Oleh: Nirwansyah Sukartara. SEJAK era kolonial Belanda, taman bacaan telah dihadirkan sebagai program pendidikan keaksaraan. Namun, seiring perkembangan zaman, taman bacaan ini tak lagi dekat dengan masyarakat. Perlahan mulai hilang satu persatu. Bahkan minat baca masyarakat-pun terus mengalami penurunan. Lantas bagaimana dengan peranan taman bacaan kini?
Malam itu, Jumat (20/6) suasana Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Plus Mas Raden yang berada di Jalan Karya Jaya Kecamatan Medan Johor begitu hening. Beberapa pemuda secara bergantian keluar masuk membawa buku yang mereka ambil dari jejeran rak buku di ruangan berukuran 15 x 5 meter tersebut. Di pojok ruangan, terlihat pria berkacamata begitu asik membaca buku. Benar-benar kondusif.
Sementara itu, tak jauh dari meja penjaga, seorang Ibu juga asik menyiapkan satu gelas jamu. Ibu tersebut adalah Asyiah, isteri dari Drs Amrin SH yang merupakan pendiri TBM Plus Mas Raden. Di belakang Asyiah, seorang pria sedang menanti olahan jamunya. Setidaknya suasana seperti inilah yang bisa ditemukan setiap malam di TBM tersebut.
Amrin sendiri mendirikan TBM ini sejak 2006 lalu. Bisa dikatakan, TBM yang ia dirikan merupakan salah satu TBM percontohan di Kota Medan. Ini terbukti, sudah beberapa kali, TBM ia sempat dikunjungi masyarakat dari luar Medan untuk studi banding. Bahkan di 2 Juli mendatang, TBM nya kembali menjadi tuan rumah untuk studi banding penggiat TBM yang berasal dari Sumatera Barat, Riau, dan Aceh.
“Saya ini seorang pensiunan. Saya pernah menjadi pembina untuk program bidang bacaan seperti pengembangan TBM ini,” kata Amrin.
Motivasinya mengembangkan TBM ini sederhana yakni berbisnis untuk akhirat. Motivasi ini ia dapatkan saat membaca buku “Manajemen Bisnis Moderen Ala Nabi Muhammad”. Ia memang terbiasa membaca buku. Semangat inilah yang ingin ia tularkan kepada masyarakat.
Harapannya juga sederhana. Minat baca masyarakat tinggi. Baginya, bangsa yang cerdas adalah bangsa yang rakyatnya gemar membaca. Untuk mewujudkan bangsa cerdas, setidaknya TBM tersebut adalah jawabannya.
“Saya cukup prihatin lihat kondisi anak-anak saat ini. Sulit saya menjumpai anak-anak yang memiliki hobi membaca,” kata Amrin. Padahal, buku adalah jendela dunia.
Gemar Membaca
Untungnya, lewat TBM ini ia berhasil mengajak masyarakat sekitar untuk gemar membaca. Saat ini, anggota TBM-nya telah mencapai 2.300 anggota. Mereka bukan hanya berasal dari kelurahan sekitar, melainkan juga berasal dari seluruh wilayah Kota Medan dan Deliserdang.
“Jadi kita buatkan kartu anggota untuk mereka. TBM itu bisa hidup, jika koleksi buku-bukunya juga baik. Mereka yang datang dari Deliserdang juga karena buku disini cukup lengkap,” kata pria yang sering memakai lobe ini.
Dalam sehari, pengunjung yang datang ke TBM nya bisa mencapai 75 orang. Semuanya datang dari berbagai kalangan. Biasanya ada yang sekedar membaca buku, meminjam, bahkan membeli buku. Inilah yang membuat TBM-nya begitu dekat dengan masyarakat.
Awal mendirikan TBM ini, Amrin hanya memiliki koleksi buku 1.350 buku. Seiring dengan perkembangan TBM yang ia kelola, maka saat ini ia telah memiliki 225.000 buku. Jumlah yang cukup meningkat pesat.
Selain koleksi buku, hal yang perlu diperhatikan dalam pengembangan TBM yakni legalisasi, sosialisasi dan terakhir adalah pelayanan. “TBM saya terus berinovasi. Bukan hanya tempat mem baca buku, melainkan juga saya buat sebagai tempat bisnis. Bisnis jual jamu. Jadi, ketika baca buku, pengunjung juga bisa menikmati minuman di TBM ini,” katanya.
Untuk pendekatan ke masyarakat, ia melakukan berbagai perlombaan rakyat seperti menulis cerita kampung, lomba menulis sastra bahkan pemilihan bintang learning. Ini semua dilakukan agar masyarakat memiliki minta baca yang tinggi dan tidak buta huruf.
Makin Cerdas
Harapan ia, jika hal ini dilakukan hampir disetiap TBM, maka ia menyakini masyarakat Indonesia khususnya Medan semakin dekat dengan kecerdasan. Bukankan, mewujudkan bangsa yang cerdas merupakan program yang dimimpi-mimpikan pemerintah?. “Sebenarnya gampang mewujudkan bangsa yang cerdas. TBM berfungsi. Satu kelurahan ada satu TBM. Hampir sama dengan perpustakaan,” katanya.
Pasal 31 UUD 1945 juga menyebutkan bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelanggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan, ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. “Jadi bantuan pemerintah untuk memajukan TBM harus ditingkatkan lagi. Meskipun bantuan ini sudah sangat merata,” katanya.
Di Medan sendiri jumlah TBM juga berkembang begitu cepat. Saat ini sudah ada 31 TBM yang menyebar diseluruh Medan. Pengembangan TBM ini merupakan salah satu program Pemerintah Kota (Pemko Medan) dalam bidang pendidikan. Ini terlihat, Sabtu (21/6) lalu, Walikota Medan, Drs H T Dzulmi Eldin M.Si juga menyempatkan diri untuk menghadiri launching Rumah Baca Satu Bangsa milik Hasan Kasiman. Saat acara ini, Eldin menyumbangkan 1.000 buku untuk TBM yang berada di Jalan Bangun Sari Kecamatan Medan Johor tersebut.
Bagi Eldin, hadirnya TBM tersebut juga tidak terlepas dari dukungan Pemko Medan. “TBM itu salah satu program pendidikan informal. Pendidikan mewujudkan kesejahteraan masyarakat. TBM ini pula yang mencerdaskan masyarakat. Untuk itu terus kita dukung agar berkembang, sehingga mewujudkan masyarakat Medan yang cerdas,” kata Eldin.
Menghasilkan masyarakat yang cerdas adalah impian dari Pemko Medan. TBM menstimulasi dan mendukung ke arah keberlanjutan Program Pendidikan Keaksaraan.
Harapan yang sama juga dikatakan Hasan Kasiman, pemilik Rumah Baca Satu Bangsa. Ia berharap agar TBM ini benar-benar dapat dimanfaatkan masyarakat. “TBM ini bisa ramai. Penduduk kita juga bisa cerdas asalkan orangtua bisa mengarahkan anaknya untuk duduk di TBM, membaca buku dan tidak membiarkan anaknya untuk bermain,” ucap Hasan.
Dari 31 TBM yang ada di Medan tersebut, beberapa di antaranya juga telah berinovasi. Beberapa TBM ada yang menyajikan e-book bahkan sekalian memberikan akses internet kepada masyarakat. Pada dasarnya, harapan-harapan penggiat TBM ini sama. Sama halnya dengan harapan pemerintah yakni mewujudkan masyarakat Medan yang cerdas.










