Kisah Garam yang Tak Pernah Habis di Desa Dokan

Kisah Garam yang Tak Pernah Habis di Desa Dokan
Anthony Limtan dan Nande Tigan (Analisadaily/Istimewa)

Oleh: Anthony Limtan

Dokan bukan sekadar sebuah desa. Di balik suasana kampungnya yang tenang, tersimpan jejak kehidupan masyarakat Karo masa lalu yang masih bertahan hingga kini.

Rumah-rumah adat berusia ratusan tahun bukan hanya menjadi saksi sejarah, tetapi juga menyimpan cerita tentang tradisi dan kepercayaan leluhur.

Dari Kota Kabanjahe, perjalanan menuju Desa Wisata Dokan memakan waktu sekitar 25 menit, dengan jarak kurang lebih 11 kilometer hingga pintu gerbang desa. Tulisan “Selamat Datang di Desa Wisata Dokan” menyambut kedatangan kami.

Dari gerbang tersebut, perjalanan masih berlanjut sekitar 15 menit untuk mencapai kawasan desa.

Di tengah penyambutan tamu yang diiringi riuh musik tradisional Karo, saya berkesempatan memasuki salah satu rumah adat milik Nande Tigan. Saya didampingi cucunya, Fania Karo-Karo, yang baru menyelesaikan pendidikan tinggi di Lampung.

Di rumah itu, saya berbincang langsung dengan Nande Tigan, perempuan berusia 83 tahun yang merupakan generasi ketiga penghuni rumah tersebut. Dari perbincangan bersamanya dan Fania, saya mulai mengenal kehidupan di balik dinding kayu rumah tua itu.

Menurut mereka, rumah tersebut masih dihuni empat keluarga, dengan kamar-kamar tidur yang terpisah dan disekat seadanya.

Meski telah berusia sekitar 150 tahun, bangunannya masih terlihat kokoh. Atap ijuknya mulai tebal berbalut lumut, seolah menyimpan jejak waktu yang panjang.

Bangunan ini tersusun dari kayu-kayu besar dengan teknik konstruksi tradisional, tanpa menggunakan perekat seperti yang lazim ditemukan pada bangunan modern. Ketika ditanya jenis kayu yang digunakan, Nande Tigan mengaku tidak lagi mengetahuinya. Maklum, ia hanya salah satu dari beberapa generasi yang telah menghuni rumah tersebut sejak zaman leluhur.

Namun, rumah tua ini menyimpan cerita yang lebih menarik daripada sekadar usia dan konstruksinya. Ada kisah tentang sesuatu yang sederhana, tetapi dianggap istimewa oleh masyarakat setempat: Garam Dokan.

Kisah Garam yang Tak Pernah Habis di Desa Dokan
Apa Istimewanya Garam Dokan?

Menurut cerita Nande Tigan, sejak zaman leluhur, ketika masa kolonial Belanda hingga pendudukan Jepang masih menjadi bagian dari sejarah, keluarganya telah menyimpan garam di dalam wadah khusus yang diletakkan di bagian atas rumah. Tradisi inilah yang kemudian dikenal luas sebagai Garam Dokan.

Dalam kepercayaan tradisional masyarakat Dokan, garam tersebut memiliki makna simbolis. Garam diyakini berkaitan dengan perlindungan desa serta menjadi pertanda baik atau buruk bagi masyarakat.

Garam itu disimpan dalam wadah tanah liat tradisional yang disebut tabu-tabu, di bagian atas rumah adat Karo. Penyimpanannya bukan perkara biasa. Garam tersebut tidak boleh diambil atau diturunkan sembarangan, melainkan harus mengikuti tata cara dan ketentuan adat.

Nande Tigan menuturkan, garam itu diturunkan pada waktu-waktu tertentu dan dipercaya dapat dimanfaatkan sebagai obat berbagai penyakit serta untuk melindungi diri.

Dalam cerita yang diwariskan turun-temurun, garam tersebut bahkan dipercaya tidak pernah habis, meskipun telah lama disimpan dan sesekali diambil.

