Cheriatna membawa keluarganya mewujudkan mimpi untuk membangun bisnis dari titik nol. (Analisadaily/Istimewa)
Analisadaily.com, Jakarta - Siapa pun yang pernah tumbuh di tengah keterbatasan tahu betul bahwa harapan sering kali berawal dari ruang yang sederhana.
Begitu pula kisah Cheriatna, anak petani tanaman hias dari pinggiran Jakarta Selatan, yang menempuh jalan hidup penuh ketekunan, kerja keras, dan keyakinan.
Di antara pot tanaman, tanah lembap, dan bau pupuk kandang, ia belajar bahwa sesuatu yang dirawat dengan sabar pada akhirnya akan berbuah.
Pelajaran itu kelak menjadi fondasi hidupnya, jauh melampaui batas sekolah formal yang ia jalani yang hanya hingga jenjang SMA.
Dalam masyarakat yang sering menakar masa depan seseorang dari ijazah, Cheriatna sempat dianggap akan berhenti pada garis start. Banyak yang meragukan kemampuannya menembus batas sosial ekonomi.
Namun, di balik keraguan itu, pria kelahiran 5 Agustus 1974 itu memegang keyakinan sederhana bahwa pendidikan memang penting, tetapi semangat belajar tidak berhenti di ruang kelas.
Hidup, dengan segala tantangannya, juga dapat menjadi universitas yang penuh pelajaran. Prinsip itu menuntunnya untuk terus melangkah, bukan dengan terburu-buru, melainkan dengan kesadaran bahwa setiap hari adalah kesempatan memperbaiki diri.
Di tengah perjalanan hidupnya, ia menerima amanah besar dari Tuhan yaitu sebelas anak yang harus dibimbing, dirawat, dan diberi teladan.
Banyak orang mungkin melihat jumlah itu sebagai beban. Namun bagi Cheriatna dan istrinya, Farida Ningsih, keluarga bukan sekadar tanggung jawab ekonomi, melainkan sumber energi, motivasi, dan makna.
Mereka sepakat bahwa usaha apa pun yang dijalani tidak boleh menggerus nilai utama rumah tangga: kasih sayang, kehadiran, dan kebersamaan. Prinsip ini kemudian membentuk cara mereka bekerja, mengambil keputusan, dan menata masa depan.
Wisata Halal
Dalam prosesnya, Cheriatna merintis usaha di bidang wisata halal bersama istrinya dengan mengembangkan bisnis travel dan wisata halal.
Jalan yang dipilih tentu tidak selalu mudah. Dunia usaha memiliki siklus naik turun, dengan risiko, kegagalan, dan ketidakpastian yang nyata.
Ia pernah berada di titik melelahkan, menghadapi strategi yang tidak berjalan, hingga keharusan memulai dari awal. Namun, di setiap masa sulit, ia kembali mengingat pelajaran dari kebun tanaman hias bahwa apa pun yang tumbuh butuh waktu, perhatian, dan daya tahan untuk menghadapi musim yang berganti-ganti.
Yang menarik, di tengah kerja keras membangun usaha, keluarga tetap menjadi pusat hidupnya. Cheriatna berusaha memastikan bahwa keberhasilan tidak harus dibayar dengan hilangnya kehangatan rumah.
Anak-anaknya tumbuh tak hanya sambil melihat teladan ketekunan orang tua, tetapi juga merasakan kasih sayang yang nyata. Dari sinilah mereka belajar bahwa keberhasilan bukan sekadar soal materi, melainkan tentang bagaimana seseorang tetap menjaga nilai-nilai kemanusiaan.
Seiring waktu, usaha yang dibangun itu berkembang. Namun, yang lebih penting dibanding pencapaian bisnis adalah kesempatan yang terbuka bagi keluarga untuk mengenal dunia lebih luas.
Bersama istri dan anak-anaknya, Cheriatna berkesempatan menjelajahi lebih dari 50 negara di lima benua. Perjalanan itu ia maknai sebagai ruang pembelajaran yang tak ternilai. Anak-anaknya melihat langsung perbedaan budaya, tradisi, dan lanskap alam.
Dari salju di Eropa hingga gurun di Timur Tengah dan Afrika, dari bangunan modern hingga situs sejarah yang menyimpan cerita panjang peradaban manusia, menjadi “kelas dunia terbuka” yang melengkapi pendidikan formal mereka.
