Oleh: Yenyenz
PHUA Gwee atau bulan pecah merupakan satu bulan yang jelek dalam setahun di mana konon katanya tak baik untuk melahirkan anak menurut tradisi dan kepercayaan budaya Tionghoa. Menurut kepercayaan, anak-anak yang lahir di bulan pecah akan banyak membawa masalah.
Awalnya aku tak pernah tahu tentang bulan pecah. Sampai pada akhirnya aku akan menikah. Calon suamiku terpaksa memutuskan hubungan kami. Dia dari keluarga berada dan orangtuanya sangat mempercayai mitos dan segala pamali, terlebih ibunya.
Aku dan Harri sudah pacaran sejak SMA, segala suka dan duka telah banyak kami lalui bersama. Namun semua itu usai dalam sekejap mata. Dia lebih memilih keluarganya dibanding aku. Ibunya tak bisa menerimaku hanya karena aku lahir di bulan pecah. Konon bila seorang perempuan lahir di bulan pecah, apabila menikah akan membawa nasib buruk berupa kebangkrutan pada suami dan keluarganya. Akan ada saja hal yang membuat mereka terus mengeluarkan uang dan akhirnya jatuh miskin dan hidup terlunta-lunta.
Awalnya aku tak percaya pada mitos ini namun ibu memberi tahu bahwa ada tetangga kami yang dulu menikahi wanita yang lahir di bulan pecah. Dalam kurun waktu tak lama suaminya yang kaya bangkrut dan jatuh miskin. Semua terjadi karena suaminya berjudi. Aku berpikir, secara logika yang salah adalah suaminya. Mengapa ia harus berjudi? Coba bila ia tak berjudi maka mereka tak akan bangkrut. Tetapi bagi yang percaya, tetap sang istri dianggap membawa sial.
Setahun setelah putus dengan Harri, aku menjalin hubungan baru. Namun sayang sekali hubungan ini tak berjalan lama. Karena ayahku tak merestui hubunganku dengan pria ini. Namanya Arya, tampangnya mirip preman. Aku berjumpa dengannya saat berdoa di kuil. Kebetulan di seberang kuil ada sebuah bengkel di mana ia bekerja. Ayah melarangku bersamanya karena ayah bilang hidupku akan pahit bila menikah dengannya. Aku menuruti kata ayah.
Usiaku sudah tak muda lagi, sudah 31. Mengapa jodohku begini sulit? Aku sering berdoa di kuil memohon dipertemukan jodoh yang sesuai. Aku ingin menikah dan punya keluarga yang bahagia dan melahirkan anak-anak yang lucu-lucu.
Aku merasa sangat kesepian. Aku sangat berharap bisa berjumpa pria yang baik, lalu menikah. Adikku merekomendasikanku untuk bergabung di Facebook dan mencari pacar di sana. Aku sudah mencobanya, juga tak ada kepastian. Mereka yang ada di sana hanya sekadar mengucap “Hai...”, bertanya ini-itu, terus besoknya sudah tak ada kabar.
Aku lalu memutuskan untuk mengunjungi orang pintar, yang berpesan kepadaku, bila ingin jodoh lancar maka rajin-rajinlah mengenakan pakaian berwarna hijau.
Sudah sebulan aku rajin berpakaian hijau. Namun hasilnya sama sekali tak ada. Aku mengeluhkan hal ini kepada adikku. “Gimana bisa dapat jodoh, walaupun kamu pakai baju hijau sampai setahun bila kamu hanya mengurung diri di dalam rumah.”
Adikku benar. Tapi sepertinya aku sudah malas untuk berusaha. Biarlah aku hidup begini. Lagian juga mereka pasti akan mempermasalahkan tanggal kelahiranku. Aku sudah lelah berharap.
Suatu hari aku tanpa sengaja berjumpa dengan teman semasa SMA, Doni. Doni kini berbeda dari yang dulu. Dulu tampangnya jelek, kurus dan terlihat kuper. Kini dia ibarat itik buruk rupa yang telah berubah menjadi angsa. Dia sangat gagah dan tampan. Kami makan dan ngobrol-ngobrol. Dia bilang bahwa dia ingin mencari seorang teman hidup.
Aku bahagia sekali. Akhirnya kesempatan itu datang. Waktu sekolah dulu hubungan kami memang baik, dia teman curhatku dan kami sering bercerita bersama. Aku bahagia bila bersamanya. Dia akan segera menikahiku. Dia menerimaku apa adanya. Tak peduli aku lahir di bulan pecah atau bulan apa pun itu.
Aku menangis bahagia. Tuhan telah mengabulkan permintaanku. Aku sangat tersentuh dengan ucapannya, ”Kalaupun kita harus jatuh miskin kelak kita akan melaluinya bersama“. Ibu bilang bahwa tetanggaku yang lahir di bulan pecah kini telah bahagia karena anak-anaknya telah dewasa dan sukses.
* Juni 2018











