Wakil Bupati Humbahas, Yunita Rebecca Marbun saat menghadiri Festival Solu. (Analisadaily/istimewa)
Analisadaily. com, Humbahas- Festival Solu yang digelar pada, pada 30–31 Desember 2025 lalu di Pelabuhan Baktiraja, Desa Marbun Toruan, Kecamatan Baktiraja, Kabupaten Humbang Hasundutan, adalah cara merawat dua hal sekaligus, warisan budaya dan ekosistem Danau Toba. Hal tersebut diungkapkan Direktur Eksekutif Hariara Institute, Barita Lumbanbatu pada Analisadaily.com, Senin (5/1/2025).
Menurutnya, promosi wisata tidak boleh berdiri sendiri tanpa kepedulian pada danau dan orang-orang yang hidup darinya. “Kalau danau rusak, budaya dan ekonomi warga juga ikut melemah. Jadi festival ini kami dorong sebagai ruang belajar bersama dan ajakan untuk bertanggung jawab,” ujarnya.
Suara dari lapangan seperti yang diungkap, seorang nelayan asal Desa Sinambela, Simanullang yang menyebut, hasil tangkapan ikan mulai menurun dan meminta perhatian serius pada kesejahteraan keluarga nelayan Danau Toba, khususnya di Bakkara. “Ikan sudah mulai berkurang. Perhatikan kesejahteraan nelayan Danau Toba, apalagi di Bakkara,” katanya.
Keluhan itu menjadi salah satu bahan utama diskusi. Warga membicarakan perubahan kualitas air, tekanan terhadap habitat ikan, sampai kebiasaan kecil yang bisa berdampak besar, seperti mengurangi sampah plastik di pesisir dan menjaga kebersihan titik-titik sandar perahu. Bagi peserta, diskusi terasa dekat karena yang dibicarakan adalah hal yang mereka alami sehari-hari.
Dalam festival ini, aksi lingkungan tidak berhenti pada ajakan. Panitia bersama warga melakukan penebaran 2.000 bibit ikan air tawar. Wakil Bupati Humbang Hasundutan, Yunita Rebecca Marbun, yang hadir di lokasi menegaskan kegiatan ini harus dipahami sebagai gerakan bersama, bukan seremonial. “Bukan sekadar festival, tapi gerakan,” ujarnya.
Ia berharap langkah-langkah sederhana seperti penebaran bibit ikan dan edukasi publik bisa memantik kepedulian yang lebih konsisten menjaga Danau Toba,"sebutnya.
Di panggung utama, festival menggabungkan diskusi dan ekspresi budaya. Anak muda dan pelajar didorong untuk tampil, berdialog, dan ikut mengurus acara. Konsepnya sederhana: budaya tidak dipajang seperti museum, tetapi dihidupkan sebagai praktik. Pada malam hari, panggung diisi musik, tari, puisi, hingga monolog dari pelajar dan komunitas seni lokal.
Selain panggung, perhatian pengunjung banyak tersedot ke atraksi solu. Tim Akademi Solu tampil menunjukkan teknik mendayung, kekompakan, dan formasi. Bagi masyarakat awam, ini terlihat seperti latihan biasa. Namun bagi pembina, solu adalah olahraga dan disiplin yang bisa dibangun serius, bahkan menjadi magnet baru sport tourism di Danau Toba.
Pelatih Tim Akademi Solu, Jun Manik, berharap pembinaan atlet solu bisa berlanjut. Ia menilai potensi anak-anak di Bakkara besar, tinggal diberi ruang dan konsistensi latihan. “Kami ingin ikut kompetisi, mulai dari lokal, nasional, sampai skala internasional,” katanya.
Harapan itu diamini sejumlah orang tua yang hadir, karena solu bisa menjadi wadah positif bagi generasi muda sekaligus mengangkat kebanggaan kampung.
Tak hanya itu, kegiatan di pelabuhan juga diwarnai edukasi keselamatan beraktivitas di perairan dan pengenalan kawasan Bakkara bagi pengunjung. Di sela acara, beberapa peserta sempat menikmati Danau Toba dari atas perahu, melihat langsung perbukitan hijau yang menjadi latar alami Baktiraja. Dari sini, orang mudah paham mengapa Bakkara punya daya tarik besar: pemandangan, budaya, dan keramahan warga bertemu dalam satu tempat.
Dukungan pemerintah setempat juga menguatkan pesan festival. Paber Simanullang, perangkat Camat Baktiraja, menilai kegiatan seperti Festival Solu perlu sering dilakukan agar dampaknya terasa. “Kegiatan seperti ini harus sering diadakan. Kalau rutin, bisa mendongkrak pariwisata di Bakkara, dan warga juga merasakan manfaatnya,” ujarnya.
Pada akhirnya, Festival Solu di Pelabuhan Baktiraja, Desa Marbun Toruan, menjadi etalase yang lengkap: ada budaya, ada isu lingkungan, ada pembinaan anak muda, dan ada harapan ekonomi warga.
Bagi wisatawan, festival ini menawarkan alasan baru datang ke Bakkara bukan hanya menikmati pemandangan Danau Toba, tetapi juga melihat bagaimana tradisi dan gerakan merawat alam tumbuh dari kampung.
Jika konsisten digelar, festival seperti ini bisa menjadi “pintu masuk” promosi yang lebih adil: bukan sekadar menjual panorama, tetapi mengangkat cerita dan kerja warga pesisir yang menjaga danau. Karena pada akhirnya, Danau Toba bukan milik poster. Ia milik orang-orang yang hidup di sekitarnya, dan itu yang sedang diperjuangkan lewat Festival Solu.
(YY)