KETIKA semua pihak menyatakan perlu kehadiran pers berkualitas. Lalu lahir pertanyaan : Pers berkualitas itu, seperti apa ?
Para pemilik dan pengelola media, sejak awal tentu berorientasi pada kualitas. Mungkin pihak pers dan publik bersamaan sepakat setidaknya tiga hal mencerminkan pers berkualitas yakni :
Pertama, sajian dengan konten, tergolong sebagai informasi bermutu. Informatif.
Kedua, pers tetap konsisten melakukan kontrol sosial. Sisi pengawasan publik yang disalurkan melalui media. Meski, mungkin hasil kerja awak media atau informasi dari publik yang digaungkan media.
Ketiga, pers memiliki kemampuan sebagai “jembatan” bagi pihak penguasa dan rakyat. Peran menjembatani kedua pihak dengan sikap menerapkan independensi.
Nah. Agar tiga hal itu tercapai. Pihak pers antara lain patut melakukan verifikasi. Guna menjamin pemberitaan yang akan disiarkan akurat, dilakukan pemeriksaan data. Mencocokkan data, sehingga tiada keraguan, tak ada kesalahan. Jadilah informasi akurat.
Di sini, wartawan berperan sebagai verifikator. Jika sebutan ini melekat pada wartawan, bermakna kerja-kerja jurnalistik awak media memang menunjukkan tanggungjawab.
Kebijakan dari ruang redaksi begitu ketat. Boleh dibilang, yang diatur yakni ruang redaksi. Bukan ruang pemilik media. Pengaturan dari ruang redaksi, termasuk verifikasi. Sesungguhnya memastikan informasi yang akan sampai ke publik memang benar adanya. Tidak perlu diragukan, bahkan jauh sebagai berita bohong.
Saat ini. Sama kita maklumi tentang kebanjiran informasi. Melimpahnya informasi antara lain karena kemajuan teknologi informasi. Belahan dunia tak mampu menahan arus informasi yang oleh sebagian publik menyebut informasi tanpa batas, tanpa mengenal waktu.
Sebagian publik mengkhawatirkan bahkan menyatakan sebagai hal yang menakutkan. Mengapa? Jika sebagian informasi itu tidak benar apalagi fitnah, tentu merusak banyak sisi. Merugikan publik dalam kapasitas besar.
Tidak mengherankan. Kalau akhir-akhir ini. Berulang-ulang lembaga pers seperti Dewan Pers, juga organisasi kewartawanan seperti Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Ikatan Ikatan Jurnalis Televisi Indoensia. Juga para tokoh pers, akademisi yang terkait langsung dengan mata kuliah ilmu jurnalistik/ilmu komunikasi, para politisi-politisi serta penguasa, semua mengingatkan bahaya informasi tanpa verifikasi.
Mengapa verifikasi sangat penting ? Tujuan utama verifikasi yakni memastikan data benar. Mencocokkan hal-hal atau unsur-unsur dalam berita itu tepat. Tindakan memeriksa data dengan cepat guna menghindari data informasi yang tidak benar atau keliru.
Dalam kondisi melimpahnya informasi. Kini, langkah terbaik yakni kantor media menetapkan kebijakan verifikasi. Tentu dengan awak media sebagai verifikator. Justru, konsistensi check and recheck, dari sisi lain melahirkan integritas media di mata publik.
Suatu hal pasti. Publik menilai media terkait kejujuran/kepercayaan dan integritas (trust and integrity).
Media akan mendapat predikat sebagai media yang dapat dipercaya dan integritas tinggi, antara lain jika pemberitaannya menjalani tahapan verifikasi.
Kiranya wartawan berperan sebagai verifikator. Sehingga lahir sajian bermutu dan informasi akurat.











