Bersama BPBD, FPRB dan Dinkes, FAI Sumut Ingatkan Warga, Jangan Tunggu Air Naik untuk Evakuasi (Analisadaily/istimewa)
Analisadaily.com, Medan – Lembaga First Aid Indonesia (FAI) Sumatera Utara mengingatkan masyarakat agar tidak menunggu air banjir semakin tinggi untuk melakukan evakuasi. Kesiapan pada jam-jam pertama dinilai menjadi salah satu kunci penting untuk menyelamatkan jiwa ketika bencana terjadi.
Pesan tersebut disampaikan FAI Sumut melalui pedoman penanganan darurat, evakuasi mandiri dan pertolongan pertama yang disusun bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Utara, Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumut serta Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Sumut.
Pimpinan FAI Sumut/Gerakan Masyarakat Penolong Pertama (GMPP), M. Hendra Ramli, Kamis (1/10/2026), menekankan pentingnya membangun budaya saling menjaga dan membantu di tengah masyarakat.
"Kesiapan kita di jam-jam pertama adalah kunci keselamatan utama. Saling jaga, saling bantu," demikian pesannya.
Dalam menghadapi banjir, masyarakat diminta melakukan evakuasi secara bertahap sesuai kondisi genangan. Ketika air mulai setinggi mata kaki, warga diminta segera mempersiapkan pakaian, makanan siap saji, kebutuhan bayi, lansia dan orang sakit serta perlengkapan untuk mengungsi.
Dokumen penting dan barang berharga juga perlu diamankan. Pada tahap ini, setiap keluarga dianjurkan menentukan titik kumpul yang aman dan berada di lokasi lebih tinggi sehingga seluruh anggota keluarga mengetahui tujuan evakuasi apabila kondisi memburuk.
Ketika genangan mencapai lutut, kelompok rentan harus menjadi prioritas untuk dievakuasi. Mereka antara lain ibu hamil, ibu menyusui, bayi, anak-anak, lansia, orang sakit dan penyandang disabilitas.
Jika air mencapai pinggang, seluruh penghuni rumah dianjurkan segera mengungsi ke tempat yang lebih tinggi. Sebelum meninggalkan rumah, warga diminta mematikan aliran listrik dan memastikan rumah dalam kondisi terkunci.
FAI juga mengingatkan masyarakat agar tidak menyepelekan ancaman arus banjir. Warga diminta tidak menerobos arus deras karena benda-benda yang digunakan secara improvisasi dapat terbalik atau terseret arus.
Untuk kebutuhan pengungsian, masyarakat juga didorong tidak semata-mata menunggu bantuan. Warga dapat menginisiasi dapur umum dengan mengumpulkan stok pangan yang tersedia serta membawa peralatan memasak yang aman ke lokasi pengungsian.
Pendataan pengungsi dan kebutuhan mendesak juga perlu dilakukan sejak awal. Informasi tersebut dapat disebarkan melalui media sosial dengan menyertakan foto, video dan titik koordinat lokasi agar relawan maupun pihak pemberi bantuan lebih mudah menemukan posko.
Dalam kondisi tertentu, sejumlah benda di sekitar dapat dimanfaatkan untuk membantu proses evakuasi. Namun, FAI menegaskan penggunaannya harus mempertimbangkan faktor keselamatan. Ember atau wadah kokoh, misalnya, dapat digunakan untuk membantu membawa bayi dengan pengawasan yang tepat, sedangkan ban dalam kendaraan bukan alat penyelamat yang andal ketika menghadapi arus deras.
Untuk lansia, orang sakit dan penyandang disabilitas, penggunaan alat bantu seperti papan atau rakit improvisasi harus dilakukan dengan pengawalan petugas. Rakit dari tong plastik atau papan untuk evakuasi dalam skala besar juga hanya boleh dibuat dan digunakan oleh pihak yang memiliki kemampuan setelah kondisi dinilai aman.
Selain mitigasi banjir, FAI memberikan panduan pertolongan pertama untuk menghadapi berbagai kondisi darurat sehari-hari, termasuk luka dan perdarahan.
Untuk luka terbuka, katanya, prinsip yang diperkenalkan adalah TIT, yakni tekan langsung pada luka, istirahatkan bagian yang terluka dan tinggikan posisi luka dari jantung. Luka yang kotor dapat dibersihkan menggunakan air bersih, kemudian dikeringkan dan ditutup dengan kasa bersih sebelum mendapatkan penanganan di fasilitas kesehatan.
Pada kasus patah tulang, masyarakat diminta melakukan penilaian awal, mengistirahatkan korban, melakukan pembidaian pada bagian yang mengalami cedera, menghentikan perdarahan dan membawa korban ke fasilitas kesehatan.
Sementara pada cedera keseleo, pertolongan awal dapat menggunakan prinsip R.I.C.E, yakni Rest atau istirahat, Ice atau kompres dingin, Compression atau pembebatan dan Elevation atau meninggikan bagian yang mengalami cedera.
FAI Sumut menegaskan seluruh langkah tersebut bertujuan memperkuat kemampuan masyarakat untuk memberikan pertolongan awal sebelum bantuan profesional tiba.
"Jangan menunggu bantuan datang untuk mulai bertindak. Yang paling penting adalah tetap tenang, mengenali risiko dan mengutamakan keselamatan," demikian semangat yang dibangun dalam pedoman tersebut.
Masyarakat yang membutuhkan informasi lebih lanjut dapat menghubungi FAI Sumut/GMPP melalui WhatsApp 08126346678 atau media sosial Instagram @fai_sumut dan TikTok @faisumut2.
(NAI/NAI)