantin tergelincir dari suatu tempat di sisi air terjun dan jatuh kemudian mening­gal dunia. Siapa yang salah dalam kasus ini “alam” atau “manusia”.

Kalau penulis berpendapat kejadian ini adalah human error. Kalau kita pergi ke suatu tempat yang ekstrim harus berhati-hati. Di manapun musibah bisa terjadi. Pe­nulis mengunjungi air terjun ini dengan gembira walaupun diakui memang sangat melelahkan, disam­ping faktur umur juga jalur yang ekstrim.

Sebaiknya pemerintah daerah tidak menutup akses menuju air terjun, karena air terjun tidak salah. Sebaliknya pemerin­tah daerah harus merangkul masyarakat setempat untuk memperbaiki kondisi jalan dan membuat rambu-rambu yang jelas agar para trekker ataupun pramuka dan pencinta alam tidak salah jalan.

Dan pada lokasi yang dianggap berba­haya agar dibuat pagar atau tanda-tanda agar jangan mendekat. Penduduk lokal bisa dilibatkan untuk menjadi guide karena mereka yang lebih mengerti tentang ke­arifan lokal setempat.

Upah untuk guide besarannya harus diatur oleh desa. Bila perlu kepala desa mengeluarkan sejenis tiket dan mencan­tumkan upah guide agar tidak terjadi kesalah­pahaman antara pengun­jung dan para penunjuk jalan ini. Jasa Guide ini adalah pilihan, bagi yang telah biasa berkunjung dan mengetahui jalan dengan baik maka hanya membayar biaya masuk dan bagi pemula diharuskan menggunakan jasa Guide ini.

Selamat berkunjung ke daerah ini untuk menambah wawasan. (Muhammad Ali, MLS)

()

Baca Juga

Rekomendasi