Guru SDN 30 Pasar Lapan Hidupkan Permainan Tradisional di Era Digital

Guru SDN 30 Pasar Lapan Hidupkan Permainan Tradisional di Era Digital
Hotma Wulansari Sitohang, guru kelas I UPT SDN 30 Pasar Lapan menuangkan sebuah inovasi pembelajaran bertema“Permainan Tradisional di Kalangan Gen Alpha.” (Analisadaily/istimewa)

Analisadaily.com, Batu Bara - Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, anak-anak yang sering disebut sebagai Generasi Alpha tumbuh dalam lingkungan yang sangat akrab dengan internet sehingga keseharian mereka tidak lepas dari media sosial seperti TikTok, You Tube dan game online.

Dunia mereka dipenuhi animasi menarik dan cakap untuk menscroll video-video pendek. Namun, di balik kemajuan tersebut, ada kekhawatiran yang perlahan muncul yakni semakin canggih teknologi maka semakin jauh pula anak-anak dari permainan tradisional yang merupakan warisan budaya bangsa.

Berangkat dari kegelisahan itulah, Hotma Wulansari Sitohang sebagai guru kelas I UPT. SDN 30 Pasar Lapan yang dikenal dengan sapaan Wulan, juga merupakan Fasilitator Daerah Tanoto Foundation kembali menuangkan sebuah inovasi pembelajaran bertema“Permainan Tradisional di Kalangan Gen Alpha.”

"Tujuan dari praktik baik ini sederhana namun bermakna besar, yakni agar murid-murid tetap mengenal, mencintai, dan memainkan permainan tradisional di tengah maraknya game online," katanya.

Lebih dari itu, sambung Wulan, permainan tradisional juga dimanfaatkan sebagai media pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan numerasi, khususnya melalui permainan congkak.

Dalam upaya menghidupkan kembali permainan tradisional maka beberapa permainan tradisional yang diperkenalkan Wulan kepada murid antara lain gasing dari kelapa kecil, lompat karet, egrang batok, engklek,gobak sodor dan congkak.

"Permainan-permainan ini dipilih karena mudah dibuat, tidak memerlukan biaya besar, serta dapat dimainkan secara berkelompok sehingga menumbuhkan interaksi sosial," terangnya.

Seperti Gasing, dibuat dari kelapa kecil menjadi daya tarik tersendiri bagi murid. Mereka tidak hanya belajar memainkan gasing, tetapi juga memahami proses pembuatannya. Dari sini, nilai kreativitas, ketelitian, dan kesabaran diasah. Anak-anak belajar memperkirakan waktu putaran, membandingkan lama putaran antar teman. Aktivitas ini secara tidak langsung melatih kemampuan berhitung dan membandingkan bilangan.

Ada lagi permainan lompat karet yang mengajarkan koordinasi, ketangkasan, serta sportivitas. Suasana riang saat bermain membuat pembelajaran terasa menyenangkan dan jauh dari kesan membebani.

Begitu juga permainan engklek membantu anak mengenal angka melalui kotak-kotak bernomor. Murid melompat sesuai urutan angka sehingga memperkuat pemahaman tentang bilangan berurutan. Selain itu, keseimbangan dan koordinasi motorik juga berkembang dengan baik.

Selain itu, juga permainan Batok Egrang melatih kecepatan mengambil keputusan agar keseimbangan terjaga.Murid belajar menghitung langkah, memperkirakan jarak, serta menyusun strategi agar dapat melewati garis finish. Permainan ini sangat efektif untuk mengasah kemampuan motorik halus dan motorik kasar murid.

Tak ketinggalan permainana congkak menjadi fokus utama dalam praktik baik ini karena sangat kaya unsur numerasi. Dalam permainan congkak, murid harus menghitung biji satu per satu, membagi secara merata ke setiap lubang, serta memperkirakan langkah strategis agar memperoleh hasil terbanyak.

Tanpa disadari, mereka berlatih operasi penjumlahan, pengurangan, bahkan konsep pembagian sederhana.Wulan pun mulai memberikan penjelasan kepada gen alpha tersebut yang nyaris dari seluruh murid tidak mengetahui cara bermainnya.

Dengan demikian, congkak bukan sekadar permainan, melainkan media pembelajaran numerasi yang menyenangkan.
Setelah implementasi, terlihat perubahan signifikan pada murid. Mereka lebih antusias mengikuti pembelajaran, lebih aktif bergerak, serta menunjukkan peningkatan dalam kemampuan berhitung sederhana. Yang paling membahagiakan, mereka mulai menceritakan kembali permainan tersebut kepada orang tua dan teman di lingkungan rumah.

Praktik baik ini membuktikan bahwa pembelajaran tidak harus selalu berbasis teknologi tinggi. Justru dengan kembali pada akar budaya, nilai-nilai kebersamaan, sportivitas, dan kecintaan terhadap warisan bangsa dapat ditanamkan sejak dini.

Permainan tradisional menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan serta menguatkan identitas budaya sekaligus meningkatkan kompetensi numerasi generasi penerus.

Wulan berharap semakin banyak pendidik yang tergerak untuk menghadirkan pembelajaran yang kontekstual, menyenangkan, dan bermakna. Di tengah derasnya arus digitalisasi, permainan tradisional tetap memiliki tempat istimewa dalam membentuk karakter dan kecerdasan anak Indonesia.

(DEL)

Baca Juga

Rekomendasi