Sapa Wisatawan dengan Keramahan: Rahasia Sukses UMKM Kuliner di Parapat Memikat Pengunjung Danau Toba (Analisadaily/Istimewa)
Analisadaily.com, Parapat – Di balik keindahan panorama Danau Toba yang melegenda, terdapat geliat ekonomi yang tak kalah memikat. Kota Parapat, sebagai gerbang utama wisata di Kabupaten Simalungun, kini tidak hanya mengandalkan pemandangan alam, tetapi juga kekuatan komunikasi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kulinernya.
Sebuah riset terbaru yang disusun oleh Drs. Muhammad Zulfan, M.Pd. dari Politeknik Pariwisata Medan mengungkapkan bahwa strategi komunikasi yang efektif menjadi kunci utama bagi pedagang kuliner untuk bertahan dan bersaing di kawasan wisata internasional ini.
Bagi wisatawan, rasa makanan memang penting, namun pengalaman berinteraksi sering kali menjadi alasan mereka untuk kembali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelayanan yang ramah adalah strategi yang paling banyak diterapkan, dengan 12 pedagang secara konsisten menyapa dan melayani pelanggan dengan sangat baik.
"Pedagang kuliner di Parapat tidak hanya menjual makanan, tetapi juga menjual keramahan. Komunikasi langsung seperti menyapa pelanggan dan menjelaskan keunggulan menu terbukti efektif memberikan kesan positif bagi wisatawan," tulis laporan tersebut, Selasa (17/3/2026).
Meski interaksi tatap muka masih mendominasi, digitalisasi mulai merambah tepian Danau Toba. Sebanyak 6 dari pedagang yang diamati kini mulai aktif memanfaatkan platform seperti WhatsApp, Facebook, dan Instagram. Langkah ini terbukti ampuh memperluas jangkauan pasar, tidak hanya menyasar wisatawan yang sedang di lokasi, tetapi juga calon pengunjung dari luar daerah.
Berdasarkan data penelitian, dampak dari strategi komunikasi ini sangat signifikan terhadap minat konsumen:
- Ketertarikan Pelanggan: Mayoritas pelanggan (9 dari responden) merasa sangat tertarik karena cara komunikasi pedagang.
- Kemudahan Memahami Menu: 10 pelanggan merasa informasi harga dan bahan yang disampaikan sangat jelas.
- Loyalitas: 9 pelanggan menyatakan keinginan kuat untuk membeli kembali di tempat yang sama.
Namun, perjalanan menuju UMKM naik kelas bukan tanpa hambatan. Masih ditemukan kendala dalam kemampuan berkomunikasi dengan wisatawan mancanegara (kendala bahasa) serta pemanfaatan teknologi digital yang belum merata di kalangan pedagang.
Penelitian ini merekomendasikan perlunya pelatihan komunikasi pemasaran dan pendampingan teknologi digital secara masif. Hal ini diharapkan dapat membantu pedagang lokal tidak hanya sekadar bertahan, tetapi mampu bersaing di kancah pariwisata global.
Strategi komunikasi bukan sekadar cara bicara, melainkan jembatan antara kekayaan kuliner lokal Parapat dengan kepuasan wisatawan. Dengan senyum yang tulus, informasi yang jelas, dan jempol yang lincah di media sosial, UMKM Parapat siap membawa sektor pariwisata Simalungun ke level yang lebih tinggi.
Oleh: Drs Muhammad Zulfan M.Pd.- Politeknik Pariwisata Medan
(JW/RZD)