Timnas Israel Dipimpin Kapten Beragama Islam

Timnas Israel Dipimpin Kapten Beragama Islam
Bibras Natkho (Facebook)

Analisadaily.com, Tel Aviv - Sebagai negara yang dikenal dengan dominasi Yahudi, Israel juga memiliki penduduk yang memeluk agama Islam.

Bahkan dari total populasi warga Israel yang mencapai 9,148,580 juta orang, terdapat 17,8% yang beragama Islam atau sekitar 1,6 juta orang. Meski demikian penduduk Yahudi tetap mendominasi dengan jumlah 74,2%.

Namun tahukah Anda bahwa saat ini tim nasional (timnas) sepakbola Israel dipimpin oleh seorang kapten yang beragama Islam.

Bibras Natkho, gelandang kelahiran Kfar Kama itu dipercaya menjadi kapten timnas Israel sejak September 2015 ketika menjamu Andorra di Kualifikasi Piala Euro 2016.

Uniknya, Natkho bukan keturunan Arab seperti mayoritas muslim yang ada di Israel. Ia memiliki darah Circassian atau dalam bahasa Indonesia disebut Adighe -- kelompok etnis Kaukasus Barat Laut yang berasal dari kawasan Sirkasia.

Bibras Natkho sudah mendapat tempat di buku-buku sejarah orang Circassian. Jika Anda mencari di internet informasi tentang orang-orang Sirkasia yang terkenal, namanya akan muncul di samping para sultan dan pangeran.

Pemain yang kini memperkuat klub Serbia, Partizan, menceritakan pengalamannya ketika pertama kali ditunjuk sebagai kapten. Namun saat itu ia hanya jadi kapten pengganti Tal Ben Haim yang ditarik keluar.

"Pada babak pertama, Tal Ben Haim memberi saya ban kapten, seperti yang diperintahkan (pelatih) Eli Guttman," kata Natkho, ynetnews, Kamis (23/1).

"Aku sudah terbiasa dengan itu (jabatan kapten) di tim junior, tetapi untuk menjadi Sirkasia pertama yang meletakkannya di lenganku, seorang kapten muslim, itu adalah perasaan yang luar biasa," kenangnya.

Sejak remaja mantan gelandang CSKA Moscow dan Olympiacos itu sudah menjadi langganan timnas Israel, mulai dari U-17, U-18, U-19, U-21 sampai senior.

Dia melanjutkan, "Ini adalah hal unik tentang negara ini, kita harus mengesampingkan semua rasisme dan segalanya, fokus pada kualitas yang baik. Itulah yang menakjubkan dari tim kami, kami semua dipersatukan sebagai teman."

Namun pemain berusia 31 tahun itu sempat mendapat kritik keras dari sejumlah kalangan karena tidak mau menyanyikan lagu kebangsaan Israel, Hatikvah.

"Ketika saya masih muda saya menyanyikan lagu kebangsaan, dan saya tidak mengerti arti dari kata-kata itu," katanya, "sejauh yang saya ketahui, menyanyikan 'nefesh yehudi homiyah' ('jiwa Yahudi masih merindukan') atau 'eretz-Zion vi-Yerushalayim' ('tanah Sion dan Yerusalem'), tidak menghargai lagu tersebut," ujarnya.

"Tim dan negara itu sangat penting bagi saya, tapi saya orang Sirkasia dan muslim, jadi saya tidak bisa menyanyikan beberapa kata," tegas Natkho.

"Saya tidak bisa menyanyikan lagu tanpa merasa menjadi bagian dari itu, dan itu muncul dari rasa hormat yang besar terhadapnya. Saya merasakan rasa memiliki yang besar terhadap tim dan negara."

Sebagai bukti kesetiaannya terhadap Israel, Natkho pernah menolak tawaran dari Ajax Amsterdam. Sebab Ajax memintanya untuk mengabaikan wajib militer yang diharuskan negaranya.

"Ketika saya masih muda, saya ditawari transfer ke Ajax Amsterdam. Manajemen klub itu meminta satu hal kepada ayah saya sebagai imbalan, saya harus menandatangani surat pengabaian untuk layanan IDF (Israel Defence Forces). Dia menolak. Ayah saya adalah seorang polisi perbatasan di Tepi Barat selama hampir 30 tahun. Kesetiaan adalah hal yang paling penting bagi orang-orang Sirkasia. Raja Yordania dijaga oleh orang-orang Sirkasia, dia hanya percaya pada mereka. Sejauh yang saya ketahui, memakai ban kapten tim nasional adalah kehormatan besar, sesuatu yang membuat saya lebih baik," tukasnya.

Untuk diketahui, Bibras Natkho bukanlah kapten timnas Israel pertama yang beragama Islam. Sebelumnya ada Walid Badir yang juga dipercaya sebagai kapten.

Namun Walid yang memiliki 74 caps bersama timnas Israel itu sudah pensiun sejak 2007 lalu dan kini menjadi asisten pelatih Hapoel Tel Aviv.

Editor:  Eka Azwin Lubis

Baca Juga