Limbah Kulit Pisang Jadi Bernilai: Edukasi Ekonomi Sirkular bagi Petani Palangka Raya (Analisa/Istimewa)
Analisadaily.com, Palangka Raya - Limbah kulit pisang yang selama ini dianggap tidak berguna ternyata dapat diolah menjadi berbagai produk pangan bernilai ekonomi. Potensi tersebut dikembangkan melalui program pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan tim dosen Universitas Palangka Raya, dengan mendorong petani pisang di Kelurahan Kalampangan, Kecamatan Sabangau, Kota Palangka Raya, menerapkan konsep ekonomi sirkular.
Tim pengabdian tersebut diketuai Pratiwi Hamzah, S.M., M.M., bersama Aprilita, M.Si. dan Wahyu Anggar Wanto, S.Si., M.Si. sebagai anggota, serta didukung tiga mahasiswa. Program ini menyasar Kelompok Tani Pisang Kalampangan yang diketuai Bapak Jarwo.
Program tersebut dilaksanakan sebagai upaya meningkatkan nilai tambah komoditas pisang yang selama ini umumnya hanya dikonsumsi sendiri atau dijual dalam bentuk segar kepada tengkulak. Padahal, selain buahnya, bagian kulit pisang juga memiliki potensi untuk diolah menjadi produk yang lebih bermanfaat dan bernilai ekonomi. Melalui edukasi dan pemberdayaan, masyarakat diharapkan dapat mengembangkan pengelolaan limbah kulit pisang sekaligus membuka peluang usaha baru berbasis potensi lokal.
Salah satu gambaran kondisi petani terlihat dari aktivitas Bapak Jarwo yang mengelola kebun pisang berukuran 25 x 40 meter. Selain bertani pisang, Jarwo juga menjalankan usaha tahu rumahan dan memanfaatkan ampas tahu sebagai pupuk organik untuk tanaman pisangnya.
Pemanfaatan ampas tahu tersebut menunjukkan adanya upaya memanfaatkan sumber daya yang tersedia di lingkungan sekitar. Namun, potensi produksi di tingkat hulu tersebut belum sepenuhnya diikuti kemampuan mengolah hasil panen menjadi produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi.
Selama ini, sebagian pisang hanya dikonsumsi sendiri atau dijual dalam kondisi segar kepada tengkulak. Istri petani memang telah mengolah sebagian hasil panen menjadi keripik pisang, tetapi pemasarannya masih terbatas di warung-warung sekitar dengan kemasan sederhana. Sementara itu, kulit pisang yang dihasilkan dari proses pengolahan maupun konsumsi umumnya langsung dibuang. Padahal, bagian tersebut masih memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku produk pangan.
Mengubah Limbah Menjadi Produk Bernilai
Melalui pendekatan ekonomi sirkular, limbah tidak hanya dipandang sebagai sesuatu yang harus dibuang. Konsep ini mendorong agar bahan yang masih memiliki manfaat dapat digunakan kembali atau diolah sehingga menghasilkan nilai baru.
Dalam program tersebut, kulit pisang dikembangkan menjadi kecap dan kerupuk, sedangkan buah pisang yang tidak memenuhi standar untuk dijual dalam bentuk segar diolah menjadi keripik. Kulit pisang memiliki sejumlah komponen, seperti gula pereduksi, pati, protein kasar, serat kasar dan pektin. Pektin merupakan salah satu komponen yang dapat berfungsi sebagai pengental alami dalam pengolahan pangan. Kandungan tersebut menjadi salah satu alasan kulit pisang memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai bahan baku produk olahan.
kegiatan foto bersama
Untuk membuat kecap, kulit pisang terlebih dahulu dicuci hingga bersih. Selanjutnya, kulit direndam dalam larutan soda kue selama sekitar 15 menit untuk membantu mengurangi getah dan rasa sepat.
