Kadispora Kota Medan: Sudah Memberi Sumbangan Jangan Menebar Opini Yang Tak Baik Atau Menjurus Ke Fitnah (Analisadaily/Istimewa)
Analisadaily.com, Medan - Menanggapi dugaan pungli yang dialamatkan kepadanya, Kadispora Kota Medan, Tengku Chairuniza membantah keras. Ia menegaskan uang tersebut bukan retribusi wahana berkuda dan skuter.
“Sampai saat ini belum ada peraturan daerah (perda) untuk wahana berkuda dan skuter. Tidak mungkin kami melakukan pengutipan jika dasar aturannya belum ada,” ujarnya kepada wartawan, Senin (19/1).
T. Chairuniza yang biasa disapa Yudi ini menyebut, dana tersebut merupakan bentuk partisipasi atau sumbangan dari pengelola wahana untuk kebutuhan fasilitas masjid di kawasan Taman Cadika.
“Saya kebetulan meningkatkan fungsi musala di Taman Cadika menjadi masjid. Kami membutuhkan fasilitas, seperti saf pembatas antara pria dan wanita, serta jam digital penunjuk waktu salat. Jadi uang itu untuk fasilitas masjid, bukan retribusi wahana,” katanya.
Ia juga membedakan hal tersebut dengan pengutipan retribusi terhadap pedagang UMKM di Taman Cadika yang, menurutnya, telah memiliki dasar hukum. “Kalau retribusi UMKM memang sudah ada perda dan perwal-nya. Tapi wahana berkuda dan skuter belum ada aturannya. Bagaimana kami mau mengutip,” ujarnya.
Dia mengakui dana Rp2,1 juta yang ditransfer melalui stafnya telah empat kali. "Empat kali dana yang diberikan bukan berarti tiap bulan dikasih selama empat bulan, buktinya bulan sepuluh, sebelas dan dua belas tidak ada diberi, dan logika kita bersama kalau merasa dipungli pasti pemberian pertama sudah komplain, mengeluh dan protes walau hanya di belakang. Tapi ini sudah memberi sumbangan dana yang ke empat, kenapa setelah pemberian dana ke empat baru ribut, dan saya tidak pernah meminta " ujarnya.
Mantan Camat Medan Kota dan Sunggal itu memastikan, uang tersebut hingga kini masih disimpan. “Masih dipegang uangnya, sekitar empat bulan. Itu untuk sumbangan jam digital masjid. Tidak ada untuk pribadi. Ini karena hubungan pertemanan. Bukannya besar juga dananya. Ada yang bilang jam digital untuk Kadispora, padahal untuk masjid, untuk infak. Anggota yang terima itu,” ungkapnya.
Terkait pemberitaan yang beredar, aktivis Sumut yang juga Ketua NGO di Kota Medan, Ahmad Rizal atau yang akrab disapa Bang Bhoy angkat bicara.
"Menurut saya ini masalah mis-komunikasi atau salah paham antara sahabat dan saya yakin, mereka orang-orang baik yang ingin memajukan olahraga dan akan bercita cita agar olahraga berkuda ini berprestasi. Saya bermohon buat kita semua tidak perlu membesar besarkan masalah ini, receh kali dan itu pun belum tahu benar atau salahnya," tutup Bang Bhoy.
(HEN/RZD)