Oleh Airf Budiman
SUATU waktu perusahaan jasa pengiriman barang CH Robinson Worldwide Inc dari Amerika sedang mengalami kemunduran dalam bisnis. Sang CEO William Nicholson pusing pun merasa pusing. Dia mengambil keputusan meminta jasa agensi periklanan untuk memoles identitas perusahaan. Ketika itu dipanggilah agensi Landor Associates untuk memeriksanya.
Sang CEO menginginkan logo perusahaan diganti total. Mesti ada gambar elemen kotak-kotak yang menjadi simbol peti kemas. Termasuk elemen roda gir yang berputar untuk melambangkan laju perusahaan. Warlter Landor Jr. pemilik agensi Landor, tidak mau buru-buru mengganti logo. Agensi periklanan ini mengawali pekerjaan dengan riset. Memeriksa target audien, target market sampai pada menelisik persepsi konsumen terhadap jasa pengiriman barang ini.
Sampai pada Landor merekomendasikan logo tidak perlu dirombak total. Cukup dimodifikasi saja. Warna birunya dipertahankan. Keinginginan sang pemilik perusahan, agar elemen kotak-kotak dan roda gerigi tetap ada pada logo, dipenuhi. Dirupakan secara sederhana dengan menggunakan prinsip gestal.
Kemudian yang paling penting, Landor mengaplikasikan logo tersebut pada seluruh peti kemas truk. Dengan warna yang sama, ukuran dan posisi yang sama, tidak boleh berbeda sedikit pun. Landor menjaga konsistensi pengaplikasian logo pada setiap media promosi CH Robinson.
Setelah modifikasi corporate identity dilakukan, Landor meminta agar CH Robinson tetap beroperasi seperti biasa. Sembari menjanjikan hasil perubahan tiga bulan kedepan.
Menjelang masa tiga bulan, truk-truk yang membawa peti kemas jasa pengiriman barang CH Robinson, melaju kemana-mana. Warna truk yang sama, dan penempatan logo yang zero mistake dalam penerapannya. Mengeliling sudut-sudut negara mengantarkan paket-paket pada konsumen.
Akhirnya, dalam pertemuan asosiasi jasa pengiriman barang di New York, pemilik CH Robinson Worldwide, Nicholson dipuji kompetitornya FedEx. Dia mengatakan jumlah transport armada barang CH Robinson bertambah banyak, ribuan bahkan dia rasa. Perkembangan perusahaan kompetitor FedEx itu bertambah sukses, fantastis.
Nah apakah memang demikian banyaknya armada? Apa Landor menyuruh CH Robinson menambah armada transportasi? Jawabannya tidak! Landor hanya menerapkan dengan konsisten corporate color dan logo terhadap armada CH Robinson Worldwide Inc. Sehingga semua armada kelihatan seragam, tidak cacat sedikit pun. Ketika truk-truk pembawa peti kemas itu hilir mudik di dalam kota, terkesan berjumlah banyak. Bahkan selalu bertambah dan bertambah banyak jika dihitung dari setiap truk yang lalu lalang.
Landor, sukses memainkan psikologi dan presepsi publik. dari setiap objek yang sama (logo dan warna armada) yang melintas terus menerus dan di depan mata publik. Ratusan bahkan ribuan truk peti kemas jasa pengiriman barang CH Robinson yang dipersepsi publik sebagai perusahan yang sangat besar. Diikuti pula dengan timbulnya kepercayaan publik terhadap jasa pengiriman barang ini.
Para konsumen melihat CH Robinson sudah berubah ke arah positif. Tumbuh kredibilitas dan profesionalitas kepada perusahaan. Tak bisa dielakkan, pendapatan perusahaan terus melejit. Peristiwa ini terjadi ditahun 1998 silam.
Kasus ini menunjukkan pentingnya memperhatikan identitas perusahaan (corporate identity). Logo dan serangkaian proses penerapanya adalah bagian yang tak terpisahkan dari pembentukan citra/image. Tujuannya agar memperoleh kepercayaan (trust) dari konsumen/publik. Di samping untuk menunjukkan profesionalitas mengelola perusahaan.
Pergantian logo atau modifikasi logo juga acapkali terjadi di Indonesia. Beberapa yang mendapatkan perhatian dari pegiat desain komunikasi visual adalah logo Pertamina.
Awalnya visual dari logo perusahaan minyak negara ini terdiri dari dua kuda laut yang saling berhadapan dengan bintang di tengah-tengahnya. Kemudian diganti dengan visual logo yang sangat sederhana dan modern. Berupa susunan tiga jajar genjang membentuk huruf “P” berwarna merah, hijau dan biru. Sekilas tampak seperti busur panah karena agak condong ke depan. Logo ini mengartikan Pertamina bergerak maju dan progresif.
Proses perancangan logo ini kemudian riuh. Terutama dari pengawas kebijakan yang mempertanyakan anggaran sekitar 2,5 milyar yang dirogoh Pertamina untuk membayar jasa Landor Associates. Bahkan prosesnya tanda tender terlebih dahulu. Perdebatan berlangsung sengit. Proses riset dan perancangan tetap dilakukan Landor. Dikemudian hari baru disadari, perdebatan itu memberikan efek terhadap image Pertamina. Semua orang mempertanyakan dan mencari tahu reputasi Landor Associates. Kenapa Landor Associates yang dipilih Pertamina? Siapa Landor Associates? Projek apa saja yang dikerjakan, sehingga jasanya dibayar mahal?
