Muniruddin Ritonga (Analisadaily/istimewa)
Analisadaily.com, Medan — Masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi, tetapi terutama oleh bagaimana negara menyiapkan dan melindungi anak-anak sebagai generasi penerus bangsa.
Pandangan tersebut disampaikan Anggota DPRD Sumatera Utara (Sumut) dari Fraksi PKB, Muniruddin Ritonga, saat mengapresiasi pidato kenegaraan Presiden RI Prabowo Subianto yang menempatkan masa depan anak sebagai investasi paling berharga bagi bangsa.
Muniruddin yang juga Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Sumut menilai perhatian Presiden Prabowo terhadap pendidikan dan masa depan anak menunjukkan keberpihakan negara terhadap generasi mendatang.
"Saya salut dan bangga atas perhatian Bapak Presiden terhadap anak dan masa depan anak Indonesia, terutama keberpihakan kebijakan terhadap kepentingan anak," kata Muniruddin kepada wartawan, Sabtu (15/8/2026).
Menurutnya, membangun bangsa sejatinya dimulai dari membangun manusia. Karena itu, menata masa depan Indonesia harus dimulai dengan memastikan setiap anak mendapatkan pendidikan, perlindungan dan kesempatan yang layak sejak dini.
Ia menilai pernyataan Presiden Prabowo bahwa tidak ada investasi yang lebih berharga daripada mengembalikan masa depan seorang anak merupakan pesan yang sangat kuat.
"Menata masa depan bangsa Indonesia dimulai dari menata masa depan anak Indonesia sejak dini," tegasnya.
Dalam pidato kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR RI serta Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Presiden Prabowo menyampaikan perkembangan program Sekolah Rakyat.
Presiden mengatakan pemerintah telah membangun 93 Sekolah Rakyat permanen dalam waktu kurang dari satu tahun. Ditambah sekolah rintisan yang masih aktif, kini terdapat 182 Sekolah Rakyat yang beroperasi.
Jumlah tersebut, kata Presiden, akan terus bertambah karena pemerintah menargetkan setiap kabupaten/kota memiliki minimal satu Sekolah Rakyat.
Bagi Muniruddin, program tersebut bukan sekadar pembangunan fasilitas pendidikan, melainkan bentuk nyata kehadiran negara untuk membuka jalan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu agar tidak mewarisi kemiskinan orang tuanya.
Sekolah Rakyat yang menggunakan konsep boarding school menyediakan berbagai fasilitas, mulai dari tempat tinggal, tempat ibadah, sarana olahraga, ekosistem digital, makanan bergizi hingga lingkungan belajar yang aman dan nyaman.
"Anak-anak dari keluarga yang kurang mampu harus tetap memiliki mimpi. Kondisi ekonomi keluarga tidak boleh menjadi penghalang bagi mereka untuk meraih masa depan," katanya.
Muniruddin juga mengapresiasi keberhasilan siswa Sekolah Rakyat yang mulai menunjukkan prestasi di berbagai bidang.
Presiden menyebut tujuh siswa Sekolah Rakyat di Makassar berhasil memenangkan Olimpiade Nasional Indonesia ke-15. Sementara siswi Sekolah Rakyat Polewali Mandar, Ismi Ulfaida, mencatat sejarah sebagai siswa Sekolah Rakyat pertama yang lolos menjadi anggota Paskibraka tingkat nasional untuk Upacara HUT ke-81 RI.
Menurut Muniruddin, prestasi tersebut membuktikan bahwa setiap anak memiliki potensi besar apabila diberikan kesempatan, fasilitas dan pendampingan yang tepat.
"Ini membuktikan bahwa anak-anak dari keluarga paling tidak mampu sekalipun, jika diberi kesempatan, fasilitas dan bimbingan, mampu mencapai prestasi tertinggi," ujarnya.
Kisah Citra Nur Ramadhani, siswi Sekolah Rakyat dari Pangkep yang turut dihadirkan dalam pidato Presiden, juga menjadi contoh nyata. Citra hampir putus sekolah karena harus membantu ibunya berjualan setelah ayahnya meninggal dunia. Ibunya juga merupakan penyandang disabilitas.
Namun, melalui Sekolah Rakyat, Citra kembali mendapatkan kesempatan untuk belajar. Bahkan, ia berhasil menjadi juara karate tingkat kabupaten.
Bagi Muniruddin, kisah tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan dapat menjadi pintu keluar dari berbagai keterbatasan.
"Ketika negara hadir, sebuah keterbatasan bisa berubah menjadi kekuatan. Anak yang hampir kehilangan kesempatan belajar ternyata mampu berprestasi," katanya.
Ia pun menggarisbawahi pesan Presiden bahwa keadilan bukan berarti semua orang mendapatkan perlakuan yang sama, tetapi setiap orang mendapatkan dukungan sesuai kebutuhannya.
Prinsip tersebut, menurut Muniruddin, sangat penting dalam membangun sistem perlindungan anak. Negara harus memberikan perhatian lebih kepada anak-anak yang berada dalam kondisi rentan agar mereka memiliki kesempatan yang setara untuk berkembang.
Muniruddin berharap kebijakan yang berpihak kepada anak terus diperkuat dan diperluas. Tidak hanya melalui pendidikan, tetapi juga pemenuhan gizi, kesehatan, perlindungan dari kekerasan, serta pemberdayaan keluarga.
"Kalau kita ingin melihat Indonesia yang kuat dan maju di masa depan, maka investasi itu harus dimulai dari anak-anak hari ini. Mereka adalah generasi yang akan menentukan wajah Indonesia puluhan tahun ke depan," pungkasnya.
Dengan demikian, menurut Muniruddin, membangun Sekolah Rakyat bukan hanya membangun gedung sekolah. Lebih dari itu, negara sedang membangun harapan, membuka kesempatan dan menyalakan kembali mimpi anak-anak yang sebelumnya nyaris padam karena keterbatasan.
Sebab, katanya, ketika satu anak diselamatkan masa depannya, sesungguhnya bangsa sedang menyelamatkan masa depannya sendiri.











