Menyelamatkan Hutan Bakau

menyelamatkan-hutan-bakau

Oleh: James P. Pardede

Menyelamatkan hu­tan bakau tidak hanya mem­berikan dampak positif bagi lingkungan, tapi juga bagi mahluk hidup yang tumbuh di kawasan hutan bakau. Hutan bakau adalah salah satu jenis hutan yang berisi bebe­rapa jenis kelompok tum­buhan dengan media tanah seperti rawa dan perairan pa­yau.

HUTAN bakau banyak di­temukan di ka­wasan perairan yang berbatasan dengan da­ratan dengan garis pantai khusus yang banyak terpe­ngaruh oleh proses alami air laut. Air laut bia­sanya akan sering pasang dan surut sesuai dengan pergerakan angin laut.

Sebagian masyarakat yang tinggal di ka­wasan hutan ba­kau masih banyak yang meng­ang­gap bahwa hutan ini hanya sebatas hutan yang menurut mereka keberadaan dan fungsinya tidak begitu penting. Padahal, hutan ba­kau sangat penting artinya bagi keberlangsungan makh­luk hidup disekitarnya.

Tidak hanya untuk pendu­duk atau masya­rakat di seki­tar bibir pantai, tapi juga untuk alam. Hutan bakau hanya bisa di­tumbuhi oleh ta­naman yang memang bisa bertahan dengan iklim atau kondisi laut yang berbatasan lang­sung dengan garis pantai.

Dalam sebuah kesempatan mengunjungi hu­tan bakau di Kabupaten Mandailing Natal, te­patnya di Desa Kun Kun, Kecamatan Batang Na­tal sudah banyak juga hutan bakau di kawas­an ini yang beralih fungsi menjadi kebun sawit.

Hutan bakau yang berada di kawasan rawa atau tanah endapan lumpur di sekitar garis pantai akan melindungi tanah agar tidak tergerus oleh air laut. Proses alami air laut biasanya akan terjadi saat air laut mengalami pasang dan surut.

Dengan proses ini ma­ka tanah di sekitar garis pantai bisa terbawa oleh air laut dan me­nyebabkan daratan menja­di semakin mengecil. Jika hal ini terus terjadi maka garis pantai akan mengalami erosi dan menyebabkan bencana alam untuk manusia.

Tanah di sekitar garis pan­tai memang sangat rawan ka­rena terkena oleh air laut se­panjang waktu. Namun ta­naman bakau akan mengikat tanah di sekitarnya.

Cara ini akan membuat hutan bakau meng­ikat tanah yang terbawa dari air laut. Endapan tanah akan terus mengalampi perubahan. En­dapan lama akan bercampur dengan endapan baru sehing­ga membentuk daratan khu­sus yang semakin luas.

Berdasarkan data yang dilansir dari Dinas Kehutanan Sumut, bahwa hutan mangrove di Su­mut sekitar 100.­000 hektar sebagian besar su­dah mengalami gangguan hingga harus di­pulihkan. Itu sebabnya perlu upaya ekstra untuk mengembalikan fungsi hutan bakau (mangrove) ke fungsi awalnya sebagai ba­gian dari paru-paru dunia. Dari 100.000 hektar hutan mangrove, 40-50% sudah ber­alih fungsi, 20% alami gangguan, sisanya, masih utuh.

Pencinta lingkungan yang juga peduli dengan keber­langsungan hutan bakau di Kabupaten Mandailing Natal, Sugianto Makmur mela­ku­kan berbagai upaya untuk menyelamatkan hutan bakau di kawasan Pantai Barat Mandailing Natal.

Upaya konkrit yang dila­kukan Su­gianto da­lam me­nyelamatkan hutan bakau te­lah dibuk­tikan dengan mela­kukan konservasi mandiri hu­tan bakau di Kun Kun, Ba­tang Natal, Man­dailing Natal.

Ada sekitar 100 hektar la­han yang diganti rugikan milik masyarakat. Hutan ini sudah rusak, tidak ada lagi pohonnya, pada tahun 2009. Perlahan dan pasti, hutan mulai pulih kembali. Seka­rang, hutan ini menjadi sum­ber penghasilan bagi masya­rakat yang tinggal di kawasan Kun Kun, sebagai tempat me­reka menangkap kepiting, udang dan ikan.

Dengan kondisi hutan ba­kau di Kun Kun yang sudah pulih, Sugianto hanya me­minta ­ke­pada masyarakat untuk tidak menangkap ikan atau kepiting yang terlalu ke­cil serta tidak menembak bu­rung yang tinggal di hutan bakau, terutama burung lang­ka yang masuk dalam daftar dilindungi.

Sepanjang perjalanan me­ngembalikan fungsi hutan bakau yang rusak di Kun Kun, Mandailing Na­tal, me­nurut ayah 4 anak ini, ada beberapa kali tawaran untuk membeli lahan yang sudah dikonservasi untuk dijadikan kebun sawit. Tapi Sugianto menolaknya mentah-mentah.

Menurutnya ada kepuasan batin yang besar da­lam mera­wat hutan bakau ini. Hampir semua pa­luh sungai di sana, sudah berubah menjadi ke­­bun sawit, tepatnya disebe­rang lahan yang ka­mi kelola dan sudah kami lestarikan seperti layaknya hutan bakau alami.

Hutan bakau jika dikelola dengan baik akan memberi dampak positif bagi masya­rakat disekitarnya. Beberapa jenis hewan laut banyak menghuni hutan mangrove seperti ikan, ubur-ubur, udang, kepiting , siput, dan hewan lainnya termasuk buaya.

