Foto: Miniatur dari Barang Bekas

Foto: Miniatur dari Barang Bekas
Pengelola Rumah Kreatif Anak Medan, Wasis Priambodo, menunjukkan beberapa miniatur yang telah siap untuk diperdagangkan, Sabtu (23/10). Bangunan rumah ibadah, tugu, transportasi roda dua hingga kendaraan perang dibuat dari barang bekas. (Analisadaily/Christison Sondang Pane)

Analisadaily.com, Medan - Sistem daur ulang mungkin bukan hal baru lagi bagi dunia kreatifitas. Pemanfaatan limbah plastik, kayu, kini menjadi tren baru, bahkan bisa yang utama dalam aktivitas ekonomi kreatif.

Metode tersebut, saat ini digunakan para kreator-kreator di Rumah Kreatif Anak Medan, yang setiap harinya memfungsikan kembali barang-barang yang sudah tidak terpakai, seperti plastik hingga styrofoam.

Pendiri Rumah Ketam, Eko Prayetno menceritakan, awal tempat ini ia dirikan pada tahun 2014 dengan tujuan supaya anak muda mempunyai aktivitas dan tidak terjerumus ke arah kenakalan remaja, misalnya mengkonsumsi obat-obat terlarang.

"Karena landasan itu, saya berinisiatif membuat sebuah wadah supaya anak muda di sini punya aktivitas positif. Jadi, saya pun mengumpulkan barang bekas untuk dirubah supaya menjadi produk yang punya nilai jual," kata Eko saat ditemui di Rumah Ketam.

Kata dia, pertama-tama dia membuat contoh dan kemudian ia memberikan pelatihan-pelatihan supaya anak-anak muda bisa menciptakan karya-karya miniatur, seperti rumah, kendaraan dan lain sebagainya.

"Saya kasi pelatihan gratis. Mereka yang datang hanya bermodalkan kemauan untuk belajar di sini. Ya, mereka sangat antusias," sambung Eko.

Tidak hanya di Rumah Ketam, Eko juga ternyata sudah sering memberikan pelatihan dalam memanfaatkan barang bekas. Sampai saat ini, dia bersama timnya mengedukasi anak-anak sekolah, Putri Bhayangkari Medan bahkan sampai ke rumah rehabilitasi Narkotika Deli Serdang.

Rekan Eko, Wasis Priambodo menyampaikan, selain melatih anak sekolah, mereka juga menjual sudah karyanya hingga menembus pasar ke luar daerah, seperti ke Kalimantan dan Pulau Jawa.

"Lumayan lah dari sisi pendapatan, tapi itukan tidak selalu ada. Karena sistemnya kadang-kadang ada yang pesanan, setelah kita bagikan di media sosial. Harganya mulai dari lima puluh ribuan hingga jutaan," kata Wasis, sembari menunjukkan jenis-jenis miniaturnya.

Eko kembali menjelaskan, Rumah Kreasi saat ini bukan hanya di Kota Medan saja, namun sudah didirikan di Pulau Batam 'Rumah Tenda Biru', yang sekarang sudah dibantu Otorita Batam dan ada lagi di Deli Serdang 'Rumah Kreasi Anak Deli Serdang'.

"Selanjutnya, kita sudah komunikasi dengan pihak Kecamatan Belawan. Kita ingin di sana ada kegiatan anak-anak nelayan. Memanfaatkan barang bekas jadi emas. Ini juga kan bagian dari ekonomi kreatif. Kemudian, kita akan buat juga di Marendal dan Amplas," tambah Eko, yang belajar membuat kreasi tersebut secara otodidak.

Editor:  Christison Sondang Pane

Baca Juga

Rekomendasi