Dalam berbagai kesempatan, Cheriatna menekankan bahwa perjalanan bukan hanya tentang berpindah tempat, tetapi juga tentang memperkaya cara pandang. Anak-anaknya diajak melihat bahwa dunia luas dan keberagaman adalah kenyataan yang harus dihormati.
Mereka belajar bahwa di mana pun kaki berpijak, sikap rendah hati, empati, dan rasa syukur selalu relevan. Nilai-nilai inilah yang terus ia pegang, berakar dari ajaran keluarga dan tradisi Sunda untuk saling mengasihi, saling menguatkan, dan saling membimbing.
Kisah hidupnya memberi pesan yang mencerahkan bahwa latar belakang ekonomi bukanlah batas permanen. Anak petani tanaman hias pun punya peluang tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan visioner selama ada semangat belajar, etika kerja yang baik, dan komitmen untuk membangun keluarga.
Keberanian Mencoba
Pada saat yang sama, kisah Cheriatna juga mengingatkan bahwa keberhasilan tidak datang dalam semalam. Namun tumbuh dari kebiasaan kecil yang konsisten, kemampuan bangkit dari kegagalan, serta keberanian untuk terus mencoba.
Dari sisi pendidikan, perjalanan hidup Cheriatna juga memberi perspektif menarik yang menunjukkan bahwa meski pendidikan formal penting dan tetap harus dihargai, pembelajaran sepanjang hayat tidak kalah bermakna.
Dunia kerja, pergaulan, dan tantangan hidup dapat melatih ketangguhan mental, kecerdasan sosial, dan kepekaan moral. Semua ini menjadi bekal yang tidak tertulis di selembar ijazah, tetapi berpengaruh besar pada cara seseorang menjalani hidup.
Ketika banyak orang mungkin merasa terbatasi oleh keadaan, ekonomi sulit, pendidikan terbatas, atau lingkungan yang tidak mendukung, Cheriatna menunjukkan bahwa langkah kecil tetap berarti selama diiringi komitmen, disiplin, dan nilai kejujuran.
Dengan dukungan keluarga dan tekad yang terjaga, jalan keluar sering kali terbuka perlahan. Keberhasilan bukan tentang mengalahkan orang lain, melainkan tentang mengalahkan rasa menyerah pada diri sendiri.
Yang tidak kalah penting, kisah ini menegaskan kembali makna keluarga dalam perjalanan hidup manusia. Di tengah dunia yang semakin sibuk dan kompetitif, ada kebutuhan untuk menyeimbangkan kerja dan kehidupan rumah tangga.
Cheriatna mencoba menjaga kesadaran bahwa keluarga bukan penonton dari kesuksesannya, tetapi bagian utama dari perjalanan itu sendiri. Dengan cara ini, keberhasilan menjadi lebih manusiawi, tidak sekadar deretan angka di laporan keuangan.
Kisah Cheriatna bukanlah cerita sensasional, melainkan refleksi tentang daya tahan harapan, bahwa siapa pun, dari latar belakang apa pun, dapat bertumbuh sejauh mungkin jika mau belajar, bekerja keras, beradaptasi, dan menjaga nilai-nilai kebaikan.
Jalan setiap orang memang berbeda. Namun ada benang merah yang dapat dipetik bahwa hidup akan selalu memberi kesempatan bagi mereka yang bersungguh-sungguh.
Bahwa keberhasilan sejati tidak hanya diukur dari seberapa jauh seseorang melangkah, tetapi juga dari seberapa kuat ia menjaga pijakan nilai serta memberikan manfaat bagi orang-orang terdekatnya.
Jika suatu hari ada anak muda dari pelosok wilayah kecil yang merasa masa depannya suram karena keterbatasan, kisah ini mungkin bisa menjadi pengingat. Bahwa masa depan adalah proses, bukan hadiah instan. Bahwa latar belakang bukan akhir cerita, melainkan awal perjalanan.
Kisah Cheriatna membuktikan bahwa keyakinan, kerja keras, serta kasih sayang keluarga mampu menuntun langkah seseorang menembus batas yang barangkali pernah dianggap mustahil.
Cheriatna membawa keluarganya mewujudkan mimpi untuk membangun bisnis dari titik nol.
(ANT/DEL)