Tentu, kisah tentang khasiat dan garam yang tidak pernah habis itu merupakan bagian dari kepercayaan masyarakat setempat, bukan sesuatu yang dapat dipastikan secara ilmiah. Namun, justru di situlah daya tarik cerita budaya: kita bisa mengenal cara leluhur memahami alam, kehidupan, dan hal-hal yang mereka anggap sakral.

Nande Tigan mengisahkan, ritual yang berkaitan dengan garam ini juga dikaitkan dengan keputusan penting masyarakat, seperti menjelang musim tanam atau ketika menghadapi keadaan genting.

Menurut kepercayaan yang berkembang, posisi garam saat diturunkan memiliki makna tersendiri. Jika posisinya tidur atau mendatar, hal itu dipercaya sebagai pertanda baik.

Sebaliknya, jika garam berada dalam posisi berdiri, masyarakat menafsirkannya sebagai pertanda kurang baik.

Tradisi tersebut pernah kembali dilaksanakan pada 2017, setelah sekitar 25 tahun tidak dilakukan, dan diperkenalkan kepada masyarakat luas melalui kegiatan Dokan Arts Festival.

Kisah Garam yang Tak Pernah Habis di Desa Dokan
Asap Kayu Bakar Menjaga Rumah Tetap Awet

Selain kisah Garam Dokan, Fania juga menjelaskan salah satu hal yang menurutnya membantu menjaga keawetan rumah tua tersebut, yakni pengasapan dari aktivitas memasak sehari-hari.

Keluarga yang menghuni rumah masih menggunakan kayu bakar untuk memasak. Asap yang terus-menerus mengepul selama bertahun-tahun dipercaya ikut membantu mengawetkan bagian-bagian kayu bangunan.

Di bagian atas rumah, saya melihat tumpukan kayu bakar yang telah kering. Berbagai peralatan memasak tradisional, seperti periuk dan kuali, juga masih tersimpan di sana.

Pemandangan itu membuat saya membayangkan bagaimana kehidupan keluarga-keluarga di rumah tersebut berlangsung dari generasi ke generasi. Rumah ini bukan sekadar bangunan tua yang dipertahankan untuk dilihat wisatawan. Di dalamnya, kehidupan masih berjalan dengan cara yang diwariskan para pendahulu.

Mendengar cerita langsung dari penghuninya membuat rumah tua itu terasa berbeda. Bukan lagi sekadar bangunan kayu beratap ijuk, melainkan seperti sebuah buku tua yang masih menyimpan banyak halaman tentang kehidupan orang Karo.

Bayangkan jika kisah Garam Dokan disampaikan dengan baik oleh pemandu lokal yang memahami sejarah dan adat setempat. Wisatawan tidak hanya datang untuk melihat rumah tua atau berfoto, tetapi juga pulang membawa pengetahuan tentang tradisi yang tidak mereka temukan di sembarang tempat.

Tentu, pengenalan tradisi ini harus tetap menghormati pemilik rumah dan ketentuan adat. Ritual yang dianggap sakral tidak seharusnya dipertunjukkan setiap saat hanya untuk memenuhi keinginan wisatawan. Pelestarian budaya bukan berarti semua hal harus dijadikan tontonan.

Inilah kekayaan Dokan yang sesungguhnya. Bukan hanya tanahnya yang subur, rumah adatnya yang tua, atau suasana kampungnya yang khas, tetapi juga cerita dan tradisi yang masih hidup di balik semua itu.

Kisah Garam yang Tak Pernah Habis di Desa Dokan
Karena itu, menjaga Dokan bukan semata-mata mempertahankan bangunan lama. Lebih dari itu, merawat ingatan, menghormati adat, dan mewariskan cerita leluhur agar tetap dikenal oleh generasi berikutnya.

Sebab, rumah tua bisa saja berdiri selama ratusan tahun. Namun, tanpa cerita dan tradisi yang terus dirawat, perlahan-lahan ia hanya akan menjadi bangunan tua tanpa makna.

(TON/RZD)

Baca Juga

Rekomendasi