Setelah proses perancangan logo dilakukan barulah pengawas kebijakan dan publik tahu. Landor Associates adalah Corporate Identity Service yang sudah mendunia. Lebih dari 600 brand besar di planet ini pernah digarap Landor. Agaknya sedikit banyak gengsi dan pertimbangan reputasi Landor yang prestisius memberikan sedikit banyak pengaruh terhadap image Pertamina. Untuk berubah dibutuhkan power yang besar. Semua berawal dari citra atau pewajahan yang baru, kemudian diikuti budaya positif perusahan untuk Bangkit.
Hal serupa juga dilakukan Bank Negara Indonesia (BNI). Logo yang awalnya dari visual Perahu Pinis menjadi simbol angka 46 sebagai tahun lahir BNI. Singkatan BNI tetap dipertahakan karena singkatan itu yang paling memorable diketahui konsumen.
Sigit Pramono direksi BNI melihat dengan logo yang baru, bisa meningkatkan budaya kerja. Perilaku karyawan menjadi lebih positif Bagi BNI. Sebagaimana pernah dia lakukan pada Bank Internasional Indonesia (BII). Untuk menumbuhkan spirit perubahan, dibutuhkan simbol atau lambang. Simbolisasi yang paling tampak adalah melakukan perubahan identitas perusahaan atau corporate identity.
Hal serupa juga dilakukan pada perusahaan Kereta Api Indonesia atau PT. KAI di bawah direksi Ignasius Jonan. Juga melakukan perubahan logo untuk meningkatkan pelayanan kepada konsumen. PT. KAI mempercayai logo merupakan sebuah simbol yang sangat penting bagi identitas sebuah perusahaan.
Sebuah logo dapat membawa citra perusahaan serta memiliki peran penting dalam proses brand building. Sebuah logo dapat berkomunikasi dengan target konsumen, sehingga perubahan logo seringkali merupakan sebuah keputusan besar yang harus dipertimbangkan dengan seksama. Langkah tersebut juga dilakukan oleh perusahaan perkeretaapian Indonesia, PT KAI. Baru-baru ini penyedia jasa aplikasi Gojek, juga merubah logonya menjadi lebih sederhana. Bertajuk “Solv”, simbol atas solusi untuk beragam situasi.
Kendati logo ini juga banyak mendapatkan kritikan dari warganet, tetapi Gojek tetap yakin. Dia menerapkan secara konsisten logo kepada seluruh media promosi. Sama seperti yang dilakukan CH Robinson Worldwide Inc.
David E Carter yang banyak menulis soal logo menjelaskan ciri-ciri logo yang baik. Pemikiran David ini menjadi acuan banyak kampus DKV bahkan praktisi desain dalam merancang logo. Yaitu Original and Destinctive, memiliki nilai kekhasan, keunikan dan daya beda yang jelas secara visual.
Kemudian Legible atau mempunyai tingkat keterbacaan cukup tinggi meskipun diaplikasikan dalam berbagai ukuran dan media yang berbeda-beda. Simple atau sederhana dalam pengertian mudah ditangkap dan dimengerti dalam waktu yang relatif singkat. Memorable, cukup mudah untuk diingat, karena keunikannya, bahkan dalam kurun waktu yang relatif lama logo tersebut masih dikenali. Bahkan sampai ke generasi-generasi. Tidak bisa dilupakan juga logo harus Easily assosiated with the company. Logo yang baik akan mudah dihubungkan diasosiasikan dengan jenis usaha dan citra suatu perusahaan. Aspek ini biasanya tercermin dari visual logonya.
Kemudian faktor kemudahan aplikasi logo atau Easily adaptable for all graphic media. Ini berhubungan dengan bentuk, warna, maupun konfigurasi logo pada berbagai media grafis perlu diperhitungkan pada saat proses perancangannya. Ini agar agar tidak menimbulkan kesulitan dalam penerapannya. Aspek inilah diantaranya yang dilakukan Landor terhadap jasa pengiriman barang CH.Robinson.
Akhirnya, logo menjadi simbol atas sebuah identitas penting. Lewat logo terdapat konsep, nilai dan ideologi.
Akan menjadi cerminan jati diri pada otoritas apakah itu negara, perusahaan, organisasi atau pun event dari sebuah perhelatan akbar. Logo tidak sekadar tampilan visual semata. Tetapi ia menjadi komunikasi visual akan pewajahan sebuah produk/jasa kepada publik.
Praktisi DKV Yongky Safanayong melihat suatu logo yang ideal, secara keseluruhan merupakan suatu instrumen rasa harga diri dan nilai-nilai. Mampu mewujudkan citra positif dan bonafiditas. Disimbolisasikan dan direpresentasikan secara utuh dan total. Logo tersebut mengandung arti atau makna suatu “kebijakan berfikir” yang ingin dikomunikasi visualkan.
Penulis; pengajar Seni Rupa dan Desain di Institut Teknologi Sumatera – ITERA.
Semua foto diambil dari berbagai sumber dan internet terbuka.











