Arab Saudi dan Iran Pulihkan Hubungan Diplomatik

Arab Saudi dan Iran Pulihkan Hubungan Diplomatik
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran Ali Shamkhani berjabat tangan dengan penasihat keamanan nasional Arab Saudi Musaad bin Mohammed al-Aiban dalam pertemuan di Beijing dengan kehadiran diplomat top China Wang Yi (Luo Xiaoguang/Xinhua via AP)

Analisadaily.com, Dubai - Arab Saudi dan Iran pada Jumat (10/3) sepakat untuk melanjutkan hubungan diplomatik mereka setelah perseteruan bertahun-tahun mengancam stabilitas dan keamanan di Teluk sekaligus memicu konflik di Timur Tengah dari Yaman hingga Suriah.

Dilansir dari Antara, mengutip Reuters, Sabtu (11/3), kesepakatan yang ditengahi oleh China itu diumumkan setelah empat hari pembicaraan rahasia antara pejabat tinggi keamanan dari kedua negara di Beijing.

Teheran dan Riyadh sepakat untuk merajut kembali hubungan diplomatik dan kembali membuka kedutaan besar dalam waktu dua bulan, menurut pernyataan yang dirilis oleh Iran, Arab Saudi dan China.

"Kesepakatan itu meliputi penegasan mereka untuk saling menghormati kedaulatan negara dan tidak melakukan intervensi urusan dalam negeri," katanya.

Arab Saudi memutuskan hubungan dengan Iran pada 2016 usai kedubesnya di Teheran diserbu massa selama keduanya terlibat konflik atas eksekusi Riyadh terhadap seorang ulama Muslim Syiah.

Kerajaan Saudi juga menyalahkan Iran atas serangan rudal dan pesawat nirawak di fasilitas minyak mereka pada 2019 serta serangan terhadap tanker di perairan Teluk, tudingan yang dibantah oleh Iran.

Gerakan Houthi yang bersekutu dengan Iran di Yaman meluncurkan rudal lintas batas dan serangan pesawat nirawak ke Arab Saudi, pemimpin koalisi melawan Houthi. Pada 2022, kelompok Houthi memperluas serangannya ke Uni Emirat Arab.

Kesepakatan yang diteken pejabat tinggi keamanan Iran Ali Shamkhani dan penasihat keamanan nasional Arab Saudi Musaed bin Mohammed Al Aiban sepakat menghidupkan kembali perjanjian kerja sama keamanan 2001 dan sejumlah perjanjian lainnya di bidang perdagangan, ekonomi dan investasi.

Sementara itu diplomat tinggi China Wang Yi menggambarkan kesepakatan tersebut sebagai kemenangan atas dialog dan perdamaian.

Wang Yi juga menambahkan bahwa Beijing akan terus memainkan peran konstruktif dalam mengatasi isu global.

(RZD)

Baca Juga

Rekomendasi