Oleh : Ir.Taufan Agung Ginting, MSP

Refleksi 53 Tahun Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan

Refleksi 53 Tahun Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan
Refleksi 53 Tahun Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (Analisadaily/istimewa)

1. Sejarah

PDI PERJUANGAN (sebelumnya PDI-1973) adalah Fusi dari PNI, Murba, IPKI, Parkindo, dan partai Katolik. Pada Tahun 1987 menjadi awal PDI menentukan sikap oposisi dari pemerintah, momen kebangkitan kaum soekarnois tidak disukai rezim orde baru (orba), kelompok-kelompok seperti kejawen, rakyat kecil, terpinggirkan, marjinal, atau loyalis Soekarno sering menyebutnya Kaum Marhaen dan dijejalkan ke PDI, inilah cikal bakal embrio pergerakan reformasi nantinya.

Basis pemilih konsisten dan ideologinya kuat hingga pada suatu momen Pemerintah Orba memantik dualisme kepemimpinan DPP PDI Pro Mega vs PDI Soerjadi pada kongres medan tahun 1996, PDI Pro Mega menolak pelaksanaan kongres Medan yang di Backup rezim orba. Pecahnya kerusuhan kudatuli yang sebelumnya di DPP PDI Diponegoro 58 telah berlangsung mimbar bebas selama berjam-jam, berhari-hari, bahkan berbulan-bulan dengan tujuan menggalang kekuatan Pro Demokrasi melawan rezim Orba dan pada saat mimbar bebas masih berlangsung.

Kader dan simpatisan yang terus berjaga di Lokasi DPP PDI Jl. Diponegoro diserang oleh sekelompok pemuda berambut cepak berkaos merah yang santer kabar mereka adalah pdi Soerjadi dalam hal ini memanfaatkan aparat dari Kasdam jaya untuk terus menerobos dan merusak kantor DPP Diponegoro.

Dukungan terhadap PDI Pro Mega semakin bertambah dari berbagai elemen Masyarakat, mahasiswa, dan kader yang berdatangan dari lintas daerah, beberapa jam aksi penyerangan yang tiada henti hingga disebutlah sebagai sabtu kelabu atau Kudatuli (27 Juli 1996). Peristiwa ini kemudian berlanjut menjadi akumulasi bentuk perlawanan Masyarakat Indonesia pada umumnya di Tahun 1998.

Sejarah mencatat mahasiswa dan para aktivis politik akhirnya berhasil melengserkan Rezim Orde Baru dengan Inisiator Megawati Soekarnoputeri dan berbagai kalangan aktifis lainnya yang ikut bergabung dalam Gerakan massa sehati sepemikiran. Pemilu 1999 pasca lengsernya rezim Orde Baru, berhasil membawa Megawati dan PDI Perjuangan menjadi pemenang pemilu walau pada proses sampai tujuan tertinggi Megawati tidak bisa menjadi Presiden Indonesia hanya menjadi Wakil Presiden. Berangkat dari Sejarah Panjang di atas

Dapat disimpulkan PDI Perjuangan merupakan partai dengan Ideologi Pancasila 1 Juni 1945 mengakar, yang sulit dikalahkan walau sering mendapat serangan tiada henti dari lawan-lawan politiknya.

2. Prestasi

Secara personal Ketua Umum PDI Perjuangan banyak menorehkan prestasi, bahkan Megawati sendiri berangkat dari karier terendah pada Pengurus DPC PDI Jakpus 1986, kemudian terpilih menjadi anggota DPR RI tahun 1987, Api semangat perjuangan Megawati Berbuah ragam anugerah kehormatan atas jasanya dalam bidang politik, sosial pemerintahan dan demokrasi pasca Reformasi 1999. Secara kepartaian, PDI Perjuangan merupakan satu-satunya Parpol di Indonesia dengan kualitas Sistem Manajemen Mutu Organisasi Terbaik Se Asia Tenggara, dan hanya PDI Perjuangan yang melampauinya dalam sertifikat International Organization for Standardization (ISO) 9001 2015 setelah dilakukan audit berkala oleh lembaga Sertifikasi Internasional Certification Services Management (ICSM) Indonesia.

Banyak juga prestasi dan pencapaian PDI Perjuangan dalam skala nasional yang menyangkut hajat hidup orang banyak.

3. Konflik Internal

Dengan kebesaran Partai seperti PDI Perjuangan maka sudah dipastikan tidak terlepas dari badai. Mulai dari kisruh kader dengan pengurus yang menghalangi proses perjuangan kader, ketidakpuasan dengan Kebijakan Partai, dan bahkan berpindah partai karena ketamakan dan ketidakpuasan posisi, jabatan dan tawaran menggiurkan lawan politik. Bagi PDI Perjuangan ini menjadi mudah karena PDIP punya akar ideologi yang kuat dan melekat yang jika kader tak memilikinya maka akan tereliminasi dengan sendirinya.

Perlu diingat jika tidak ada reformasi, maka tidak akan ada petani jadi bupati, tidak ada rakyat miskin jadi perwakilan rakyat dan tidak akan ada tukang kayu jadi presiden, “jas Merah, jangan sekali kali melupakan sejarah. Megawati hanya punya kekuatan rakyat, disana mungkin punya logistik, disana punya militer, disana punya birokrat pemerintah dari pelosok desa sampai propinsi dan pusat.

