Analisadaily.com, Siantar - Mesin printing sublimasi yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal kini mulai digunakan untuk menghasilkan kain bermotif digital di SMK Negeri 1 Siantar. Perubahan tersebut menjadi bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Negeri Medan (UNIMED) yang dilaksanakan pada tahun 2026 melalui program PKM DPPM Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
Program ini dilaksanakan untuk memberdayakan unit produksi Tata Busana SMK Negeri 1 Siantar melalui pemanfaatan teknologi produksi tekstil digital. Tim UNIMED mendampingi guru dan siswa dalam mengenal, mengoperasikan, dan menerapkan teknologi printing sublimasi serta proses transfer motif ke kain sebagai bagian dari pembelajaran dan kegiatan unit produksi sekolah.
Tim pelaksana diketuai Yudhistira Anggraini, M.Pd., dengan anggota Halimul Bahri, M.Pd. dan Adi Widarma, S.Si., M.Kom. Kegiatan juga melibatkan mahasiswa Universitas Negeri Medan dalam proses pelatihan, pendampingan, penerapan teknologi, dan dokumentasi kegiatan. Program ini merupakan bagian dari skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat melalui ruang lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat.
Sebelum program dilaksanakan, SMK Negeri 1 Siantar sebenarnya telah memiliki mesin printing sublimasi dan mesin fusing sebagai bagian dari sarana produksi Tata Busana. Namun, pemanfaatan teknologi tersebut belum optimal dalam kegiatan pembelajaran dan unit produksi. Selain keterbatasan kompetensi dalam pengoperasian mesin, terdapat pula kendala teknis pada mesin fusing yang dimiliki sekolah, khususnya pada bagian blanket, sehingga proses transfer motif tidak dapat berjalan secara optimal.
Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan dalam pelaksanaan program. Di satu sisi, sekolah telah memiliki sarana teknologi yang berpotensi mendukung pembelajaran produksi tekstil digital. Di sisi lain, diperlukan pendampingan teknis dan dukungan peralatan agar teknologi tersebut benar-benar dapat dimanfaatkan dalam kegiatan praktik.
Ketua tim PKM UNIMED, Yudhistira Anggraini, M.Pd., menjelaskan bahwa program ini diarahkan bukan sekadar untuk mengenalkan teknologi baru, tetapi untuk memastikan teknologi produksi yang tersedia dapat benar-benar digunakan dan memberikan manfaat bagi proses pembelajaran siswa.
“Teknologi yang sudah tersedia di sekolah perlu dihidupkan kembali pemanfaatannya. Ketika dalam pelaksanaan ditemukan kendala pada mesin fusing yang dimiliki sekolah, kami berupaya menghadirkan solusi agar proses pembelajaran tetap dapat berjalan. Yang paling penting adalah guru dan siswa memperoleh pengalaman langsung dalam proses produksi dan mampu melanjutkannya secara mandiri,” kata ketua tim PKM.
Sebagai bagian dari solusi terhadap kendala tersebut, mesin press sablon digital digunakan sebagai teknologi pendukung dalam proses transfer motif ke kain. Meskipun memiliki fungsi yang beririsan dengan mesin fusing, keberadaan mesin press tersebut dalam kegiatan ini diarahkan untuk memastikan proses pengepresan dan transfer motif tetap dapat dilakukan ketika mesin fusing milik sekolah mengalami kendala teknis.
Dengan demikian, teknologi yang diberikan tidak ditempatkan sebagai pengganti konsep mesin fusing dalam program, tetapi sebagai solusi pendukung proses produksi agar kegiatan praktik dapat terus berlangsung. Guru dan siswa dapat tetap mempraktikkan tahapan transfer motif setelah proses printing sublimasi dilakukan.
Pelaksanaan kegiatan menggunakan pendekatan partisipatif dan learning by doing. Guru dan siswa tidak hanya mendapatkan penjelasan mengenai fungsi mesin, tetapi terlibat langsung dalam proses produksi. Pelatihan mencakup pengoperasian printing sublimasi, pengaturan parameter, pencetakan motif, proses transfer menggunakan mesin press, pengendalian kualitas, keselamatan dan kesehatan kerja, serta perawatan peralatan.
Alur produksi yang diperkenalkan kepada peserta dimulai dari desain digital, pencetakan motif menggunakan mesin printing sublimasi, proses transfer atau pressing ke kain, hingga pemotongan bahan. Integrasi tersebut diarahkan untuk membangun pengalaman produksi tekstil digital yang lebih dekat dengan proses kerja di industri.
Selain pendampingan penggunaan mesin, tim UNIMED juga mengembangkan aplikasi panduan dan SOP digital. Aplikasi tersebut memuat panduan operasional, video tutorial, panduan keselamatan dan kesehatan kerja, perawatan mesin, evaluasi, serta pencatatan aktivitas produksi. Kehadiran aplikasi diharapkan membantu guru dan siswa memperoleh panduan yang dapat digunakan kembali dalam pembelajaran maupun kegiatan produksi.
Penguatan proses produksi juga didukung dengan teknologi mesin cutting table untuk membantu proses pemotongan bahan secara lebih efisien, presisi, dan terstandar. Integrasi teknologi tersebut mendukung pengembangan unit produksi sekolah sebagai bagian dari konsep teaching factory. Hasil kegiatan terlihat dari mulai dimanfaatkannya teknologi produksi tekstil digital dalam kegiatan praktik serta tersedianya perangkat pendukung dan panduan kerja yang dapat digunakan oleh mitra.
“Harapan kami, teknologi ini menjadi bagian dari pembelajaran rutin dan unit produksi sekolah. Guru dapat melanjutkan pendampingan kepada siswa, sedangkan siswa memperoleh pengalaman produksi yang dapat menjadi bekal ketika memasuki dunia kerja maupun mengembangkan usaha sendiri,” ujar salah seorang guru, Halimul Bahri.
Program tersebut juga memperkuat penerapan teaching factory di SMK Negeri 1 Siantar. Melalui kegiatan produksi nyata, siswa tidak hanya belajar membuat pola atau menjahit, tetapi juga mengenal proses pengembangan motif, pencetakan tekstil secara digital, transfer motif, hingga persiapan bahan untuk produksi busana.
Keberlanjutan program dilakukan dengan mengintegrasikan pemanfaatan teknologi dan SOP digital ke dalam pembelajaran rutin serta kegiatan teaching factory. Guru pengelola unit produksi diarahkan menjadi penggerak keberlanjutan program, sementara siswa terus dilibatkan dalam kegiatan produksi dan pengembangan produk busana bermotif digital.
Melalui program PKM DPPM Kemdiktisaintek ini, UNIMED berupaya menjembatani kebutuhan pendidikan vokasi dengan perkembangan teknologi industri fashion. Mesin yang sebelumnya belum termanfaatkan secara optimal kini mulai diarahkan menjadi bagian dari proses pembelajaran dan produksi. Dari teknologi tersebut, siswa tidak hanya belajar menggunakan mesin, tetapi juga belajar mengubah desain digital menjadi kain bermotif yang memiliki nilai kreatif dan berpotensi dikembangkan menjadi berbagai produk busana.
Bagi SMK Negeri 1 Siantar, pendampingan ini diharapkan menjadi langkah awal untuk terus mengembangkan unit produksi berbasis teknologi digital. Sementara bagi UNIMED, kegiatan tersebut menjadi bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam memperkuat kompetensi pendidikan vokasi melalui transfer teknologi, pendampingan, dan pengembangan pembelajaran yang lebih dekat dengan kebutuhan dunia industri.
(NS/BR)











