Dua warga Korea Selatan terlihat berjalan mengenakan masker di Seoul. (REUTERS/Heo Ran)
Analisadaily.com, Korea Selatan - Menteri Kesehatan Korea Selatan, Park Neung-hoo, menyatakan akan memperpanjang kampanye jarak sosial secara intensif, yang dijadwalkan berakhir pada Senin (6/4) pekan depan.
Ini sebagai upaya mengurangi infeksi virus corona. Negara ini sebagian besar berhasil mengendalikan epidemi terbesar Asia di luar China dengan sekitar 100 atau lebih sedikit kasus harian.
Tetapi wabah yang lebih kecil di gereja, rumah sakit dan panti jompo, serta infeksi di antara para pelancong, terus bermunculan.
Pekan ini, pemerintah menguji apakah harus memperpanjang 15 hari kebijakan jarak sosial intensif yang diterapkan sejak 21 Maret, karena fasilitas berisiko tinggi didesak untuk ditutup dan pertemuan keagamaan, olahraga dan hiburan dilarang.
Tetapi terlalu dini untuk merasa nyaman, Park mengatakan, mengutip lonjakan baru-baru ini dalam kasus impor dan infeksi kluster kecil yang juga mendorong pemerintah untuk membatalkan pembukaan kembali sekolah minggu depan.
"Tujuan kami adalah untuk dapat mengendalikan infeksi dengan cara yang memungkinkan sistem kesehatan dan medis kami, termasuk personel dan orang sakit, dapat menangani mereka pada tingkat yang biasa," kata Park dilansir dari Channel News Asia, Sabtu (4/4).
"Jika jumlahnya turun menjadi 50 atau lebih rendah, pengobatan yang stabil dari pasien termasuk yang sakit kritis akan mungkin terjadi tanpa banyak tekanan pada sistem," sambung Park.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KCDC) melaporkan 94 kasus baru pada hari Sabtu, menjadikan penghitungan nasional menjadi 10.156. Korban tewas naik tiga menjadi 177, sementara lebih dari 300 pulih dari virus dengan total 6.325.
Dari yang baru, 32 adalah kasus yang dipulangkan, sebagian besar warga Korea, sementara 31 berasal dari daerah Seoul yang lebih besar dan 26 dari kota Daegu yang paling terpukul.
Kata Park, jarak sosial berperan dalam menahan transmisi kelompok domestik sekitar 70 persen selama 11 hari pertama dibandingkan dengan 11 hari terakhir sebelum diberlakukan.
Tetapi ada tanda-tanda, bahwa orang-orang mulai kembali keluar dan bersosialisasi ketika kelelahan tentang isolasi tumbuh dan cuaca membaik.
"Kami sangat menyadari, banyak warga negara merasa lelah dan lesu di bawah kelanjutan jarak sosial. Tetapi jika kita lepas, upaya keras yang telah dilakukan pemerintah dan rakyat sejauh ini mungkin tidak menghasilkan apa-apa," tuturnya.
(CSP)