Dengan Deteksi Dini, Wanita Tak Perlu Kehilangan Payudara (Analisadaily/istimewa)
Analisadaily.com, Medan - Kanker payudara merupakan salah satu penyakit yang banyak diderita masyarakat Indonesia terutama kaum wanita, deteksi dini sangat penting dilakukan agar sel kanker tidak menyebar ke bagian tubuh lainnya.
Dari penelitian tim dr Ivana Alona MPH SP KKLP dan Dr dr Isti Ilmiati Fujiati MSc CM-FM, MPd Ked, ketakutan akan kehilangan payudara karena tindakan operasi menjadi salah satu penyebab mereka enggan memeriksakan diri lebih awal.
Selain itu adanya kekhawatiran akan ditinggalkan pasangan (suami) jika payudaranya harus diangkat. Bahkan mereka menarik diri untuk tidak melakukan tindakan medis dan beralih ke pengobatan alternatif.
Dr Ivana mengatakan, penyakit kanker payudara dengan insudens tertinggi di antara kanker lainnya menurut data Globocan 2022 yaitu hampir 17% di antara seluruh kanker yang lain. Angka harapan hidup 5 tahun di Indonesia hanya 55%, sementara negara maju 87-90%
Meskipun usaha nasional telah dilakukan selama dua dekade untuk meningkatkan literasi pencegahan dan diagnosa awal kanker payudara pada masyarakat, namun tingkat kematiannya tetap tinggi. "Karena itu, strategi yang berbeda diperlukan untuk memastikan peningkatan literasi terhadap isu ini dapat berkembang secara efektif di masyarakat", ujar dr Ivana dalam workshop Penguatan Sistem Kesehatan untuk Meningkatkan Deteksi dan Diagnosis Kanker Payudara Secara Dini di Kota Medan, Sumut, di Gedung Fakultas Kedoktera Universitas Sumatera Utara (FK USU), Selasa (31/3) yang dihadiri para kader, PKK, perwakilan puskesmas, penyintas, para dokter, perwakilan dari Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan Kota Medan.
Jika seorang wanita meninggal karena kanker payudara, dan ia memiliki anak, tentu anaknya akan kehilangan kasih sayang ibunya. Hal inilah salah satu yang membuat timnya bergerak melakukan penelitian untuk mengajak para wanita mendeteksi dini kanker payudara, sehingga masih bisa disembuhkan.
Ia mengatakan, penelitian yang mereka lakukan ini bertujuan meningkatkan diagnosis awal kanker payudara di Medan-Sumut dengan menyelesaikan serangkaian hambatan krusial yang sudah diidentifikasi sebelumnya oleh peneliti.
Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan literasi kesehatan terutama pada isu pencegahan kanker payudara pada masyarakat, serta menciptakan sistem komunikasi dan kebijakan yang dapat mendukung upaya sosialisasi informasi mengenai diagnosis awal kanker payudara pada masyarakat.
Pada workshop itu, secara keseluruhan semua peserta punya harapan yang sama untuk meningkatkan deteksi dini kanker payudara dengan melibatkan atau adanya sinergi mulai dari keluarga, komunitas, dukungan organisasi, stakeholder dan kebijakan yang mendukung peningkatan layanan kanker payudara di tingkat dasar sampai rumah sakit. "Selain itu dibutuhkan peran serta banyak pihak untuk mendukung pelaksanaan skrining bagi kader dan PKK", tegasnya.
Ia juga menekankan adanya dukungan dari PERABOI (Perhimpunan Ahli Bedah Onkologi Indonesia). Kelompok ini membahas berbagai strategi untuk mengatasi keterlambatan diagnosis kanker payudara di Medan. Upaya yang diusulkan mencakup peningkatan kesadaran masyarakat tentang kanker payudara, pendampingan pasien dalam menavigasi rujukan di sistem kesehatan, penguatan pelatihan bagi tenaga medis, serta pengakuan terhadap peran penting kader di masyarakat.