Setelah itu, kulit dicuci kembali sebanyak tiga kali, kemudian dihaluskan menggunakan chopper blender. Bahan yang telah halus dimasak sekitar 30 menit hingga mengental. Hasil masakan kemudian disaring secara bertahap menggunakan saringan stainless steel dan kain kasa untuk memperoleh larutan yang lebih bening. Larutan tersebut kembali dimasak dengan tambahan rempah-rempah penyedap hingga menghasilkan cita rasa kecap.
Selain kecap, kulit pisang juga dapat diolah menjadi kerupuk. Kulit pisang matang dipotong kecil dan diblender bersama air hingga membentuk pasta. Pasta kemudian dicampur dengan tepung tapioka, tepung terigu, bawang putih, garam dan kaldu bubuk. Adonan dimasak hingga kalis, kemudian dicetak tipis menggunakan daun pisang.
Setelah dikeringkan di bawah sinar matahari, adonan digoreng hingga mengembang dan menghasilkan kerupuk yang renyah. Sementara buah pisang yang tidak layak dijual sebagai buah segar dimanfaatkan menjadi keripik. Buah diiris tipis menggunakan alat pengiris atau slicer, kemudian direndam dalam larutan garam untuk membantu mencegah pencokelatan sebelum digoreng.
Penggorengan dilakukan menggunakan mesin batch fryer agar tingkat kematangan produk lebih merata dan konsisten.
Petani Tidak Hanya Belajar Produksi
Program pengabdian tersebut tidak hanya berfokus pada teknik pengolahan makanan, tetapi juga membangun kemampuan kewirausahaan masyarakat. Tahap awal kegiatan dilakukan melalui rapat internal tim, penyusunan materi, pengadaan alat dan bahan, serta koordinasi dengan Kelurahan Kalampangan. Sebelum praktik teknis, peserta diberikan pemahaman mengenai motivasi kewirausahaan dan konsep social preneurship.
Sosialisasi tersebut diikuti 20 anggota kelompok tani bersama perwakilan Kelurahan Kalampangan. Selanjutnya, praktik pengolahan dilaksanakan pada 20 Juni 2026 dan diikuti 20 peserta, terutama ibu-ibu anggota kelompok tani yang selama ini turut berperan dalam mengolah hasil panen.
Peserta tidak hanya mendapatkan demonstrasi dari tim pengabdian, tetapi juga melakukan praktik secara langsung. Setiap tahapan produksi dilakukan dengan pendampingan sehingga peserta dapat memahami proses sekaligus standar pengolahan produk.
Dari kegiatan tersebut dihasilkan 10 produk keripik pisang, 20 botol kecap kulit pisang dan 10 kerupuk kulit pisang. Hasil evaluasi menunjukkan seluruh peserta atau 100 persen memahami proses produksi dan standar mutu keripik pisang. Angka tersebut melampaui target minimal 80 persen yang telah ditetapkan.
Pemanfaatan limbah kulit pisang juga mengalami peningkatan. Jika sebelumnya belum ada pemanfaatan atau berada pada angka 0 persen, setelah program berlangsung pemanfaatannya mencapai 90 persen, melebihi target 60 persen.
Teknologi Membantu Efisiensi Produksi
Untuk mendukung keberlanjutan usaha, tim pengabdian juga memperkenalkan sejumlah teknologi tepat guna. Peralatan tersebut meliputi slicer, chopper blender, roller kayu, batch fryer, spinner, hand sealer dan vacuum sealer.
Penggunaan alat tersebut bertujuan mempercepat proses produksi, menjaga konsistensi hasil dan meningkatkan kualitas pengemasan. Spinner, misalnya, dapat digunakan untuk membantu mengurangi minyak pada produk gorengan, sedangkan hand sealer dan vacuum sealer membantu membuat kemasan lebih rapat sehingga produk lebih terlindungi.
Tingkat pemanfaatan alat mencapai 90 persen. Dengan penggunaan teknologi tersebut, kapasitas pengolahan yang sebelumnya kurang dari 5 kilogram per hari ditargetkan dapat meningkat menjadi sedikitnya 15 kilogram per hari.
