Sepasang Angsa Putih

Oleh: El-mariachi Culianca. Purnama duduk anggun di langit. Cahaya kuning keemasannya luruh ke bumi. Di antara kabut tipis yang melayang di atas air telaga, sepasang angsa putih berjalan berdampingan. Mereka saling menggoda satu sama lain. Sayap-sayap mereka sesekali mengepak bersentuhan, seolah bagaikan sepasang tangan yang saling menjalin, bergenggam erat.

Di lain waktu, paruh mereka juga bersentuhan, kemudian setelah itu, mereka kembali berjalan berdampingan. Di tengah telaga, mereka berputar-putar dalam saputan cahaya rembulan yang menembus kabut tipis itu,  menampilkan sebuah tarian yang indah. Di atas sebuah batu di tepi telaga, seekor katak berdengung dengan suaranya yang berat, dan ditingkahi dengan suara jangkrik yang ringan, seakan menjadi irama penggiring tarian sepasang angsa putih itu. Aku yang duduk di bawah pohon tak jauh dari telaga itu, menatap takjub. “Pertunjukan alam yang mengagumkan,” gumamku. Saat itu musim kemarau baru saja berlalu.

Awan kabut melayang-layang di udara yang dingin. Embun yang jatuh di atas dedaunan tampak bagaikan kelopak-kelopak bunga yang berkilaun dalam terpaan sinar purnama. Dari balik kabut yang mulai menebal, kulihat sesosok tubuh yang berjalan dari kejauhan, mendekat kepadaku. Sosok itu terlihat anggun dalam balutan kabut, yang membuatnya seperti seorang dewi yang turun ke bumi dengan menunggangi awan. Dalam batas jangkauan mata memandang, wajah sosok itu tampak jelas terlihat, dan wajah itu tak asing bagiku—dia adalah Viona—seorang gadis yang sangat kukenal. Aku tertegun, seolah tak percaya dengan penglihatan mataku.

“Apakah aku sedang bermimpi?”, batinku.

Untuk meyakinkan diriku sendiri, kucoba mencubit kulit tanganku—sakit. Dalam ketakpercayaan yang membingungkan itu, sekonyong-konyong dari balik awan kabut di benakku tersaji kembali peristiwa dan kisah beberapa tahun lalu.

**

Segalanya berawal dari sebuah perjumpaan yang tak sengaja. Perjumpaan yang mungkin telah ditulis pada urat-urat takdir. Mungkin ada benarnya ungkapan yang berkata, sesuatu yang terjadi tanpa diduga, kesannya sedalam lautan. Dalam bus kota yang dipenuhi oleh orang-orang berdesakan, kulihat seorang gadis jelita ada di antara mereka. Wajah gadis itu membuat jantungku berdetak kencang, seolah hendak melompat keluar, untuk pertama kali dalam hidupku. Gadis itu terhimpit tak berdaya.

Seperti yang berlaku semestinya, aku bermaksud memberikan kursi yang kutempati untuknya. Ketika bus kota itu berhenti di sebuah halte, aku hendak beranjak dari kursiku, namun sebelum aku sempat berdiri, kudengar gadis itu berteriak, “Jambret!…jambret!” Gadis itu terus berteriak dan berusaha untuk merebut kembali tasnya yang dirampas. Kulihat orang banyak hanya tertegun dalam diam, namun beberapa dari orang banyak itu tergerak menolong gadis itu—satu diantaranya adalah aku. Tetapi, perlahan-lahan, seperti lebah yang menjauh dari panas api, satu per satu menjauhkan diri, ketika melihat salah seorang dari para penjambret mengeluarkan belati. Sementara itu, aku yang tidak mengetahui situasi sebenarnya terjadi terus melakukan perlawanan. Aku terlibat dalam perkelahian yang tak seimbang. Para penjambret itu mengeroyokku. Dengan satu gerakan yang tak kuduga, penjambret yang membawa belati itu merobek perutku. Bukan hanya itu, para penjambret itu juga mematahkan dua tulang igaku. Darah kental mengalir deras dari sobekan perutku itu, dan aku tergeletak tak berdaya.

