ST Bhinneka Gelar PKM Mahasiswa Berdampak 2026 di Desa Pasar Rawa

ST Bhinneka Gelar PKM Mahasiswa Berdampak 2026 di Desa Pasar Rawa
PKM Mahasiswa Berdampak 2026 ST Bhinneka di Desa Pasar Rawa (Analisadaily/Istimewa)

Analisadaily.com, Medan - Upaya pemulihan pascabencana di wilayah pesisir kembali menunjukkan hasil nyata. Sebanyak 50 mahasiswa dari Universitas Satya Terra Bhinneka melaksanakan Program Mahasiswa Berdampak 2026 di Desa Pasar Rawa, Kecamatan Gebang, Kabupaten Langkat, selama 6–28 Februari 2026.

Mengusung tema “Optimalisasi Pekarangan Tangguh Banjir Terpadu untuk Ketahanan Pangan dan Kesehatan Masyarakat Desa Pasar Rawa, Kabupaten Langkat”, program ini dirancang sebagai respons terhadap kondisi desa yang hampir setiap tahun dilanda banjir, termasuk banjir besar pada 2025 lalu. Selama 23 hari, mahasiswa terlibat langsung bersama masyarakat dalam kegiatan rehabilitasi lingkungan, penguatan ketahanan pangan, pemberdayaan ekonomi, hingga pelayanan kesehatan.

Kegiatan lapangan ini didampingi tiga dosen pembimbing, yakni Mia Wananda Varwasih, S.P., M.Si., Ratna Sari, S.Hut., M.Sc., dan Yusmalia Hidayati, S.Tr.Keb., M.Keb., yang memastikan program berjalan terarah dan berdampak.

Salah satu fokus utama program adalah rehabilitasi kawasan pesisir. Bersama masyarakat dan kelompok tani hutan setempat, mahasiswa melakukan penanaman mangrove seluas dua hektare sebagai upaya memperkuat perlindungan alami desa dari abrasi dan banjir rob.

Selain itu, dilakukan pembibitan sebanyak 2.500 propagul mangrove untuk menjamin keberlanjutan rehabilitasi. Langkah ini dinilai strategis dalam memperkuat fungsi ekologis kawasan sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga hutan desa sebagai benteng alami dari bencana.

Pekarangan Tangguh Banjir

Tim PKM Mahasiswa Berdampak 2026 diabadikan
Dalam aspek ketahanan pangan, mahasiswa memperkenalkan model Pekarangan Tangguh Banjir yang adaptif terhadap kondisi lahan tergenang. Inovasi tersebut diwujudkan melalui pembuatan rak vertikal bertingkat setinggi sekitar 1,5 meter untuk budidaya sayuran agar tetap aman saat banjir.

Selain itu, diperkenalkan pula budidaya ubi ungu dalam karung sebagai sumber karbohidrat alternatif yang lebih tahan terhadap tanah jenuh air. Model ini memungkinkan keluarga tetap memiliki pasokan pangan meskipun lahan pertanian utama terdampak.

Ketua tim pelaksana, Mia Wananda Varwasih, menjelaskan bahwa pendekatan ini berbasis mitigasi keluarga. Menurutnya, sistem pangan rumah tangga harus dirancang adaptif mengingat banjir di wilayah tersebut terjadi hampir setiap tahun.

Penguatan Ekonomi Melalui Budidaya Ikan

Tidak hanya menyasar aspek lingkungan dan pangan, program ini juga berorientasi pada pemulihan ekonomi. Sebanyak 6.000 benih ikan nila ditebar di kolam budidaya milik Kelompok Tani Hutan (KTH) Cemara Laut.

Mahasiswa turut memberikan pendampingan teknis terkait manajemen pakan, pengelolaan kualitas air, hingga strategi panen dan pemasaran. Budidaya ini diharapkan menjadi sumber pendapatan berkelanjutan bagi masyarakat, sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi desa pascabencana.

Aspek kesehatan menjadi perhatian penting dalam rangkaian kegiatan. Pascabanjir, risiko penyakit meningkat akibat kualitas air dan sanitasi yang menurun. Untuk itu, mahasiswa melaksanakan pemeriksaan tekanan darah, pemeriksaan hemoglobin, gula darah, kolesterol, dan asam urat.

Selain skrining kesehatan, dilakukan pula edukasi gizi keluarga berbasis pemanfaatan hasil pekarangan, sosialisasi sanitasi dan penggunaan air bersih, serta gerakan cepat penanggulangan penyakit kulit yang kerap muncul pascabanjir.

Melalui pendekatan preventif dan promotif ini, masyarakat didorong menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) guna memperkuat ketahanan kesehatan keluarga dan komunitas.

Program Mahasiswa Berdampak 2026 terlaksana atas dukungan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, serta dukungan internal dari pimpinan dan LPPM Universitas Satya Terra Bhinneka.

Selama hampir satu bulan, kehadiran 50 mahasiswa tidak sekadar menjalankan program kerja, tetapi juga membangun semangat gotong royong dan harapan baru bagi masyarakat pesisir.

Program ini menjadi langkah konkret menuju Desa Pasar Rawa yang lebih tangguh, mandiri, dan siap menghadapi risiko bencana di masa depan, sekaligus membuktikan peran strategis perguruan tinggi dalam mendampingi masyarakat membangun ketahanan berbasis inovasi dan kolaborasi.

(NS/NS)

Baca Juga

Rekomendasi