Sidikalang Gantikan Tanah Karo Menjadi Sentra Jeruk Manis

Ketua Asosiasi Biogro Inputin­donesia (ABI), Frits Silalahi, mengatakan, selama ini Tanah Karo terkenal sebagai sentra jeruk manis yang sudah punya nama di Sumatera Utara, namun pasca erupsi Gunung Sinabung dua tahun yang lalu, banyak tanaman jeruk di Tanah Karo rusak akibat debu erupsi disamping  hama lalat buah yang kian mengganas.

“Saya sudah me­lihat sentra-sentra  jeruk manis di Ta­nah Karo, dalam beberapa tahun te­rak­hir ini hancur. Bukan cuma karena debu erupsi Sina­bung, tapi serangan penyakit tanaman, seperti lalat buah yang terus terjadi bagai tiada obat­nya,” papar Frits  dalam kesempatan meninjau tanaman jeruk di Desa Panji  Bako Sidikalang.

Ia mengatakan, saat ini sudah sulit menemukan jeruk ukuran super dari Tanah Karo. Hal ini terjadi  akibat serangan lalat buah yang terus menghantui di Tanah Karo.

Setelah ditelusuri banyak pepo­honan jeruk mati kering. Tanaman mati tersebut tidak ditebang, melainkan dijadikan tempat menja­larnya tanaman labu jipang dan markisa. Sisanya merupakan pepo­honan jeruk yang meranggas (gugur daun), ranting  dan batang­nya pun sudah ada yang mengering. Ada juga yang ter­bung­kus lumut dan jamur berwarna merah, putih, abu-abu dan hitam.

Meski terlihat juga tanaman jeruk yang sehat dan berbuah banyak, namun ukurannya seragam kecil. Pada kulit pangkal batang tanaman tersebut ada terlihat bocoran cairan getah kental warna kecoklatan (blendok) dan pembu­sukan pangkal batang (kanker batang).

Kondisi inilah yang sering membuat petani jeruk di Tanah Karo frustasi dan membiarkan tanaman jeruknya tak terurus.

Frits yang beranggotakan peru­sahaan yang memperoduksi pupuk organik dan pestisida organik, mengatakan, sudah saatnya petani kita bersahabat dengan alam dengan menggunakan pupuk organik yang ramah lingkungan.

“Penggunaan pes­t­i­sida secara terus menerus jus­tru menim­bulkan masalah baru, ter­masuk ledakan ha­ma. Aplikasi zat ki­mia tersebut  meng­ganggu keseim­ba­ngan ekosistem dan berdampak pada kesehatan manu­sia,” paparnya.

Ia mencontoh­kan sejumlah peta­ni jeruk di Sidi­kalang yang tidak lagi tergantung mengandalkan pupuk kimia atau pestisida, karena kondisi tanah di Dairi yang masih tergolong subur. Seperti ketika mengamati petani jeruk di Desa Panji, milik Siburian,  Frits mengatakan jeruk sebesar ini, (sembari menggenggem jeruk siam madu ukuran jumbo), sudah sangat sulit dite­mukan di Tanah Karo. Berat jeruk tersebut 3 atau 4 buah 1 kilogram.

Namun demikian, tambah Sibu­rian, mengembangkan tanaman jeruk di Sidikalang pun bukannya tanpa kandala. Hampir  3 tahun lahan jeruk yang tidak meng­hasilkan dibiarkan merang­gas karena jamur dan lalat buah.

Serangan lalat buah juga pemicu banyak petani jeruk di Tanah Karo maupun di Sidikalang membiarkan tana­mannya tak terurus, karena hasilnya tak maksimal, malah merugi. Namun, Siburian sangat beruntung dapat berkenalan  de­ngan seorang pakar enzim, Andy Wahab Sitepu yang menyarankan menggunakan enzim Fifofit secara berkala.

Hasilnya, buah jeruk yang diaplikasi dengan enzim yang ramah lingkungan itu sungguh luar biasa. Kini kebun jeruk milik Siburian di atas lahan dua setengah hektar di Desa Panji  Bako kerap dijadikan prak­tisi pertanian sebagai studi banding dan percontohan  tanaman jeruk yang berhasil.

Melihat keberhasilan Siburian me­ngem­­­bangkan tanaman jeruk­nya, kini banyak petani di Kabu­paten Dairi yang sebelumnya menanam cabai, kentang atau plawija lainnya beralih ke tanaman jeruk.

Menurut beberapa penga­mat, termasuk pakar enzim Andy Wahab Sitepu maupun Ketua ABI, Frits Silalahi, Sidikalang (Dairi) sangat berpotensi meng­gantikan Tanah Karo sebagai sentra peng­hasil jeruk manis.

Wakil Ketua DPRD Dairi, Benpa Hisar Nababan ternyata juga melihat peluang bisnis ini turut membudidayakan tanaman jeruk di lahan seluas 3,5 hektar di Desa Panji Bako Desa Sitinjo. Demikian juga penduduk di Kecamatan Parbuluan, Sumbul, Sitinjo, Pega­gan Hilir, Berampu, Sigalingging, Simalopuk juga mulai berduyun-duyun menanam jeruk.

Keberhasilan petani Sidikalang mengem­­bangkan tanaman jeruk­nya juga ditandai dengan eksodus­nya sejumlah petani jeruk dari Tanah Karo (eks Sinabung) ke Dairi. Akibatnya, harga tanah untuk bercocok tanam otomatis melambung. (Anthony Limtan)

()

Baca Juga

Rekomendasi