Semacam tirai gelap turun di depan mataku yang membuat pandangan mataku menjadi samar-samar, kulihat gadis itu menangis sambil menekan luka sobekan di perutku, ia mencoba menghentikan darah yang terus mengalir, namun semuanya sia-sia. Aku tak tahu apa-apa lagi setelahnya. Dengan tatapan mata yang mengabur, seakan mataku diselimuti kabut tipis, kulihat wajah-wajah menegang resah berdiri di depanku.

Lamat-lamat kudengar suara tangisan ibuku. Di antara isak tangisnya, ibuku berseru, ”Oh, Rangga, anakku, akhirnya kau sadar juga!” Tangannya membelai lembut kepalaku. Itu hanya terjadi sesaat saja. Di saat berikutnya, ibuku berdiri dengan kasar, seolah kursi yang didudukinya telah membakar bokongnya, dengan suara yang keras, dia kembali berseru, “Ini semua gara-gara perempuan setan itu!” Ketika mengucapkan kata-kata itu, tangan ibuku menuding ke arah Viona, dan suaranya terdengar bergetar.

“Sebelum menggonggong, sebaiknya pastikan dulu malingnya,” ujar ayahku lembut. “Tidak semestinya mata tuamu yang telah lebih banyak melihat embun menjadi salju, menyalahkan orang lain atas satu musibah, dan hatimu bergemuruh seperti ombak.”

“Siapa yang memasang lonceng di leher macan harus bisa melepaskannya,” sahut ibuku dengan geram.

“Aku tidak bermaksud membelanya,” ujar ayahku. “Bukan gadis itu yang memasang lonceng itu di leher Rangga, tapi anak kita sendiri yang menggalungkan lonceng itu di lehernya. Lagian gadis itu telah menunjukkan rasa tanggung jawabnya dengan mengantar Rangga ke rumah sakit. Apakah itu belum cukup? Mengapa kau terus menyalahkannya?”

“Semua ini adalah kesalahanku,” ujarku. “Ibu jangan menyalahkannya. Dia tidak pernah memintaku untuk menolongnya, tapi aku sendirilah yang hendak membantunya” Mendengar ucapanku itu, ibuku terdiam, namun masih dapat kurasakan amarah di jantungnya. Hal itu dapat kuketahui dari helaan nafasnya yang serupa dengus seekor sapi tua yang terluka karena melihat anaknya dilukai.  Wajah ibuku merah seperti panggangan yang baru keluar dari pemanas. Dengan kesal ibuku mengentakkan kakinya dengan keras ke lantai, lalu dia kembali duduk ke kursi dengan kasar.

“Nah, sudah kau dengar apa kata anakmu?” ayahku menyela. Ayahku mendekati Viona yang berdiri dengan kepala tertunduk. “Nak, kumohon maafkan atas kekasaran istriku. Ini musibah, dan bukan kesalahanmu. Dalam musibah ini, kau bukan penyebab dari segalanya, dan anakku tidak bertindak ceroboh. Andaikan aku dalam posisinya, aku pun akan bertindak hal yang sama seperti yang dilakukannya. Satu-satunya yang patut disalahkan dalam hal ini adalah, nasib baik belum memihak anakku.”

Selama aku dalam masa pengobatan, Viona selalu datang menjengukku, bahkan tak jarang ia menemaniku. Semua dilakukannya karena ia merasa bertanggung jawab dengan apa yang menimpaku, dan ia selalu merasa bahwa dirinyalah penyebab dari semua ini. Seperti sebuah tali yang terjalin, hubungan kami terus berlanjut.

Ia berkali-kali datang ke rumahku, dan aku berulang kali berkunjung ke rumahnya. Benang-benang yang tak tampak tercipta dalam tatapan mata kami. Benturan-benturan halus bergetar dalam udara, yang membuat hati kami turut bergetar. Jalinan nada melantun merdu dalam jiwa kami. Namum, entah mengapa mulut kami selalu terkunci, seakan sebuah gembok raksasa menguncinya.

