Analisadaily.com, Medan - Bencana hidrometeorologi yang melanda Sumatera Utara (Sumut) pada akhir November 2025 menyebabkan kerusakan serius terhadap sektor pertanian. Sekitar 31.000 hektare lahan pertanian terimbas bencana ini, dengan rincian kerusakan yang dikelompokkan dalam tiga kategori.
Kerusakan ringan melanda sekitar 22.274 hektare, sementara kerusakan sedang tercatat seluas 4.500 hektare, dan kerusakan berat mencakup 4.354 hektare.
Untuk kerusakan ringan masih dapat diperbaiki.
Menurut Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan TPH Sumut, Yusfahri Peranginangin, kerusakan ringan diakibatkan oleh banjir yang melanda sejumlah kabupaten, seperti Batubara, Deliserdang, Asahan, Medan, Tebingtinggi, Langkat, Madina, Serdang Bedagai (Sergai), Pakpak Bharat, Simalungun, dan Tapanuli Selatan (Tapsel). Meski tergenang air, lahan pertanian yang rusak ringan tersebut masih dapat ditanami kembali.
"Kerusakan yang terjadi hanya sementara, dan tidak berdampak signifikan terhadap pencapaian target beras tahun 2026 yang dipatok sebanyak 2,2 juta ton, atau setara dengan 3,5 juta ton gabah kering giling (GKG). Dengan luas lahan pertanian mencapai 319.000 hektare, kita masih bisa menanam dua kali dalam setahun, bahkan beberapa daerah sudah dapat menanam hingga 2,5 hingga 3 kali dalam setahun," kata Yusfahri, saat ditemui di Medan, Rabu (21/1/2026).
Untuk mengatasi kerusakan ini, pemerintah telah menyalurkan bantuan benih padi ke sejumlah kabupaten yang terdampak, antara lain Batubara, Sergai, Langkat, dan Tapanuli Tengah.
"Kami mengganti padi yang rusak, baik melalui dana APBN, APBD, maupun dana kabupaten/kota," jelasnya.
Dijelaskan, hampir 15.000 hektare lahan yang rusak ringan telah ditanami kembali. Yusfahri optimistis hal ini tidak akan mengganggu proses pertanaman secara signifikan.
Untuk kerusakan dengan kategori sedang, sekitar 4.500 hektare lahan mengalami dampak yang lebih serius. Daerah yang terdampak antara lain Kabupaten Mandailing Natal (Madina) dengan sekitar 2.000 hektare, Tapanuli Selatan (Tapsel) 400-an hektare, Tapanuli Tengah (Tapteng) 1.000-an hektare, dan Tapanuli Utara (Taput) 800-an hektare.
Kerusakan sedang ini disebabkan oleh material seperti kayu, pasir, dan batu yang menutupi lahan pertanian, menyebabkan sedimentasi dengan ketinggian rata-rata 30 hingga 50 cm.
Yusfahri menjelaskan, perbaikan terhadap lahan yang terdampak sedang sudah dilakukan di Tapteng, dan pihaknya berencana untuk memperluas rehabilitasi ini ke daerah lain dalam tiga bulan ke depan, bekerja sama dengan Kementerian Pertanian (Kementan) dan TNI AD.
Menyusun Rencana Jangka Panjang
Sementara itu, kerusakan berat melanda 4.354 hektare lahan. Di beberapa lokasi, ketinggian sedimentasi yang menutup lahan mencapai 2 hingga 3 meter. Kabupaten yang terdampak di antaranya Humbang Hasundutan (Humbahas), Madina, Taput, dan Tapteng.
"Untuk lahan yang tertutup batu, kayu, dan pasir setinggi 2-3 meter ini, kita harus berdiskusi dengan petani untuk menentukan langkah selanjutnya. Jika ingin dijadikan sawah, biaya yang dibutuhkan sangat besar. Alternatif yang bisa dipertimbangkan adalah mengganti komoditas pertanian dengan perkebunan atau sayuran," ungkap Yusfahri.
Meskipun menghadapi tantangan besar akibat bencana ini, Yusfahri tetap optimis bahwa sektor pertanian di Sumut akan pulih dan mampu mencapai target produksi beras yang telah ditetapkan. Harapannya, bencana hidrometeorologi serupa tidak akan terulang, sehingga produksi beras sebesar 2,2 juta ton dapat tercapai sesuai rencana.
"Ke depan, kita akan terus berupaya agar pertanian Sumut tetap berjalan lancar, dan produksi beras dapat terus meningkat," tutupnya. (MUL)











