Analisadaily.com, Deli Serdang - Deli Serdang, Pascabanjir yang melanda Desa Tumpatan Nibung, Kecamatan Batang Kuis, Kabupaten Deli Serdang pada 2025 sempat memukul aktivitas ekonomi rumah tangga, terutama keluarga petani dan peternak.
Kenaikan biaya input, memburuknya sanitasi lingkungan, meningkatnya risiko penyakit ternak, hingga melemahnya akses pasar menjadi tantangan nyata yang dihadapi masyarakat setempat.
Melihat kondisi tersebut, tim dosen Institut Bisnis dan Komputer Indonesia menghadirkan Program Peternak Tangguh Pascabanjir, sebuah inisiatif pemberdayaan masyarakat yang dirancang untuk mempercepat pemulihan ekonomi keluarga berbasis potensi lokal. Program ini melibatkan dua mitra utama, yakni Kelompok Ternak dan Kelompok Tani, dengan dukungan Pemerintah Desa Tumpatan Nibung.
Ketua tim pelaksana, Tampe Tuah Malem Ginting, S.P., M.P., bersama anggota tim dosen Edward Alezandro Lbn. Raja dan Dedi Leman, S.Kom., M.Kom, menitikberatkan program pada penguatan produksi, manajemen usaha, dan pemasaran. Inovasi utama yang diterapkan adalah HerbaBio-Chick, probiotik herbal fermentasi yang membantu efisiensi pakan, memperbaiki kesehatan ternak, dan mendukung produktivitas ayam kampung di tengah kondisi kandang pascabanjir yang sebelumnya lembap dan rawan penyakit.
Hasilnya mulai terlihat. Pada kelompok ternak, biaya pakan turun dari Rp1.185 menjadi Rp1.015 per ekor per hari, atau menurun 14,35 persen. Di saat yang sama, bobot hidup ayam meningkat dari 0,92 kg menjadi 1,00 kg per ekor, sedangkan angka mortalitas dan kejadian sakit turun dari 8,3 persen menjadi 5,8 persen. Kepatuhan anggota terhadap SOP pemeliharaan, sanitasi, dan biosekuriti juga melonjak dari 42 persen menjadi 81 persen.
Tidak hanya pada sisi teknis budidaya, penguatan juga dilakukan dalam manajemen usaha dan pemasaran. Dari total 20 anggota kelompok ternak, sebanyak 17 anggota telah memiliki pembukuan rutin, 16 anggota mampu menghitung HPP sederhana, dan 15 anggota sudah bisa menyusun rekap laba-rugi bulanan secara mandiri.
Rata-rata laba bersih usaha ternak keluarga meningkat dari Rp1.475.000 menjadi Rp1.855.000 per siklus, atau naik 25,76 persen. Kanal penjualan pun bertambah dari satu saluran utama menjadi tiga kanal aktif, termasuk melalui WA Business dan jejaring pembeli tetap.
Sementara itu, pada kelompok tani, program mendorong pemanfaatan pekarangan rumah sebagai sumber pangan keluarga. Dari sebelumnya hanya 6 dari 20 rumah tangga yang memanfaatkan pekarangan secara produktif, jumlahnya meningkat menjadi 18 dari 20 rumah tangga. Ketersediaan sayuran untuk konsumsi keluarga naik dari 1,2 kg menjadi 3,4 kg per minggu, sementara pengeluaran belanja sayur menurun dari rata-rata Rp92.000 menjadi Rp51.000 per bulan.
Secara keseluruhan, program ini tidak hanya membantu warga bangkit dari dampak bencana, tetapi juga membangun fondasi usaha yang lebih efisien, tertata, dan berkelanjutan.
Desa Tumpatan Nibung menunjukkan bahwa krisis tidak selalu berakhir pada keterpurukan. Dengan pendampingan yang tepat, inovasi sederhana, dan kerja sama antara kampus, masyarakat, serta pemerintah desa, bencana justru dapat menjadi titik balik untuk membangun ekonomi keluarga yang lebih tangguh.











