Kepala OJK Sumut Khoirul Muttaqien (Analisadaily/Istimewa)
Analisadaily.com, Medan - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sumatera Utara (Sumut) menilai stabilitas sektor jasa keuangan di Sumut tetap terjaga hingga Desember 2025, dengan kinerja yang terus berkontribusi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Aktivitas manufaktur global masih berada di zona ekspansi meskipun mengalami moderasi laju, seiring dengan menurunnya kepercayaan konsumen global.
"Pertumbuhan ekonomi dunia diprediksi melandai, lebih rendah dari rata-rata pertumbuhan pra pandemi. Perekonomian Amerika Serikat tumbuh lebih besar dibanding kuartal sebelumnya
sebesar 4,3 persen (seasonally adjusted annual rate/saar) diiringi dengan moderasi pasar tenaga kerja dan penurunan tingkat inflasi pada November 2025," kata Muttaqien, di Medan, Selasa (13/1).
Sementara itu, di Tiongkok perlambatan ekonomi masih berlanjut dengan konsumsi rumah
tangga masih tertahan. Dari sisi penawaran, Purchasing Manager Index (PMI) manufaktur kembali ke zona kontraksi, dan tekanan di sektor properti masih berlangsung.
Perkembangan tersebut mendorong sejumlah bank sentral menempuh kebijakan akomodatif seperti yang dilakukan The Federal Reserve dan Bank of England (BoE) dengan memangkas suku bunga acuan masing-masing sebesar 25 basis point (bps).
"Sebaliknya, Bank of Japan menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam tiga dekade terakhir," ungkapnya.
Di awal tahun 2026, kata Muttaqien, pelaku pasar masih mencermati perkembangan geopolitik di Venezuela dan potensi dampaknya terhadap stabilitas politik dan pasar keuangan global secara keseluruhan.
Di tengah dinamika global tersebut, perekonomian domestik pada Desember 2025 mencatatkan inflasi inti yang meningkat. Sektor manufaktur terpantau masih ekspansif dan kinerja eksternal tetap terjaga dengan neraca perdagangan yang masih mencatatkan surplus. Perekonomian Sumut Sementara itu, Muttaqien menambahkan perekonomian Sumut sepanjang 2025 bergerak dalam tren yang relatif terjaga, meskipun menghadapi tekanan dari lingkungan global dan faktor domestik.
"Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa pada Triwulan III-2025, ekonomi Sumatera Utara tumbuh 4,55 persen (YoY)," ujarnya.
Kinerja ini terutama ditopang oleh aktivitas sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang masih menjadi jangkar ekonomi daerah, disertai kontribusi kuat dari perdagangan besar dan eceran serta
real estate.
Dari sisi pengeluaran, ekspor barang dan jasa tetap menjadi motor penting pertumbuhan, sejalan dengan masih solidnya permintaan terhadap komoditas unggulan Sumut, khususnya kelompok lemak dan minyak hewan/nabati serta produk kimia.
Struktur pertumbuhan ini mencerminkan bahwa
ekonomi Sumatera Utara masih bertumpu pada sektor berbasis sumber daya dan perdagangan, dengan dukungan aktivitas logistik dan transportasi yang terus membaik.
Dari sisi stabilitas harga, perkembangan inflasi pada akhir 2025 menunjukkan tekanan yang meningkat. Inflasi tahunan di Sumatera Utara tercatat 3,96 persen pada November 2025, kemudian naik menjadi 4,66 persen pada Desember 2025.
Kenaikan ini terutama dipicu oleh gangguan pasokan pangan akibat cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan longsor, yang berdampak pada distribusi komoditas strategis.
Beberapa bahan pangan bergejolak, khususnya cabai rawit dan bawang merah, mengalami kenaikan harga signifikan menjelang akhir tahun. Pola ini mengindikasikan bahwa inflasi di Sumatera Utara masih sangat dipengaruhi oleh faktor sisi penawaran dan musiman, sementara tekanan dari sisi permintaan relatif terkendali.
Dinamika tersebut menegaskan pentingnya
penguatan ketahanan pasokan dan kelancaran distribusi pangan sebagai kunci menjaga stabilitas harga di tingkat daerah. (REL/WITA)











