Ilustrasi (Analisadaily/Istimewa)
Analisadaily.com, Jakarta - Lembaga Riset Media Asuransi (LRMA) kembali melakukan kajian terhadap perusahaan-perusahaan asuransi dan reasuransi di industri perasuransian Indonesia, tidak terkecuali untuk industri asuransi syariah.
Pemimpin
Lembaga Riset Media Asuransi (LRMA) Mucharor Djalil mengungkapkan, ada 18 indikator keuangan yang dijadikan LMRA dalam melakukan kajian untuk asuransi dan reasuransi Syariah untuk lolos dalam
Best Insurance 2021.
"Dari hasil kajian oleh LRMA, 11 perusahaan asuransi dan reasuransi syariah
full fledged di Indonesia, dari 13 perusahaan, namun 2 perusahaan belum mempublikasikan laporan keuangannya, menunjukkan kinerja cukup menggembirakan di 2020," ujarnya dalam webinar dan virtual awarding Best Insurance 2021, Kamis (11/11).
Hal tersebut menurut Mucharror Jalil, dapat dilihat dari hasil kontribusi bruto meningkat 9,20 persen. Pada 2019 kontribusi tercatat sebesar Rp1,78 triliun dan di 2020 meningkat menjadi Rp 1,95 triliun atau mengalami kenaikan sekitar Rp 160 miliar.
"Tumbuhnya kontribusi bruto ini memberikan dampak positif pada perolehan ujroh pengelola meningkat 10,90 persen, tahun 2019 tercatat Rp 633,53 miliar dan di 2020 sebesar Rp 702,57 miliar. Namun hasil
underwriting dana
tabarru' anjlok 18,82 persen dari sebelumnnya surplus Rp 28,93 miliar di tahun 2019 menjadi defisit Rp 5,44 miliar di 2020," paparnya.
Kinerja positif lainnya dapat dilihat dari pertumbuhan aset yang naik 3,75 persen. Pada 2019, aset tercatat Rp 8,43 triliun, sedangkan tahun 2020 senilai Rp 8,74 triliun. Peningkatan juga terjadi dari sisi ekuitas, tahun 2020 mencapai Rp 1,91 triliun, naik dari 2019 senilai Rp 1,82 triliun atau naik 5,25 persen.
Pencapaian positif lainnya perolehan laba sebelum pajak yang menguat 5,48 persen, dari Rp112,36 miliar di 2019 menjadi Rp118,52 miliar pada 2020. Cadangan teknis juga naik 17,65 persen di 2019 nilainya Rp 1,77 triliun, namun 2020 menjadi Rp 2,09 triliun. Di sisi lain, kas dan bank industri ini tumbuh 40,01 persen menjadi Rp 386,50 miliar pada 2020, dari sebelumnya Rp 276,05 miliar di tahun 2019.
"Kinerja industri syariah yang positif juga dapat dilihat dari rasio solvabilitas dana perusahaan (rata-rata industri) yang mengalami kenaikan dari 1.693 persen pada 2019 menjadi 2.044 persen di tahun 2020," papar Mucharror Jalil.
(TRY/RZD)