Jerry Wilson, Dosen di Program Studi Seni Pengolahan Patiseri, Politeknik Pariwisata Medan (Analisadaily/Istimewa)
Analisadaily.com, Karo - Kawasan wisata Berastagi selama ini dikenal sebagai daerah dataran tinggi penghasil berbagai komoditas hortikultura unggulan. Buah-buahan seperti jeruk, stroberi, dan markisa menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat sekaligus daya tarik bagi wisatawan yang datang berkunjung.
Kini, potensi pertanian tersebut mulai diolah secara kreatif oleh industri perhotelan melalui inovasi menu dessert atau patiseri yang menggunakan bahan-bahan segar dari hasil kebun lokal.
Sebuah penelitian tentang praktik
farm-to-table pada menu patiseri hotel di kawasan Berastagi menunjukkan bahwa tamu hotel memberikan respons yang sangat positif terhadap penggunaan bahan pertanian lokal sebagai bahan utama dessert. Tamu menilai bahwa penggunaan buah segar dari daerah sekitar memberikan rasa yang lebih alami, segar, dan khas dibandingkan bahan yang didatangkan dari luar daerah.
Selain itu, dessert berbasis buah lokal dianggap lebih sehat dan bergizi karena menggunakan bahan yang relatif segar dan minim proses pengolahan.
Dalam penelitian tersebut, tamu hotel juga menyatakan dukungan terhadap upaya hotel dan restoran yang memanfaatkan hasil kebun lokal sebagai bagian dari menu mereka. Bagi tamu, pendekatan ini tidak hanya memberikan pengalaman kuliner yang lebih autentik, tetapi juga menciptakan hubungan yang lebih dekat antara makanan yang mereka nikmati dengan daerah yang mereka kunjungi.
Dessert yang menggunakan buah lokal tidak sekadar menjadi hidangan penutup, melainkan juga menjadi representasi rasa dan identitas daerah dataran tinggi.
Lebih jauh, pemanfaatan bahan lokal dalam menu patiseri hotel ternyata memiliki dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat sekitar. Ketika hotel menggunakan bahan baku dari petani lokal secara konsisten, maka petani memperoleh pasar yang lebih stabil untuk menjual hasil panen mereka.
Hubungan antara sektor perhotelan dan pertanian ini menciptakan rantai ekonomi yang saling menguatkan, di mana pariwisata tidak hanya menghadirkan wisatawan, tetapi juga membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar destinasi.
Pendekatan ini sejalan dengan konsep
farm-to-table, yaitu praktik kuliner yang menghubungkan langsung hasil pertanian dengan konsumsi di restoran atau hotel. Konsep ini semakin berkembang di berbagai destinasi wisata dunia karena dianggap mampu meningkatkan kualitas makanan sekaligus mendukung keberlanjutan ekonomi lokal.
Dengan memanfaatkan bahan yang ditanam oleh petani setempat, rantai distribusi pangan menjadi lebih pendek dan lebih transparan.
Dalam konteks pariwisata, pengalaman kuliner yang menggunakan bahan lokal juga memiliki nilai strategis dalam memperkuat identitas destinasi. Wisatawan saat ini tidak hanya mencari tempat menginap yang nyaman, tetapi juga pengalaman makan yang unik dan mencerminkan karakter daerah yang mereka kunjungi.
Ketika dessert hotel dibuat dari buah-buahan khas dataran tinggi, wisatawan secara tidak langsung merasakan “cerita” dari tempat tersebut melalui makanan yang mereka nikmati.
Bagi industri perhotelan di kawasan Berastagi, temuan penelitian ini memberikan arah penting bagi pengembangan menu kuliner ke depan. Inovasi patiseri berbasis bahan lokal dapat menjadi strategi diferensiasi yang membuat hotel memiliki ciri khas yang tidak mudah ditiru oleh destinasi lain.
Selain itu, penggunaan bahan lokal juga membuka peluang bagi kolaborasi yang lebih erat antara pelaku pariwisata dan petani.
Pada akhirnya, praktik sederhana seperti menggunakan buah segar dari kebun sekitar untuk menu dessert ternyata memiliki makna yang jauh lebih luas. Selain meningkatkan kualitas pengalaman tamu hotel, langkah ini juga membantu menjaga keberlanjutan ekonomi petani lokal dan memperkuat citra destinasi wisata berbasis kekayaan alam dan pertanian. Dengan kata lain, dessert yang tersaji di meja hotel tidak hanya menawarkan rasa manis, tetapi juga membawa harapan bagi kesejahteraan masyarakat di daerah penghasilnya.
Oleh: Jerry Wilson (Dosen di Program Studi Seni Pengolahan Patiseri, Politeknik Pariwisata Medan)
(JW/RZD)