Puncak Festival Ngobrol Buku 2026, 3 Buku Antologi Cerpen Berbasis Folklor Diluncurkan

Puncak Festival Ngobrol Buku 2026, 3 Buku Antologi Cerpen Berbasis Folklor Diluncurkan
Puncak Festival Ngobrol Buku 2026, 3 Buku Antologi Cerpen Berbasis Folklor Diluncurkan (Analisadaily/Istimewa)

Analisadaily.com, Medan - Ngobrol Buku Indonesia meluncurkan tiga buku antologi cerpen yang terinspirasi dari cerita rakyat (folklor) Sumatera Utara pada puncak Festival Ngobrol Buku (FNB) 2026, Jumat (25/9/2026) di Aula Universitas Prima Indonesia.

Ketiga buku tersebut berjudul “Sigale-gale, Sampuraga, dan Cerita yang Tak Pernah Mati” (Antologi Cerpen Kategori Pelajar), “Begu Ganjang, Sitelpang, dan Putri Hijau” (Antologi Cerpen Kategori Mahasiswa), serta “Legenda Jarum Keramat di Rimba Kawah Siluman” (Antologi Cerpen Kategori Umum).

Buku antologi cerita pendek ini merupakan tulisan dari 45 penulis peserta Lokakarya Penulisan Cerita Pendek “Menghidupkan Cerita Rakyat untuk Pembaca Modern” yang diselenggarakan Ngobrol Buku pada akhir Agustus lalu.

Sebanyak 45 peserta dari tiga kategori (pelajar, mahasiswa, dan umum) telah mengikuti lokakarya bersama dua Narasumber: Yusi Avianto Pareanom (Sastrawan dan Editor) dan Koko Hendri Lubis (Sastrawan dan Peneliti). Mereka adalah para penulis yang naskahnya telah lolos kurasi.

Indonesia memang memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam, salah satunya berupa cerita rakyat dan folklor yang diwariskan secara turun-temurun di berbagai daerah.

Cerita rakyat tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga mengandung nilai-nilai moral, kearifan lokal, identitas budaya, serta pandangan hidup masyarakat.

Namun, di tengah arus modernisasi dan perkembangan teknologi, keberadaan cerita rakyat semakin jarang dikenal oleh generasi muda dan berisiko terlupakan.

Ketua Ngobrol Buku Indonesia, Eka Dalanta, mengatakan sangat menyukai kata menghidupkan pada tema “Menghidupkan Cerita Rakyat untuk Pembaca Modern” karena kata menghidupkan mengandung keyakinan bahwa cerita rakyat sebenarnya tidak pernah benar-benar mati.

“Yang mungkin mati adalah ingatan kita terhadapnya, yang mungkin semakin jauh adalah hubungan kita dengannya. Karena itu, tugas kita bukan sekadar menjaga cerita rakyat tetap ada, kita perlu membuatnya kembali punya hubungan dengan kehidupan kita hari ini,” kata Eka.

Menurutnya itulah yang coba dilakukan oleh 45 peserta lokakarya kita. Mereka datang dengan cerita-cerita yang diwariskan dari masa lalu, lalu mencoba melihatnya kembali dengan mata mereka sendiri. Dari proses itu lahir 45 naskah cerpen yang kemudian dihimpun menjadi buku yang diluncurkan hari itu.

Eka berharap peluncuran buku dan rangkaian Festival Ngobrol Buku 2026 ini tidak sedang sekadar membuat sebuah buku, tetapi membuat jembatan. Jembatan antara cerita yang diwariskan dengan pembaca yang belum tentu mengenalnya.

“Jembatan antara masa lalu dengan hari ini. Dan, mudah-mudahan, jembatan antara satu generasi dengan generasi berikutnya,” ujarnya.

Sebagai apresiasi sastra, dalam rangkaian peluncuran buku ini, diadakan Ngobrol Buku (sebuah diskusi sastra yang menjadi identitas Ngobrol Buku) yang membicarakan ketiga buku antologi cerpen ini.

T. Agus Khaidir (Sastrawan dan Jurnalis Senior) dan Dian Syahfitri, S.S., M.Hum (Dekan Fakultas Bahasa dan Komunikasi UNPRI) menjadi narasumber. Diskusi dipandu oleh Juhendri Chaniago dari Ngobrol Buku. Dian Syafitri dalam mengulas karya antologi cerpen FNB 2026 menggunakan kajian sosiologi dan semantik.

Sedangkan T. Agus Khaidir mengkaji bagaimana cara para penulis mengolah folklor dan mengemasnya menjadi sebuah cerita yang baru.

Acara peluncuran semakin semarak dengan aliwahana beberapa cerpen dari buku antologi FNB Ngobrol Buku oleh UNPRI Kreatif FBK, Nova Anjelika, dan BDJ Siregar. Acara ditutup dengan pengumuman 2 naskah terbaik dari tiap-tiap kategori dan penyerahan hadiah.

Para pemenang adalah; Khayla Khairunnisa Siregar “Meriam yang Tak Diam” dan Witri Inayah Arqisti “Ulos Terakhir di Danau Toba” untuk kategori pelajar, Amanda Amelia Putri “Di Ujung Benang Siboru” dan Wage Siahaan “Si Boru Nadangol” untuk kategori mahasiswa, dan Amalia Rizky Ananda Meydi “Muntahan Siluman dan Kaleng Susu” dan Abram Christopher Sinaga “Jejak Sawah di Dasar Kawah” untuk kategori umum

Apresiasi

Kepala Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara (BB Sumut), Dr. Asrif, M.Hum menyampaikan dukungannya terhadap terselenggaranya kegiatan tersebut sebagai ruang untuk berdiskusi, berbagi gagasan, dan mengenal lebih dekat karya sastra.

Menurutnya, di tengah kondisi efisiensi yang turut memengaruhi pelaksanaan berbagai kegiatan literasi dan sastra, ruang-ruang seperti ini penting untuk terus dijaga. Asrif berharap Festival Ngobrol Buku dapat terus berlangsung secara berkelanjutan dan menjadi ruang bagi tumbuhnya budaya membaca, berdiskusi, serta menikmati karya sastra.

Witri Inayah Arqisti salah satu penulis dengan karya terbaik untuk kategori pelajar merasa senang senang sekali. Tidak hanya senang, ia mengaku mendapatkan banyak pelajaran berharga. “Saya berharap kegiatan seperti ini banyak diselenggarakan di kota Medan,” kata Witri.

Amalia Rizky Ananda Meydi penulis salah satu naskah terbaik kategori umum mengaku kaget, terharu, senang. Ia masih tidak menyangka akan mendapatkan apresiasi sebagai salah satu naskah terbaik.

"Lolos kurasi dan bisa mengikuti lokakarya saja saya sudah merasa bahagia. Saya ini masih penulis pemula, banyak penulis lain yang ikut yang sudah lebih lama menulis. Namun saya memang mengerahkan upaya semaksimal mungkin,” kata Amel.

Sebelum mengirim naskah kepada panitia, ia memang merevisi naskahnya hingga berpuluh-puluh kali. “Selamat untuk 45 Penulis yang karyanya baru saja diluncurkan. Terima kasih untuk semua pihak yang sudah mendukung dan sampai bertemu di Festival Ngobrol Buku berikutnya,” tutup Eka Dalanta.

Acara Peluncuran dan Ngobrol Buku Festival Ngobrol Buku 2026 ini didukung oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara, Fakultas Bahasa dan Komunikasi Universitas Prima Indonesia, Teater Iqra Medan, dan Sewa Lampu Panggung Medan.

(REL/BR)

Baca Juga

Rekomendasi