Bonjour dari Pematang Sidamanik: Menjembatani Rasa Kuliner Lokal dengan Bahasa Prancis (Analisadaily/Istimewa)
Analisadaily.com, Simalungnun – Desa wisata di Indonesia kini tak lagi hanya menjual pemandangan. Di Desa Wisata Sait Buttu, Kecamatan Pematang Sidamanik, Kabupaten Simalungun, pengalaman kuliner menjadi jantung interaksi antara warga lokal dan turis mancanegara.
Namun, sebuah tantangan muncul: bagaimana menjelaskan kelezatan kopi atau makanan khas setempat jika terkendala bahasa?
Sebuah ulasan menarik dari Wirnawati Br Sinaga dari Politeknik Pariwisata Medan menyoroti pentingnya kemampuan bahasa asing, khususnya Bahasa Prancis, dalam pelayanan makan dan minum di desa tersebut.
Selama ini, para pelaku usaha di Sait Buttu—mulai dari pemilik kedai kopi hingga pengelola homestay—masih mengandalkan bahasa isyarat atau aplikasi penerjemah saat menjamu tamu asing.
Meski dibantu oleh pemandu wisata, ada keinginan kuat dari warga untuk bisa menyapa langsung para wisatawan Eropa yang berkunjung.
Menariknya, penelitian ini mengungkapkan bahwa warga desa tidak perlu menjadi pakar linguistik yang mahir tata bahasa kompleks. Kebutuhan utamanya adalah bahasa fungsional.
"Pelaku usaha sebenarnya hanya membutuhkan kemampuan bahasa yang sederhana dan praktis. Mulai dari menyapa tamu, menawarkan menu, hingga menanyakan kepuasan pelanggan setelah makan," tulis Wirnawati dalam ulasannya, Jumat (20/3/2026).
Penguasaan ungkapan sederhana seperti memperkenalkan menu atau sekadar menanyakan pilihan minuman dianggap mampu menciptakan suasana yang lebih hangat dan personal. Ini bukan soal gaya-gayaan atau simbol modernitas, melainkan alat komunikasi untuk menyampaikan keramahan khas masyarakat desa kepada dunia.
Beberapa poin penting dari temuan ini antara lain:
- Efektivitas Pelayanan: Mengurangi miskomunikasi saat pemesanan makanan.
- Strategi SDM: Pelatihan bahasa yang praktis dan kontekstual dapat meningkatkan kualitas tanpa menghilangkan karakter lokal.
- Pengalaman Wisatawan: Interaksi budaya yang lebih intim membuat wisatawan merasa lebih dihargai.
Pengembangan desa wisata ke depannya tidak bisa hanya mengandalkan keindahan alam semata. Keramahan yang komunikatif adalah kunci.
Dengan membekali masyarakat lokal kemampuan bahasa Prancis dasar, Desa Wisata Sait Buttu berpotensi menjadi destinasi yang tidak hanya memanjakan mata, tapi juga merangkul wisatawan mancanegara dengan komunikasi yang menyentuh hati.
Oleh: Wirnawati Br Sinaga, Politeknik Pariwisata Medan
(JW/RZD)