Kabar Bahagia dari Leuser: Pesek Lahirkan Anak ke-7, Simbol Keberhasilan Konservasi di Bukit Lawang

Kabar Bahagia dari Leuser: Pesek Lahirkan Anak ke-7, Simbol Keberhasilan Konservasi di Bukit Lawang
Kabar Bahagia dari Leuser: Pesek Lahirkan Anak ke-7, Simbol Keberhasilan Konservasi di Bukit Lawang (Analisadaily/Istimewa)

Analisadaily.com, Bukit Lawang – Kabar gembira datang dari jantung hutan Sumatera. Induk orangutan (OU) legendaris bernama Pesek kembali menambah populasi orangutan di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Pesek dilaporkan melahirkan anaknya yang ke-7 di Jalur Trail 1, posisi Kayu Putih, pada Selasa (24/3/2026) siang.

Kepala Bidang PTN Wilayah III Balai Besar TNGL, Palber Turnip, mengonfirmasi bahwa tim di lapangan telah melakukan pengecekan awal pasca-kelahiran tersebut.

“Berdasarkan hasil pantauan tim Resor Bukit Lawang, kondisi induk dan anak saat ini dalam keadaan sehat. Kelahiran ini terpantau sekitar pukul 13.00 WIB,” ujar Palber dalam keterangannya, Rabu (25/3/2026).

Pesek bukan sekadar orangutan biasa. Ia adalah individu rehabilitan yang diserahkan oleh masyarakat Binjai pada tahun 1993. Saat itu, usianya diperkirakan baru 5 tahun. Kini, di usianya yang menginjak 38 tahun, Pesek membuktikan dirinya mampu beradaptasi sempurna dengan kehidupan liar Leuser.

Palber merincikan rekam jejak reproduksi Pesek yang luar biasa selama tiga dekade terakhir:

  • April (Lahir April 1997)
  • Hirim (2001 - Mati pada 2002)
  • Alam (2004)
  • Wati (2006)
  • Valentino (2013)
  • Pandemik (2020)
  • Anak ke-7 (Lahir 24 Maret 2026)
Hingga saat ini, jenis kelamin bayi terbaru Pesek belum teridentifikasi dan belum diberikan nama karena tim masih menjaga jarak agar tidak mengganggu proses alami induk menyusui.

Kelahiran ini disambut sebagai pencapaian besar bagi upaya konservasi di Indonesia. Menurut Palber, fakta bahwa seorang individu rehabilitan mampu melahirkan hingga tujuh kali di alam liar adalah bukti nyata keberhasilan program rehabilitasi dan perlindungan habitat.

“Ini menjadi indikator penting bahwa upaya kita dalam merehabilitasi satwa dan menjaga keutuhan habitat di TNGL membuahkan hasil yang berkelanjutan,” tambahnya.

Selanjutnya, petugas BBTNGL bersama mitra konservasi dari Orangutan Information Centre (OIC) akan terus melakukan pemantauan intensif. Langkah ini diambil untuk memastikan keselamatan serta perkembangan tumbuh kembang sang bayi di habitat alaminya tanpa gangguan aktivitas manusia.

(REL/RZD)

Baca Juga

Rekomendasi