Kemasan dan Pemasaran Digital
Produk yang berkualitas juga membutuhkan strategi pemasaran agar dapat menjangkau konsumen yang lebih luas. Karena itu, pelatihan dilanjutkan dengan materi mengenai pengemasan dan pemasaran digital pada 1 Juli 2026.
Peserta diberikan pemahaman mengenai pentingnya kemasan yang menarik sekaligus informatif. Identitas produk diarahkan untuk mencantumkan merek dagang, informasi gizi dan kontak produsen. Selain pengemasan, peserta juga diperkenalkan dengan pemasaran melalui Instagram, Shopee dan Tokopedia.
Pelatihan mencakup pembuatan akun toko daring, teknik sederhana memotret produk, penulisan deskripsi produk hingga strategi promosi dasar melalui media digital. Sebanyak 15 akun media sosial dan e-commerce berhasil dibuat dalam kegiatan tersebut.
Langkah tersebut diharapkan dapat membantu produk olahan pisang tidak lagi hanya bergantung pada penjualan di warung sekitar, tetapi memiliki peluang menjangkau konsumen yang lebih luas. Ke depan, produk seperti kecap dan keripik pisang tersebut direncanakan dapat dikembangkan sebagai salah satu pilihan oleh-oleh khas Palangka Raya, dengan cita rasa yang disesuaikan dengan selera masyarakat setempat.
Mendorong Kemandirian Petani
Program pengabdian ini terlaksana melalui pendanaan BIMA Kemdiktisaintek melalui skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat, ruang lingkup Pemberdayaan Masyarakat Pemula. Untuk memastikan kegiatan tidak berhenti setelah program selesai, peralatan yang digunakan telah diserahkan kepada kelompok tani melalui berita acara serah terima aset.
Dengan demikian, kelompok tani dapat melanjutkan proses produksi secara mandiri dan mengembangkan produk sesuai kebutuhan pasar. Konsep ekonomi sirkular yang diperkenalkan melalui program ini pada dasarnya mengajarkan bahwa hasil pertanian tidak harus berhenti sebagai bahan mentah. Bagian yang sebelumnya dianggap limbah juga dapat dipertimbangkan sebagai sumber daya yang memiliki nilai.
Bagi petani pisang, pendekatan tersebut membuka peluang untuk memperoleh nilai tambah dari hasil panen sekaligus mengurangi limbah organik. Keberlanjutan program selanjutnya bergantung pada kemampuan mitra dalam mempertahankan kualitas produk, melakukan pencatatan keuangan, mengembangkan variasi olahan serta memanfaatkan pemasaran digital.
Dengan pengelolaan yang konsisten, kulit pisang yang sebelumnya hanya dibuang berpotensi menjadi bagian dari rantai usaha baru yang mendukung kemandirian ekonomi keluarga petani di Kelurahan Kalampangan.
Dukungan BIMA dan harapan keberlanjutan
Kegiatan ini terlaksana atas pendanaan BIMA Kemdiktisaintek melalui skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat, ruang lingkup Pemberdayaan Masyarakat Pemula. Peralatan yang digunakan dalam kegiatan telah diserahkan kepada kelompok tani melalui berita acara serah terima aset, sehingga mitra dapat melanjutkan produksi secara mandiri setelah program selesai.
Untuk menjaga keberlanjutan, mitra diharapkan terus mengembangkan diversifikasi olahan pisang, mencatat keuangan usaha secara tertib, dan mengoptimalkan pemasaran digital, sementara tim pengabdian tetap membuka jalur komunikasi jika terdapat kendala dalam pengolahan, penggunaan alat, maupun pemasaran. Dengan demikian, limbah kulit pisang yang semula dianggap tidak berguna dapat menjadi sumber pendapatan tambahan dan memperkuat kemandirian ekonomi petani pisang di Kalampangan.
(RZD)