“Kalian harus bersiap-siap,” kata ayahku di suatu malam ketika kami duduk makan bersama. “Ayah mendapat tugas di tempat yang baru.” Ayahku menyantap makanannya, kemudian dia melanjutkan lagi, “Ayah berencana membuat pesta perpisahan kecil-kecilan dengan teman-teman Ayah. Sepertinya tempat yang pas untuk acara perpisahan itu, vila kita.”

“Setuju,” seruku. “Selain hawanya yang sejuk, pemandangannya sangat bagus. Apalagi ada telaga kecil di halaman belakang vila kita. Jadi, suasana pasti akan terasa romantis. Bagaimana menurut Ibu?” Mendengar pertanyaanku, ibuku hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju. Ibuku memang tidak terlalu banyak menuntut dalam hal-hal tertentu, tapi dalam hal-hal lainnya, beliau tak mau setiap ucapannya dibantah. “Aku ingin mengundang Viona. Apakah boleh, Yah?”

“Tentu saja boleh,” sahut ayahku. “Ayah senang dengan kepribadiannya. Dia anak yang santun. Itu tampak dari cara dia berbicara dan sikapnya yang ramah. Semuanya itu menyimpulkan bahwa dia seorang gadis dengan budi pekerti yang anggun, seakan diharumkan oleh semerbak bunga mawar. Apalagi Ayah tidak mempunyai anak perempuan, tentu kehadirannya sangat menghibur hati Ayah. Ajaklah dia dan, jangan sampai lupa!”

Fajar berikutnya, aku sudah melaju di atas aspal. Hari mulai tampak sibuk, sebentar lagi akan ramai. Deru-deru kendaraan merayap perlahan di udara, kemudian menyatu dalam satu kebisingan yang memekakkan telinga. Debu jalan yang beterbangan berbaur dengan asap yang keluar dari knalpot, mengotori udara. Ketika aku sampai, kulihat Viona tengah duduk di beranda rumahnya. Aku menghampirinya dengan langkah ringan yang sekaligus terasa berat. “Pagi sekali kau datang,” ujarnya. “Adakah sesuatu yang membawamu datang ke mari?”

“Ayahku mengundangmu dalam acara perpisahan,” tuturku.

“Perpisahan?” tukasnya. “Perpisahan siapa? Apa maksudnya, Rangga? Tolong kau jelaskan.”

“Begini,” aku menghela nafas yang panjang sebelum melanjutkan ucapanku. “Ayahku akan bertugas di tempat yang baru. Beliau mengundangmu untuk hadir dalam acara perpisahan itu. Kau mau kan?”

“Kapan pindahnya? Terus, pindah ke mana?”

“Aku tidak tahu. Ayahku belum memberitahu kapan waktunya kami akan pindah dan tempatnya.”

“Berarti….”

“Ya, kami sekeluarga akan pindah,” sahutku dengan suara yang berat. Lalu hanya kesunyian yang ada di antara kami. Yang satu berbincang dengan pikirannya; yang lainnya berbicara dengan hatinya. Kami seperti sedang bermain tebak-tebakan. Sepasang kupu-kupu berkejaran di udara pagi.

Seekor kupu-kupu dari sepasang itu, hinggap di pohon dan menyamarkan diri di antara bunga-bunga; yang satunya lagi berputar—mencari.

**

Acara perpisahan berlangsung sederhana namun meriah. Bulan setengah wajah hadir dengan sinarnya. Sebuah simfoni tercipta dari perpaduan gemericik air pancuran buatan dan nyanyian alam. Kembang-kembang mekar dan menghijau.

Gunung dan bebukitan di kejauhan sana, tampak seperti lukisan naga hitam yang tak kelihatan. Semuanya bagaikan ukiran yang indah, tercipta dari pemahat yang mahir.

Pada saat bulan setengah wajah itu tersaput awan tipis, kabut naik dari permukaan tanah, melayang-layang bagaikan sebuah layang-layang yang terbuat dari kertas putih.