Hewan laut biasa meng­­gunakan hutan mangrove sebagai tempat perlindungan dari predator terutama bagi hewan laut yang sedang ber­anjak dewasa. Hewan laut juga memanfaatkan hu­tan mangrove untuk mendukung proses pe­mijahan dan juga menjadikan hutan mangrove sebagai nursery ground (ta­nah pembibitan) untuk mem­bantu membesarkan anak-anak mereka.

Melindungi Manusia dari Bencana

Tidak hanya bermanfaat untuk kehidupan hewan laut, tapi juga dapat bermanfaat bagi kehidupan manusia dan ekosistem pesisir. Dari sisi ekonomi, para nelayan dan pernduduk seki­tar mangrove dapat memanfaatkannya se­bagai kebutuhan konsumsi atau kebutuhan lainnya.

Itu sebabnya, perlu ada upaya secara berkesi­nam­­bungan untuk mengedukasi masyarakat agar tidak meru­sak hutan mangrove yang me­miliki banyak fungsi.

Hutan mangrove juga bisa dimanfaatkan men­jadi salah satu cara untuk member­sih­kan air. Air laut mengandung kadar garam yang cu­kup tinggi sehingga tidak bisa digunakan untuk mendukung kehidupan manusia. Ta­nam­an bakau akan membentuk perairan payau di seki­tar ga­ris pantai.

Dengan cara ini maka ma­syarakat bisa men­dapatkan air yang lebih bersih dan ta­nam­an bakau menjadi penyaring alami dari air laut menjadi air tawar.

Fungsi lain dari hutan ba­kau adalah laut men­jadi salah satu tempat bagi beberapa jenis indus­tri salah satunya industri kilang minyak. Se­lain itu kapal-kapal yang ber­layar di laut juga membuang zat sisa polutan dari hasil pembaran mesin. Hal ini membuat air laut penuh de­ngan berbagai jenis logam dan zat berbahaya bagi ma­nu­sia.

Hutan bakau akan mem­buat air di sekitar garis pantai menjadi lebih bersih, karena tanaman yang tumbuh di ka­wasan hutan bakau akan me­nyerap zat logam dan sampah yang berasal dari laut. De­ngan cara ini maka pantai menjadi tempat yang aman untuk manusia.

Hutan bakau yang ditum­buhi banyak jenis tanaman, dimana tanaman bakau me­mi­liki ka­rak­ter yang sangat tegas dan tahan terhadap ber­bagai jenis zat berbahaya  dari laut. Hutan bakau me­nye­diakan manfaat dalam proses kimiawi ter­masuk se­perti melakukan penyerapan ter­hadap gas buangan yang berasal dari udara dan air laut.

Bakau akan meng­ubah gas buangan menjadi gas yang lebih bersih dan bisa dihirup oleh mah­luk hidup untuk ber­nafas. Tanaman bakau akan menghasilkan Oksigen yang sangat penting bagi kelang­sungan hidup manusia dan mahluk hidup lainnya.

Tak kalah pentingnya ada­lah hutan bakau menjadi salah satu tempat yang paling baik untuk berbagai jenis mahluk hidup. Salah satu­nya adalah berbagai jenis burung langka yang hanya bisa tinggal di kawasan hutan bakau. Makh­­luk hidup seperti satwa dan burung mem­butuhkan ling­kungan yang nyaman dari ancam­an kerusakan seperti hutan bakau.

Hutan bakau juga menjadi tempat nyaman atau habitat bagi beberapa jenis mahluk hidup yang tinggal di laut. Mereka menggunakan hutan bakau sebagai rumah karena mereka men­cari sumber ma­kan yang paling dekat seperti laut. Media hutan bakau juga akan menambah berbagai jenis keanekaragaman satwa.

Tanpa kita sadari, upaya kita menyelamatkan hutan bakau juga akan menyela­mat­kan keber­langsungan berbagai jenis biota laut, se­perti berbagai jenis udang yang bisa tumbuh di ka­wasan hutan bakau. Udang akan menggunakan hutan bakau sebagai habitat yang paling aman dari incaran mahluk hidup di laut yang lebih besar. Bahkan hutan bakau menjadi salah satu tempat alami untuk berkembangbiak bagi udang. Hutan bakau juga menyedia­kan berbagai jenis sumber makanan kecil bagi berbagai jenis mahluk hidup di laut yang memiliki bentuk lebih besar.

Hutan bakau tidak hanya penting untuk men­jaga pro­ses alam. Hutan bakau melin­dungi ma­nusia dari berbagai jenis bencana alam. Bahkan hutan bakau juga menjadi sa­lah satu tempat atau sumber penghasilan utama bagi nela­yan dise­kitar garis pantai. Hutan bakau menjadi salah satu tempat yang penting un­tuk kehi­dupan ma­nusia. Hu­tan bakau akan melindungi kawa­san pesisir dari keru­sakan karena gelombang om­­bak. Hutan bakau akan mencegah darat­an agar tidak terkena hem­pasan badai dan gelom­bang tsunami.

Selain bermanfaat untuk manusia dan semua mahluk hidup yang tinggal dalam ha­bitatnya upaya penyelamatan hutan bakau harus didu­kung oleh semua kalangan dan manusia yang ada di sekitar ka­wasan hutan ini hendaknya sela­lu menyadari bahwa alam menyediakan sumber daya yang tidak akan pernah habis. Manusia me­miliki ke­wajiban untuk mengelola dan mengembangkannya.

(Penulis adalah tenaga pendidik peduli dengan ma­salah lingkungan)

()

Baca Juga

Rekomendasi