Libur Lebaran, Momen Tepat Gerakkan Wisatawan Nusantara (Analisadaily/Istimewa)
Analisadaily.com, Jakarta - Hari Raya Idul Fitri merupakan momen mobilitas terbesar masyarakat Indonesia, bahkan mungkin salah satu yang terbesar di dunia. Oleh karena itu, pemerintah sangat berkepentingan agar perjalanan dari pemudik maupun wisatawan ini dapat berjalan dengan lancar.
Untuk itu diperlukan transportasi yang memadai untuk memperlancar pergerakan masyarakat baik bagi masyarakat yang melakukan aktivitas pulang kampung maupun yang akan berwisata.
Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata, Made Ayu Marthini mengungkapkan, semua pihak menginginkan pada momen tersebut semua berjalan lancar.
"Pada momen ini, kita inginkan berjalan lancar dan kita perlu bergotong royong memastikan bahwa liburan Idul Fitri aman, lancar dan menyenangkan," ungkapnya, dalam keterangan pers secara online di Jakarta, beberapa hari lalu.
Menurut Made Ayu Marthini, dari perspektif Kementerian Pariwisata, berharap agar masa liburan ini menjadi masa yang mendorong pergerakan Wisatawan Nusantara yang besar.
"Karena kami percaya dengan adanya pergerakan ini, akan terjadi dampak ekonomi atau perputaran ekonomi yang baik untuk masyarakat, terutama untuk UMKM," ungkapnya.
Di sisi lain, lanjutnya, ada faktor eksternal seperti situasi global yang juga dapat mempengaruhi, namun ia berharap Wisatawan Nusantara dapat menjadi salah satu pendorong utama pergerakan ekonomi tersebut.
"Kami juga mendorong agar masyarakat dapat menikmati liburan di Indonesia sebagai bagian dari kampanye bangga berwisata di Indonesia," harap dia.
Ia menambahkan, Kementerian Pariwisata telah mengkoordinasikan dan mengkurasi beberapa paket wisata yang bisa dinikmati oleh Wisatawan Nusantara.
Ia mengucapkan terima kasih kepada sekitar 40 pelaku industri yang telah berkomunikasi dalam beberapa bulan terakhir. Paket-paket tersebut diharapkan dapat dinikmati masyarakat selama libur lebaran.
"Kami mohon dukungan untuk dapat mengamplifikasi atau mempromosikan paket-paket tersebut agar dapat menjangkau masyarakat lebih luas," harapnya.
Kementerian Perhubungan membantah anggapan bahwa harga tiket pesawat domestik lebih mahal dibandingkan rute internasional. Pada periode peak season, tarif penerbangan dalam negeri yang sering dikeluhkan mahal justru lebih murah.
Direktur Angkutan Udara Kementerian Perhubungan, Agustinus Budi Hartono mengatakan, perbandingan harga tersebut dilakukan dengan melihat rute yang memiliki waktu tempuh serupa.
"Pada saat peak season, harga tiket di kita (domestik) itu sebenarnya lebih murah daripada tiket ke luar negeri," ucap Agustinus.
Ia mencontohkan rute penerbangan Jakarta–Singapura dengan durasi sekitar dua jam yang dibandingkan dengan rute domestik dengan waktu tempuh serupa.
"Anggap saja misalnya, Cengkareng-Singapura dua jam. Kami juga coba membandingkan dengan rute penerbangan yang ada di kita itu ternyata juga, yang hampir sama waktu tempuhnya, ternyata lebih murah," ungkapnya.
Agustinus menambahkan, sejumlah maskapai asing bahkan menerapkan tarif lebih tinggi pada periode peak season.
Data Kementerian Perhubungan menunjukkan perbandingan tarif tiket dengan waktu tempuh yang relatif sama untuk keberangkatan 17 Maret 2026.
Garuda Indonesia rute Jakarta (CGK)–Balikpapan (BPN) sekitar Rp1,7 juta
AirAsia rute Jakarta (CGK)–Kuala Lumpur (KUL) sekitar Rp1,8 juta
Garuda Indonesia rute Jakarta (CGK)–Makassar (UPG) sekitar Rp1,9 juta
Batik Air Malaysia rute Jakarta (CGK)–Kuala Lumpur (KUL) sekitar Rp2 juta
Garuda Indonesia rute Jakarta (CGK)–Pontianak (PNK) sekitar Rp1,3 juta
Scoot rute Jakarta (CGK)–Singapura (SIN) sekitar Rp2,8 juta
Menurut dia, persepsi mahalnya tiket pesawat domestik sering muncul karena masyarakat tidak memperhatikan detail rute yang ditawarkan.
Ia menjelaskan lonjakan harga yang terlihat tinggi umumnya terjadi karena rute perjalanan tidak langsung dan melibatkan beberapa kali transit.
Fenomena ini banyak ditemukan di platform pemesanan tiket daring (online travel agent/OTA). Ketika penerbangan langsung sudah habis, sistem akan menampilkan alternatif perjalanan dengan rute lebih panjang sehingga harga terlihat lebih mahal.
"Kalau kita lihat di media sosial seolah-olah harga tiket sangat tinggi. Padahal setelah diperhatikan, rute yang ditawarkan oleh online travel agent itu ternyata rute dengan beberapa transit karena rute langsungnya sudah habis," terangnya.
Agustinus mencontohkan temuan tiket dari wilayah timur Indonesia menuju Sumatera yang sempat viral dengan harga mencapai Rp16 juta hingga Rp17 juta.
Menurutnya, harga tersebut muncul karena sistem menawarkan rute dengan beberapa kali transit
"Padahal kalau kita hitung sebenarnya juga seharusnya tidak akan lebih dari sekitar Rp8 juta atau Rp9 juta," sebutnya.
Ia menguraikan beberapa rute domestik memang tidak memiliki penerbangan langsung sehingga penumpang harus transit terlebih dahulu.
Namun, jika rute yang ditawarkan melibatkan lebih dari satu kali transit, maka biaya perjalanan akan meningkat karena setiap segmen penerbangan memiliki tarif masing-masing.
"Yang terjadi ternyata transitnya lebih dari satu kali dan akhirnya mengakibatkan harga tiketnya cukup membengkak,” pungkasnya.
(TRY/RZD)