Detail dan Humanis, Sofyan Tan Jelaskan Awal Mula Stunting Sejak Dalam Kandungan (Analisadaily/Istimewa)
Analisadaily.com, Medan – Anggota Komisi X DPR RI, dr. Sofyan Tan, memaparkan secara rinci tahapan pencegahan stunting mulai dari kondisi ibu hamil hingga indikator fisik bayi setelah lahir dalam kegiatan Bimbingan Teknis Faktor Risiko Stunting pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan.
Kegiatan yang digelar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bekerja sama dengan Komisi X DPR RI itu berlangsung di Hotel Le Polonia, Medan, Jumat (13/2).
Menurut Sofyan Tan, seribu hari pertama kehidupan setara dengan 36 bulan atau tiga tahun, periode emas yang menentukan kualitas tumbuh kembang anak. Pencegahan stunting, tegasnya, harus dimulai sejak dalam kandungan.
“Stunting dimulai dari kondisi ibu saat hamil. Kalau ibunya kurang gizi, mukanya pucat, sering pusing, tensi rendah, kurang darah, itu sudah menjadi faktor risiko,” ujarnya.
Sofyan Tan menjelaskan, faktor kemiskinan kerap menjadi penyebab ibu hamil kekurangan asupan gizi. Tidak sedikit ibu yang harus membagi perhatian dan makanan untuk banyak anak. Bahkan, dengan nada humanis, ia menyebut ibu sebagai “pembohong terbesar” bagi anak-anaknya.
“Saat anak makan, ibu bilang sudah makan, padahal belum. Ia menahan lapar demi anaknya lebih dulu makan,” katanya, menggambarkan realitas pengorbanan yang justru bisa berdampak pada kesehatan ibu dan janin.
Selain gizi, jarak kehamilan juga menjadi faktor penting. Kehamilan yang terlalu dekat dengan persalinan sebelumnya berisiko tinggi. Tubuh ibu yang belum pulih sepenuhnya, bahkan masih menyusui, sudah harus mengandung kembali.
“Kurang dari setahun sudah melahirkan, sudah hamil lagi. Bentuk tubuh belum normal,” jelasnya.
Memasuki tahap kelahiran, Sofyan Tan menekankan pentingnya usia kehamilan ideal, yakni 38 hingga 40 minggu. Bayi yang lahir di bawah 32 minggu atau sekitar tujuh bulan berisiko mengalami gangguan perkembangan organ.
Jika lahir sebelum tujuh bulan, sekat dan katup jantung belum menutup sempurna sehingga oksigen dan karbon dioksida dapat bercampur. Akibatnya, suplai oksigen tidak optimal dan menghambat perkembangan anak.
Ia juga menguraikan ukuran ideal bayi baru lahir. Untuk bayi perempuan, berat badan normal berkisar 2,4 hingga 3,7 kilogram, sedangkan laki-laki 2,5 hingga 3,9 kilogram. Panjang badan umumnya antara 46 hingga 53 sentimeter. Selain berat dan panjang badan, ukuran kepala harus diperhatikan agar proporsional dan dengan tubuh.
Jika pada usia satu hingga dua tahun kulit anak tampak kering, bersisik, dan lambat kembali saat dicubit, itu bisa menjadi tanda kekurangan gizi. Anak juga cenderung rewel, mudah menangis, dan kurang ceria.
Sebagai solusi, Sofyan Tan menekankan pemenuhan gizi ibu hamil dengan konsumsi protein tinggi seperti telur dan ikan. Setelah bayi lahir, pemberian ASI eksklusif menjadi langkah wajib untuk memastikan pertumbuhan optimal.
Melalui kegiatan ini, Sofyan Tan berharap pemahaman masyarakat semakin kuat bahwa pencegahan stunting bukan hanya soal tinggi badan, melainkan tentang masa depan intelektual dan kualitas generasi bangsa yang ditentukan sejak 1.000 hari pertama kehidupan yang dimulai dari saat usia ibu hamil.
Peneliti Ahli Muda BRIN, Slamet Riyanto, S.Gz., M.PH., menyampaikan bahwa persoalan stunting menyangkut semua kalangan, baik ibu, bapak, maupun remaja. Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, angka stunting di Sumatera Utara masih mencapai 22 persen atau sekitar satu dari lima balita.
Ia menambahkan, selain gizi, stimulasi sejak dini sangat penting untuk perkembangan kecerdasan anak.
“Cegah stunting bukan sekadar supaya anak tidak pendek. Yang lebih penting adalah agar IQ anak tidak jongkok,” ujarnya.
(REL/RZD)