Aku dan Viona memisahkan diri dari keramaian. Kami berjalan menuju telaga kecil di halaman belakang vila. Berpayung rindang pohon, kami duduk di tepi telaga. Dua pasang angsa putih berjalan hilir mudik mengitari telaga.

Kemudian, sepasang angsa putih saling mendekat di tepi seberang telaga. Leher mereka saling menyilang—mengucap janji. Persis di saat yang bersamaan, sepasang anak manusia

 mengikrarkan janji hati. Seekor burung hantu yang bertengger di dahan di atas kepala kami, memandang iri. Tak lama kemudian, dia bernyanyi dengan suara yang merdu, memanggil pulang belahan jiwanya yang pergi entah ke mana. Setelah janji terucap, hati menyatu, kami kembali ke acara pesta perpisahan. Aku menggenggam tangan Viona saat menuju pulang. Benang-benang yang awalnya tak kelihatan, kini mulai tampak dan berubah menjadi merah.

Mungkin benar adanya sebuah ungkapan berkata, bunga tidak selamanya mekar di tanah yang subur, bila tidak diberi pupuk. Sejak saat itu, bila waktu senggang terluang, kami mendatangi vila ayahku. Kami memupuk rasa setiap saat, seperti seorang petani memupuk padi di sawah. Telaga kecil di halaman belakang vila ayahku menjadi tempat favorit kami untuk melepas waktu.

Tak ada yang lebih menyenangkan bagi kami selain melihat angsa-angsa putih itu saling menggoda; melihat senja yang jatuh dan memerahkan kaki langit.

Awan dan kabut tebal tak dapat menyembunyikan puncak gunung selamanya. Mungkin begitulah pada dasarnya hakekat dari sebuah rahasia, dan Viona menyembunyikan sesuatu tentang dirinya dariku. Tetapi, setelah segalanya kuketahui, semuanya sudah terlambat.

Hari kepindahan ayahku semakin dekat. Tak ada waktu untuk melepaskan kesempatan. Setiap detik sangat berarti. Hujan yang turun sejak pagi, bukan halangan bagiku.

Sesuatu yang mendesak di dadaku yang membuatku melaju di atas aspal yang basah. Bau tanah yang tajam memenuhi udara, seakan menjadi tenaga tambahan bagiku. Ketika aku sampai di rumah Viona, aku disambut seorang pembantu tua. “Viona ada, Bi?” tanyaku. Sebelum pembantu tua itu menjawab, dari wajahnya aku bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang tak beres.

Pembantu tua itu berdiri tegak, tidak bergeming, seperti sebatang kayu tua yang mati. Kuulangi lagi pertanyaanku dan, sebuah retakan kecil membuka di dalam pikirannya, yang membuat seolah-olah kesadarannya telah kembali. Dengan suara lirih dia menjawab, “Nona Viona ada di rumah sakit. Pergilah ke sana sebelum semuanya terlambat.”

“Sakit apa, Bi?” tanyaku lagi.

“Jangan membuang-buang waktu,” sahutnya. “Cepatlah ke sana!” Dari ucapan pembantu tua itu, aku menyimpulkan bahwa tidak ada waktu lagi untuk bertanya lebih lanjut.

Kupacu kendaraanku di atas aspal yang mulai mengering. Cuaca kembali cerah dan kehangatan dari sinar matahari yang pucat menyebar, tetapi bau tanah yang tajam masih terasa. Tapi, kali ini aromanya terasa seperti bau kematian yang membuat jiwaku sedikit terguncang. Apa yang tersisa dari sebuah jiwa bila ia mengetahui sebagian dari jiwanya itu akan pergi, selain sebuah kesedihan. Aku limbung dalam harapan yang baru saja kubangun.

Beberapa saat kemudian aku sampai di rumah sakit, aku langsung menuju tempat informasi, menanyakan ruangan yang ditempati Viona. Setelah mengetahuinya, aku setengah berlari menuju ruangan yang ditempati kekasihku itu. Ketika sampai, kulihat kedua orang tua Viona duduk di depan kamar dengan wajah dirudung kesedihan. Tak tampak cahaya di wajah mereka, seolah sinar matahari padam di wajah-wajah itu.