Disepakati juga dalam workshop itu, penanganan kanker payudara merupakan tantangan yang bersifat multidimensi, yang memerlukan kontribusi dan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan di sepanjang sistem kesehatan.
Tidak lagi menakutkan
Sebelumnya, dr Endi Taris Pasaribu MSi Med SpB (K-Onk) yang merupakan salah satu pakar kanker di Medan-Sumut, mengatakan sebenarnya saat ini kanker payudara itu tidak lagi menakutkan jika sudah ditemukan lebih awal gejalanya.
Namun nyatanya hingga kini, pasien yang datang ke rumah sakit kondisinya sudah stadium lanjut, bahkan tidak bisa lagi diobati dengan tindakan apa pun selain dengan mengangkat payudara pasien. "Akibat tidak adanya pemeriksaan sejak dini, dan mengabaikan benjolan yang ada di sekitar payudara apalagi dirasa tidak ada sakit, pasien pun abai. Padahal justru yang tidak ada rasa sakit itu yang bahaya. Kalau ada rasa sakit bisa jadi itu hanya infeksi atau kanker yang bersifat jinak. Benjolan yang dirasa tidak sakit itu, kalau dibiarkan bisa membesar dan menimbulkan rasa sakit dan perubahan pada fisik payudara, memerah, berair, bersisik dan berpori seperti kulit jeruk. Di saat ada keluhan itu barulah masyarakat pergi ke dokter", terangnya.
Kalau sudah begini kondisinya, sambung dr Endi, semakin banyak tindakan medisnya. "Makanya banyak pasien yang 'drop out' akibat banyaknya tindakan medis yang dilakukan jika kanker payudaranya sudah fatal", serunya.
Padahal, dengan deteksi dini bisa mencegah tindakan pengangkatan payudara, karena kanker masih bisa diobati. "Apalagi saat ini juga pengobatan dan terapi kanker payudara semakin canggih, operasi kanker payudara bahkan saat ini tidak memerlukan sayatan yang besar, karena sudah ada bedah robotik", jelasnya.
Dr Endi juga mengimbau agar para wanita melakukan deteksi dini kanker sendiri atau yang disebut SADARI (Cara cek kanker payudara sendiri) dilakukan dengan meraba dan melihat perubahan bentuk, ukuran, atau tekstur payudara secara rutin, sebaiknya 7-10 hari setelah menstruasi. Pemeriksaan meliputi posisi berdiri di depan cermin, mandi, dan berbaring untuk mencari benjolan, cairan, atau perubahan kulit.
Menjaga pola hidup juga dapat mencegah kanker payudara seperti mempertahankan/menjaga berat badan, memperbanyak konsumsi sayuran dan buah, tetap aktif secara fisik minimal olahraga 20 menit setiap hari untuk menurunkan risiko kanker payudara.
Pada workshop kemarin, dua narasumber berasal dari Singapura yang juga masuk dalam tim penelitian soal kanker payudara, yakni Nursarah Suprat MSci (SOC) dari Research SingHealth Duke NUS Global Health Institute, dan Judy Li dari Duke University Medical Studen SingHealth Duke NUS Global Health Institute Intern With Clinical Core, dan Kaisin Yee MPH.
Dekan FK USU, Prof. Dr. dr. Aldy S. Rambe, Sp.S(K), dan Ketua PERABOI Dr.dr. Denny Rifsal Siregar, Sp.B(K-Onk), menyambut baik kegiatan ini. Kegiatan ini sangat positif di mana tujuannya bisa bersama-sama dapat meningkatkan pelayanan dalam bidang kesehatan khususnya kanker payudara.
"Melalui kegiatan ini semoga terbangun suatu pemahaman yang sama pada seluruh stakeholder sehingga muncul inovasi dirumuskan bersama yang dapat di aplikasikan secara nyata di seluruh lapisan masyarakat baik ditingkat fasilitas kesehatan pertama maupun sampai lanjut", harapnya. ()
(NAI/NAI)










