Aroma Pakkat Raja dan Lolap Menggoda Senja Ramadan di Sidimpuan (HIH)
Analisadaily.com, Padangsidimpuan - Sore itu, Selasa (24/2), jarum jam baru menunjukkan pukul 14.30 WIB. Matahari masih cukup terik menyinari Jalan Kenanga, Kota Padangsidimpuan.
Namun di depan Gedung Asuransi Bumiputera, kepulan asap tipis sudah menari di udara, membawa aroma khas batang pakkat yang dibakar perlahan.
Di sanalah Fahmi Hasibuan (44) dan Sincan Nasution (25) memulai rutinitas Ramadan mereka.
Dengan cekatan, keduanya menyusun batang-batang pakkat di atas bara api. Kulit luarnya yang keras dan berduri perlahan menghitam, menyisakan isi yang lembut di dalamnya.
Tak butuh waktu lama, dua pengendara yang melintas langsung menghentikan laju kendaraan. Pakkat, bagi sebagian warga, bukan sekadar makanan, ia adalah penanda datangnya waktu berbuka.
Transaksi berlangsung sederhana. Dua batang pakkat dipotong, dimasukkan ke plastik kecil, lalu berpindah tangan setelah uang Rp10 ribu diterima. Dalam dua hingga tiga jam, ratusan batang biasanya ludes terjual.
“Pakkat ini memang menu favorit warga setiap Ramadan. Jualnya tidak pernah lama,” ujar Fahmi kepada Analisadaily.com sambil tersenyum.
Bagi Fahmi, Ramadan membawa berkah tersendiri. Dalam sehari ia bisa meraup keuntungan antara Rp150 ribu hingga Rp300 ribu.
Hasil yang menurutnya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga, dari pekerjaan yang hanya berlangsung beberapa jam menjelang magrib.
Namun di balik kesederhanaan sajian ini, ada proses panjang yang tak banyak diketahui pembeli.
Pakkat adalah tanaman liar yang tumbuh di pedalaman hutan dan bantaran sungai. Batangnya dipenuhi duri dan kerap menjadi pakan gajah liar.
Untuk mendapatkannya, para pencari harus menyusuri kawasan hutan yang tak selalu bersahabat, terlebih saat cuaca buruk.
Ada dua jenis pakkat yang dikenal masyarakat: pakkat raja dan pakkat lolap. Pakkat raja berukuran besar, rasanya tidak pahit, dan dipercaya lebih menggugah selera makan.
Jenis ini banyak ditemukan di kawasan bantaran sungai Pantai Barat, mulai dari Natal, Kabupaten Mandailing Natal, hingga Angkola Sangkunur, Kabupaten Tapanuli Selatan, termasuk di sepanjang aliran Sungai Batang Gadis.
Sebaliknya, pakkat lolap berukuran lebih kecil dengan cita rasa pahit yang khas. Tanaman ini banyak ditemukan di kawasan hutan Padang Lawas Utara, sebagian wilayah Riau, serta sejumlah daerah aliran sungai lainnya di Pantai Barat.
Sebelum sampai ke tangan pembeli, batang pakkat harus dibakar selama dua hingga empat jam agar bagian dalamnya lunak dan mudah dikupas.
Setelah matang, Fahmi tinggal membersihkan kulitnya sesuai pesanan. Sederhana, hangat, dan apa adanya.
Di tengah hiruk-pikuk kota yang terus berubah, pakkat tetap bertahan sebagai warisan rasa.
Ia bukan hanya pelengkap berbuka, melainkan juga pengikat kenangan tentang hutan yang memberi, sungai yang mengalir, dan tangan-tangan sederhana yang bekerja sejak siang demi senyum orang-orang saat azan magrib berkumandang.
Dalam asap tipis yang membubung setiap sore Ramadan, terselip cerita tentang tradisi yang tak pernah benar-benar hilang dari Padangsidimpuan.
(HIH/BR)