Relawan Literasi Nasional Asal Madina, Khofifah Indah Al-Husna Aktif Gerakkan Literasi Desa (Analisadaily/Rudi Erianto)
Analisadaily.com, Madina - Upaya memajukan budaya literasi di Mandailing Natal (Madina) mendapat energi baru dengan hadirnya Khofifah Indah Al-Husna, M.Pd., sebagai Relawan Literasi Masyarakat terpilih oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
Setelah melalui berbagai tahapan seleksi, Khofifah resmi mulai aktif menjalankan kegiatan literasi pada Juli 2025.
Sejak itu, ia telah mengunjungi belasan perpustakaan desa/kelurahan dan Taman Baca Masyarakat (TBM), beberapa di antaranya adalah Perpustakaan Desa Muara Botung, Tombang Bustak, Pastap Julu, Panyabungan Jae, Huta Lombang Lubis, Saba Jambu, Tambiski, dan sejumlah titik lainnya.
Dalam kunjungan tersebut, Khofifah tidak hanya bersilaturahmi, tetapi juga mendorong aktivitas membaca serta memberi inspirasi kepada masyarakat tentang pentingnya menghadirkan budaya literasi di tengah kehidupan sehari-hari.
Selain itu, Khofifah juga menjalin kolaborasi dengan mahasiswa KKN STAIN Mandailing Natal. Salah satunya di Desa Tambiski, ia bersama mahasiswa melaksanakan kegiatan membaca nyaring pada 10 Agustus lalu.
Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari anak-anak, orang tua, hingga perangkat desa yang melihat langsung semangat kebersamaan dalam menghidupkan literasi.
Dalam keterangannya, Khofifah menyampaikan pentingnya dukungan semua pihak untuk memajukan literasi di Mandailing Natal.
“Literasi bukan hanya soal membaca dan menulis, tetapi bekal untuk membangun peradaban. Melalui literasi, anak-anak kita bisa lebih percaya diri, masyarakat bisa lebih berdaya, dan daerah kita bisa lebih maju. Karena itu, perlu perhatian penuh dari pemerintah kabupaten, pemerintah desa, orang tua, dan masyarakat agar gerakan literasi benar-benar menjadi kekuatan bersama,” ujar Khofifah, Jum'at (29/8/2025).
Khofifah juga menyoroti perlunya perhatian dan pelibatan penuh para pemangku kepentingan terutama di tingkat desa/kelurahan.
Menurutnya, kepala desa memiliki peran strategis dalam menghidupkan kegiatan literasi di wilayah masing-masing.
"Program literasi tidak hanya sebatas membaca buku, tetapi menjadi bagian dari pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas. Oleh karena itu, dukungan kebijakan, ruang kegiatan, hingga alokasi anggaran dari pemerintah desa sangat menentukan keberlangsungan gerakan literasi masyarakat," jelasnya.
Ia mengungkapkan, selama turun langsung ke lapangan, masih ada beberapa kepala desa yang kurang memberikan respon positif atau belum siap menerima kegiatan literasi, terutama terkait dukungan anggaran. Padahal, literasi memiliki dampak besar dalam mencerdaskan masyarakat, menumbuhkan kreativitas anak, bahkan membuka peluang peningkatan ekonomi desa melalui pengelolaan perpustakaan dan taman baca yang aktif.
“Jika pemerintah desa ikut peduli, maka gerakan literasi bisa tumbuh menjadi kekuatan nyata yang membawa perubahan di Mandailing Natal,” tutup Khofifah.
Khofifah berharap, gerakan literasi yang ia jalankan dapat menjadi langkah kecil menuju perubahan besar bagi kemajuan pendidikan dan kebudayaan di Mandailing Natal. (
RES)
(WITA)