Bahkan narasi PDI Perjuangan tanpa Mantan Presiden ke 7 Jokowi, akan tenggelam, terbantahkan, sampai saat ini PDIP tak terkalahkan dalam pemilu berturut sejak 1999 sampai pada pemilu 2024, tak tergeser dari 3 posisi besar dan selalu pemenang suara legislatif di DPR RI dengan jumlah kursi yang konsisten selalu memimpin.

4. Kritik dan Evaluasi

Di momen Hari ulang tahun PDI Perjuangan ke 53 (10 januari) ini kekuatan PDI Perjuangan di senayan masih kokoh berdiri dalam bagian Oposisi Tunggal, dalam hal ini ibu Megawati tampaknya sudah mulai mengalami unprogresif hal ini ditunjukkan dengan kader kader muda di daerah yang tidak mampu menerjemahkan dan mengaplikasikan apa yang menjadi pesan demokrasi Ibu Megawati di dalam Pelaksanaan Konferda dan konfercab PDI Perjuangan di beberapa daerah di Indonesia, padahal konferda dan konfercab menjadi momentum penting konsolidasi organisasi, konsolidasi personal, sesuai perkembangan zaman, sekaligus penguatan ideologi partai, khususnya bagi kader-kader muda PDI Perjuangan yang perlu banyak dilibatkan dalam struktur, dikader, dibangun militansi kader, diskusi dengan senioren partai untuk menambah semangat juang.

Lintas kepemimpinan DPD, DPC, Ranting- Anak Ranting Se-Indonesia tegas menolak praktik politik kelompok atau faksi di dalam tubuh partai, menolak praktik politik yang mengambil nilai ekonomi dari kemampuan seseorang tanpa menempah semangat Perjuangan yang menjadi sumber potensi kader untuk menjadi Kader Militan dengan loyalitas tanpa batas. Seperti yang disampaikan salah satu Senioren Partai PDIP di Sumut "Tidak ada kubu-kubuan, tidak ada grup-grup di partai. Semua kader harus satu barisan dan patuh pada garis perjuangan partai.

Pada akhirnya kebenaranlah yang akan menang, harus tetap menjadi pegangan hidup dan keteguhan hati para kader kader muda PDI Perjuangan dan basis wong cilik yang tak boleh lepas dari nafas Pergerakan PDI Perjuangan, Merdeka!

5. Bencana Banjir Bandang 2025

Pada akhir bulan November 2025 Indonesia diterpa bencana banjir bandang dahsyat disertai kiriman gelondongan kayu yang entah darimana muasalnya. Lokasi persisnya berada di tiga provinsi besar yakni Aceh, Sumut dan Sumbar. Ditengah perdebatan panjang antara pemerintah pusat dan daerah soal penentuan status bencana nasional atau bencana daerah, PDI Perjuangan yang dalam semangat perjuangan dalam diam telah mengirim “Kapal Malahayati” yaitu Rumah Sakit Apung milik PDI Perjuangan ke daerah terdampak bencana. Rumah sakit apung ini disiapkan langsung oleh Ketua Umum PDI Perjuangan, Ibu Megawati Soekarnoputri.

Ibu Megawati tanpa bersuara, tanpa banyak gimmick di sosial media mengirim Kapal Malahayati, Rumah Sakit Apungnya, serta dokter-dokter tim kesehatan dan mengutus Pengurus DPP PDIP yang berada di bawah naungan Baguna dan Tim Medis antara lain Ibu Risma tri harini, dr Ribka Tjiptaning dan Ganjar Pranowo, untuk berkeliling di tiga daerah bencana. Pengerahan Rumah Sakit Apung ini merupakan bentuk kehadiran nyata PDI Perjuangan dalam membantu korban terdampak Banjir.

Selain RS Terapung Malahayati PDIP turut mengirim bentuk bantuan lainnya yang terdiri dari 30 ambulans, motor trail, 30 dokter dan relawan medis, memberikan Healing Therapy bagi anak anak yang terdampak, Bantuan 3 Ton Logistik yang terdiri dari Pakaian, Pompa Air dan Lampu Emergency yang semuanya baru. DPP PDI Perjuangan juga membuka “Sekolah darurat perjuangan” untuk Kedepankan kebijakan mitigasi bencana berbasis sains, lingkungan dan kearifan lokal. Megawati turut menyertakan Buku panduan “Spirit of Humanity” buku yang berisikan pedoman penting mitigasi bencana berbasis sains serta early warning sistem.

Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengungkapkan, Kapal dan sejumlah bentuk bantuan ini adalah hasil gotong royong kader partai, ujarnya dalam sambutannya saat melepas keberangkatan bantuan beserta tim kesehatan PDI Perjuangan ke titik bencana di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat.

Semangat kemanusiaan seharusnya tidak mengenal sekat geografis, kepedulian terhadap sesama manusia lahir dari nilai nilai kemanusian yang universal. Indonesia selama ini dikenal aktif memberikan bantuan kemanusiaan di dunia internasional, maka sudah sangat wajar Indonesia juga membuka diri atas solidaritas global. (Penulis adalah mantan Sekretaris DPD PDI Pro Mega / PDI Perjuangan Sumut 1996 - 2000, mantan Wkl Ketua DPD PDI Perjuangan Sumut 2000 - 2019. Anggota DPRD Provinsi Sumut 1999 - 2014. Dan Tenaga Ahli Ketua DPRD Kota Medan 2014 - 2018).

Berita kiriman dari: Mantan Wkl Sekretaris DPD PDI Sumut 1994 -1996

Baca Juga

Rekomendasi