Cara Komunitas Medan Linting (Komedi) Perangi Rokok Ilegal

Cara Komunitas Medan Linting (Komedi) Perangi Rokok Ilegal
Komunitas Medan Linting (Komedi) Saat Melakukan Diskusi Rutin di Markas Mereka Di Arfad Tobacco Jalan Tuba IV, Medan Denai. (Analisadaily/istimewa)

Analisadaily.com, Medan - Di tengah maraknya gempuran rokok ilegal dan soal wacana pelarangan rokok elektrik (Vape) di Indonesia, sekelompok anak muda yang tergabung dalam Komunitas Medan Linting (Komedi) tak begitu merisaukan permasalahan tersebut. Sebab selama ini, mereka merokok menggunakan tembakau linting dewe (Tingwe) yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia dan tentunya legal karena berpita cukai. Ini juga bagian dari upaya Komedi untuk memerangi rokok Illegal.

Komedi yang terbentuk di tahun 2023, diawali dari seringnya anak-anak muda ini nongkrong di toko tembakau Arfad Tobacco yang berada di Jalan Tuba IV, Nomor 32, Kecamatan Medan Denai. Mereka tak sekadar nongkrong dan menghabiskan waktu begitu saja.

Saat tengah asik berkumpul anak-anak Komedi sibuk membahas rasa tembakau dari berbagai wilayah di Indonesia. Atas dasar kesamaan visi inilah Rahmanda Ary owner Arfad Tobacco dan Khairul Fajar Ketua Komedi dan para member lainnya akhirnya bersepakat membentuk Komunitas Medan Linting (Komedi) yang mereka klaim sebagai pionir komunitas tembakau "linting dewe" (Tingwe) di Sumatera Utara.

"Karena adanya kesamaan misi dan visi soal tembakau baik sebagai penikmat maupun pelaku usaha, akhirnya kami sepakat mendeklarasikan Komedi pada tahun 2023 lalu. Komedi menjadi komunitas pertama untuk tembakau linting sendiri atau dalam bahasa Jawanya biasa disebut "Tingwe" di Sumut,"jelas Khairul Fajar pada Analisadaily.com, belum lama ini.

Selain bertukar informasi seputar tembakau, Komedi juga banyak melakukan kegiatan-kegiatan yang banyak disukai publik khususnya anak-anak muda seperti, futsal rutin, bedah buku sampai gathering sesama pecinta dan pelaku usaha tembakau.

"Kalau kegiatan rutinnya kita sering menyambangi toko-toko tembakau yang ada di seputaran Kota Medan untuk sekadar bersilaturahmi, bertukar informasi atau sama-sama menikmati kepulan asap dari tembakau yang kami linting,"sebutnya.

Meski ada kesan, kalau merokok tembakau "Tingwe" itu identik dengan rokok orang tua, namun dalam kesehariannya, anak-anak Komedi tidak sungkan atau bahkan insecure dengan anak muda lainnya yang lebih memilih Vape atau rokok pabrikan ketimbang merokok dengan tembakau "Tingwe".

"Kalau setiap nongkrong dengan kawan-kawan lainnya, kami juga selalu bawa alat dan tembakau untuk melinting rokok kami sendiri, kalau mereka mau coba kami kasih. Bahkan teman-teman tak jarang berkomentar kalau rasa rokok tembakau "Tingwe" hampir sama saja dengan rokok pabrikan. Cuma karena merokok tembakau "Tingwe" dianggap kurang praktis, jadi teman- teman sebaya masih gengsi merokok tembakau "Tingwe"," sebut Fajri.

Tugas kami di Komedi, untuk mengedukasi teman-teman lainnya, bahwa ketika kita memilih merokok tembakau "Tingwe" berarti kita juga turut membantu para petani tembakau di Indonesia. Bahkan menurut Fajri, rokok tembakau "Tingwe" relatif lebih aman, karena kandungan Tarnya lebih rendah dibandingkan dengan rokok pabrikan.

Komedi juga mendorong pemerintah agar memberi akses kepada para pelaku usaha tembakau dan penikmat tembakau agar bisa membeli tembakau Deli yang saat ini sudah kembali ditanam oleh PTPN 1 di kawasan kebun Helvetia dan Saentis. Namun tembakau Deli yang ditanam ini diproduksi menjadi cerutu kelas atas.

"Untuk tembakau Deli, saat ini belum bisa diakses oleh penjual tembakau di Medan. Peredaran tembakau Deli khusus untuk kalangan atas yang diedarkan oleh PTPN 1 dijadikan cerutu kelas dunia. Tembakau Deli masih ada di Helvetia dan kawasan Saentis. Sebagai pelaku usaha kami ingin juga menjual tembakau Deli. Harusnya tembakau Deli yang sudah menjadi ciri khas Medan bisa dijual bebas di toko-toko tembakau untuk membantu pelaku UMKM lokal sekaligus mengenalkan tembakau Deli ke berbagai kalangan. Tidak membatasi akses,"ungkap Rahmanda Owner Arfad Tobacco yang juga mantan Ketua Komedi.

Di Arfad Tobacco, kata Rahmanda, juga tersedia berbagai tembakau Original dari berbagai wilayah di Indonesia seperti misalnya, tembakau Virginia Lombok (NTB), tembakau Soppeng Sulawesi Selatan, tembakau Gayo, Aceh Tengah dan Darmawangi, Jawa Barat.

"Khusus untuk tembakau hijau Gayo, aromanya yang kuat menyerupai aroma ganja, kadang orang penasaran dan mengira kami sedang menghisap ganja. Padahal yang kami hisap tembakau Gayo yang legal dan tidak masuk narkotika golongan 1,"ungkap Rahmanda.

Di sinilah, tugas Komedi untuk mengedukasi warga, bahwa semua yang dijual di Arfad Tobacco legal (karena memakai pita cukai) dan tidak menjual ganja.

(YY)

Baca Juga

Rekomendasi