Bangunan yang rusak setelah gempa bumi di Mandalay, Myanmar (29/3/2025). (ANTARA/Xinhua/Myo Kyaw Soe/aa.)
Analisadaily.com, Karachi - Regu penyelamat masih berupaya menyelamatkan para korban gempa bumi bermagnitudo 7,7 di Myanmar pada Jumat (28/3) lalu yang dilaporkan telah menewaskan lebih dari 3.000 orang.
Menurut pernyataan Kedutaan Besar Myanmar di Jepang pada laman Facebooknya, Rabu (2/4), korban tewas telah mencapai 3.003 orang.
Sementara, sekurangnya 15 orang tewas dan 72 lainnya masih hilang di Thailand setelah sebuah pencakar langit yang masih dalam tahap konstruksi di Bangkok ambruk akibat gempa yang berpusat di wilayah Sagaing, Myanmar, tersebut.
Dilansir dari Antara, Kamis (3/4), gempa bermagnitudo 7,7 dan 6,4 tersebut mengguncang bagian tengah Myanmar yang berpopulasi 28 juta orang sehingga menyebabkan bangunan runtuh dan warga setempat kekurangan makanan, air, dan tempat tinggal.
Prakiraan cuaca yang menunjukkan potensi hujan di luar musim mulai 11 April kemungkinan menimbulkan tantangan bagi personel penyelamat yang masih berjuang menyelamatkan nyawa para korban gempa di negara yang masih mengalami perang saudara itu.
Sejauh ini, sudah ada 53 penerbangan yang tiba membawa bantuan kemanusiaan di Myanmar, sementara sudah tiba 1.900 lebih personel penyelamat dari 15 negara, termasuk negara-negara Asia Tenggara, serta China, India, dan Rusia.
Rabu (2/4) kemarin, junta Myanmar menyatakan gencatan senjata selama 3 pekan, sehingga mengakhiri pertempuran melawan kelompok oposisi bersenjata untuk sementara.
Dalam pernyataan mereka, gencatan senjata yang akan berlangsung hingga 22 April tersebut berpeluang memberi keleluasaan bagi operasi penyelamatan pascagempa.
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul seruan gencatan senjata yang telah terlebih dahulu disampaikan aliansi oposisi utama Myanmar pada Selasa (1/4) untuk membantu operasi penyelamatan.
Setelah gempa besar pada Jumat tersebut, Myanmar telah mengalami hingga 66 gempa susulan dengan magnitudo 2,8 hingga 7,5, demikian menurut Departemen Meteorologi dan Hidrologi Myanmar.
(ANT/CSP)