Mahasiswa Berdampak Bencana 2026

KSR PMI Unimed Bangun Sistem Air Siap Minum di Desa Pekubuan

KSR PMI Unimed Bangun Sistem Air Siap Minum di Desa Pekubuan
KSR PMI Unimed Bangun Sistem Air Siap Minum di Desa Pekubuan (Analisadaily/Istimewa)

Analisadaily.com, Tanjungpura - Upaya pemulihan pasca bencana di Desa Pekubuan, Kecamatan Tanjung Pura, Kabupaten Langkat terus dilakukan melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat. Sebanyak 50 mahasiswa tergabung dalam Korps Sukarela (KSR) Palang Merah Indonesia (PMP) Universitas Negeri Medan (Unimed) melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk “Mahasiswa Berdampak Bencana 2026” selama satu bulan penuh di desa tersebut.

Program ini didukung Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia sebagai bagian dari upaya mendorong kontribusi nyata mahasiswa membantu masyarakat menghadapi berbagai persoalan sosial, khususnya pasca bencana.

Kegiatan ini juga dilaksanakan melalui kerja sama berbagai unsur masyarakat desa, antara lain Kelompok PKK, Karang Taruna, serta Badan Kemakmuran Masjid (BKM).

Latar belakang kegiatan ini, yaitu bencana banjir yang melanda Desa Pekubuan November 2025 dan merusak berbagai fasilitas, dan salah satu persoalan paling mendesak adalah akses air bersih.

Banyak sumur warga tercemar, sementara sumber air permukaan yang tersedia tidak layak dikonsumsi. Hingga saat ini, desa itu juga belum memiliki sistem layanan air bersih yang terkelola berkelanjutan.

Kondisi itu menyebabkan masyarakat sulit memperoleh air yang aman untuk kebutuhan minum dan rumah tangga. Situasi ini semakin diperparah oleh keterbatasan kapasitas kelembagaan masyarakat mengelola layanan dasar pasca bencana, termasuk pengelolaan air bersih dan sanitasi lingkungan.

Melihat kondisi ini mahasiswa KSR PMI Unimed menghadirkan solusi inovatif yakni pembangunan Water Treatment Plant (WTP) atau instalasi pengolahan air bersih yang menghasilkan air siap minum hingga 800 liter/menit yang ditempatkan di Masjid Nurul Huda di Dusun VI Desa Pekubuan. Air yang dihasilkan telah berstandar sesuai Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2023 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum.

Program ini juga menekankan penguatan kapasitas masyarakat melalui berbagai kegiatan edukasi dan pelatihan yang dirancang meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi risiko bencana serta memperkuat ketahanan sosial di komunitas.

Beberapa kegiatan yakni pelatihan pertolongan pertama, pelatihan perawatan keluarga, pelatihan tanggap bencana, serta dukungan psikososial bagi masyarakat terdampak. Program-program tersebut menyasar berbagai kelompok, mulai dari anak-anak, remaja, ibu rumah tangga, hingga umum.

Program ini juga menempatkan penguatan kelembagaan masyarakat sebagai salah satu komponen penting keberlanjutan program dan Kelompok PKK didorong berperan sebagai pengelola layanan air bersih berbasis komunitas sekaligus sebagai agen edukasi kesehatan keluarga di tingkat rumah tangga.

Sementara itu, Karang Taruna dilibatkan sebagai mitra pendukung operasional sistem distribusi air bersih serta penggerak berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan di desa.

Mahasiswa yang terlibat program ini berperan sebagai pelaksana kegiatan sekaligus aktif dalam proses perancangan, instalasi, serta pendampingan operasional sistem WTP.

Mereka juga memberikan pendampingan pada kelompok masyarakat memperkuat manajemen organisasi, tata kelola layanan air bersih, serta penyusunan sistem pengelolaan transparan dan berkelanjutan.

Seluruh kegiatan dilaksanakan melalui pendekatan partisipatif dan kolaboratif, melibatkan pemerintah desa serta masyarakat sejak tahap perencanaan hingga evaluasi, diharapkan mampu mendorong rasa memiliki masyarakat sehingga keberlanjutan program terjaga setelah kegiatan mahasiswa selesai.

Kegiatan ini mendapat pendampingan dari para dosen Unimed, yaitu Prof. Dr. Muhammad Fitri Rahmadana, SE., M.Si, Dr. Bisrul Hapis Tambunan, S.T., M.T dan Dodi Pramana, S.Sos., M.Si yang memberikan arahan dan bimbingan kepada mahasiswa dalam proses pelaksanaan program, mulai dari tahap perencanaan hingga evaluasi kegiatan.

Program ini menargetkan luaran penting, antara lain meningkatnya akses masyarakat terhadap layanan air bersih yang aman, meningkatnya kapasitas manajemen Kelompok PKK dan Karang Taruna mengelola layanan berbasis komunitas, serta tersedianya teknologi tepat guna berupa sistem WTP yang dapat dimanfaatkan berkelanjutan oleh masyarakat desa.

Program ini juga menghasilkan edukasi terkait kesehatan masyarakat, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), serta kesiapsiagaan menghadapi bencana.

Kegiatan ini juga bagian dari pemenuhan 160 Jam Kerja Efektif Mahasiswa (JKEM) oleh 50 mahasiswa peserta program selama masa pengabdian di desa tersebut.

Kepala Desa Pekubuan mengapresiasi dan berterima kasih kepada mahasiswa dan pihak Unimed yang telah berkontribusi membantu masyarakat.

Program ini bermanfaat sangat besar, khususnya dalam peyediaan akses air bersih. “Kehadiran fasilitas air siap minum ini sangat membantu warga kami dalam memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari,” ujarnya.

Melalui program ini, diharapkan tercipta dampak nyata berupa peningkatan kualitas kesehatan masyarakat, penguatan ketahanan sosial pasca bencana, serta terbentuknya sistem layanan air bersih berbasis komunitas yang dapat dikelola berkelanjutan oleh masyarakat desa.

Program ini juga wujud nyata kontribusi perguruan tinggi untuk mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya penyediaan air bersih dan sanitasi yang layak (Goal 6) serta pembangunan komunitas tangguh dan berkelanjutan (Goal 11).

Dengan kolaborasi mahasiswa, perguruan tinggi, pemerintah dan masyarakat, program ini diharapkan menjadi model praktik baik upaya pemulihan pasca bencana berbasis pemberdayaan masyarakat di berbagai daerah di Indonesia.

(REL/WITA)

Baca Juga

Rekomendasi