Ilustrasi (Internet)
Analisadaily.com, Jakarta – Memasuki euforia menjelang Lebaran, masyarakat diminta untuk tidak "gelap mata" saat berbelanja daring.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat angka yang mengkhawatirkan: hingga November 2025 saja, kerugian akibat penipuan belanja online telah mencapai Rp1,14 triliun dari hampir 65 ribu laporan.
Merespons fenomena ini, Blibli meluncurkan kampanye JEDA sebagai benteng pertahanan bagi masyarakat agar tidak terjebak rayuan maut para penipu yang memanfaatkan momen hari raya.
Kenali 3 Modus 'Maut' yang Sering Muncul
Penipu kini tidak lagi menggunakan cara kasar, melainkan menyasar psikologi korban melalui:
- Social Engineering: Menyamar menjadi kurir paket Lebaran atau petugas bank demi mencuri kode OTP.
- Baiting & FOMO: Memberi iming-iming diskon tidak masuk akal (misal: 90% dalam 5 menit) atau lowongan kerja instan yang ujung-ujungnya meminta deposit uang.
- Phishing: Mengirim tautan palsu yang mirip situs resmi untuk menguras data kartu kredit atau akun login.
Lawan dengan Rumus JEDA
Nazrya Octora, Head of Public Relations Blibli, menekankan bahwa kunci utama keamanan digital adalah berhenti sejenak agar logika tetap bekerja.
"Penting bagi kita untuk mulai mempraktikkan JEDA sebelum bereaksi. Dengan berhenti sejenak, kita memberi ruang bagi diri sendiri untuk memvalidasi setiap informasi," ujar Nazrya, Senin (16/3/2026).
Berikut adalah langkah JEDA yang bisa Anda terapkan:
- J – Jangan reaktif: Jangan langsung klik atau transfer karena merasa terburu-buru.
- E – Evaluasi informasi: Cek apakah masuk akal? Apakah alamat situsnya benar?
- D – Double-check: Pastikan info melalui kanal resmi, seperti laman Blibli Care.
- A – Ambil keputusan dengan tenang: Setelah yakin aman, baru lanjutkan transaksi.
Dengan menerapkan langkah sederhana ini, aktivitas persiapan Lebaran pun bisa tetap terasa nyaman, aman, dan dompet tetap terjaga.
(RZD)