“Bagaimana keadaan Viona?”

“Kritis,” jawab ayahnya. Suaranya terdengar tanpa gairah. “Dokter sedang berusaha menyelamatkannya.”

“Tidak lebih baik daripada kematian,” sahut ibunya. Dapat kubayangkan separah apa penyakit yang diderita Viona. “Penyakit apa yang diderita Viona?” tanyaku kembali.

“Kanker otak,” jawab ayah Viona, masih dengan suara yang sama seperti sebelumnya—tanpa gairah, seolah dia mayat yang hidup puluhan tahun lamanya. “Sering kali dokter menyarankannya untuk tidak melakukan kegiatannya seperti dulu, dan kami berulang kali melarangnya, tapi Viona berkeinginan lain. Tak ada yang dapat kami lakukan lagi, selain mengikuti kemauannya yang keras.”

“Anak yang malang,” ujar ibunya. Bersamaan dengan berakhirnya ucapan itu, dari dalam kamar Viona keluar seorang dokter. “Kami telah berusaha, tapi Langit berkehendak lain. Maafkan saya,” dokter itu berkata.

Itulah kabar yang paling menyakitkan kudengar selama ini, yang membuat persendianku rontok.

Aku duduk terkulai, kabut air menggenangi pelupuk mataku. Aku meratapi angsa betinaku yang terbang meninggalkanku seorang diri di telaga kedukaan. Dia terbang, terbang meninggi hingga ke Langit, dan bertengger di pohon di atas sana, memandangku dengan linangan air mata. Saat aku meninggalkan rumah sakit, aku tampak seperti lilin berkedap-kedip terkena angin ketika berjalan.

**

Aku menjerit, menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku, saat sosok itu semakin mendekat. Rasa takut dengan cepat mengaliri urat-urat nadiku, yang membuat tubuhku gemetar. Jeritanku semakin keras ketika tangannya menyentuhku.

Saking kerasnya, seekor katak tua melompat menjauh karena ketakutan. Kabut tebal membuat cahaya bulan serupa sinar lentera yang hampir padam, menambah suasana semakin mencekam. Tapi, tunggu, tangan itu terasa hangat di kulitku. Berarti dia—pikiranku semakin kacau.

“Rangga!” Sosok itu memanggil namaku di saat rasa ketakutan itu masih mencengkeramku. “Rangga!” Dia mengulanginya lagi seraya mengguncang tubuhku. Pada saat kuangkat kepalaku, kulihat dia tersenyum. “Aku Violin.” Dia menyebutkan namanya. “Aku kembarannya Viona.

Maaf, telah membuatmu takut.” Kuseka keringat di kening dengan lenganku di malam yang dingin. Perlahan-lahan aku mulai menguasai diriku. “Duduklah!” ujarku padanya. “Aku hampir mati ketakutan.” Kata-kata itu terdengar seolah-olah kutujukan pada diriku sendiri, bukan padanya.

“Maafkan aku,” ujarnya pelan. Untuk sejenak kami membeku dalam udara yang dingin. Mulut kami terkatup ratap, seakan ada cairan lem yang merekatkannya. “Viona sering membicarakanmu,” gadis itu kembali berkata. Asap tipis keluar dari mulutnya, dan bergulung-gulung di udara sesaat kemudian. “juga tempat ini. Awalnya aku tidak percaya ada setempat sebagus ini, tapi, setelah kusaksikan sendiri, apa yang dikatakan Viona bukan pepesan kosong. Aku mulai menyukai tempat ini.”

Lalu dia terdiam sejenak.

“Saat pemakaman Viona, aku tak bisa hadir,” ujarnya lagi, seakan dia bisa menebak apa yang ada dalam pikiranku.

“Waktu itu aku tengah ujian semester. Dan, itu membuatku terus dihantui rasa bersalah. Ini adalah kali kedua aku datang ke mari. Yang pertama, tahun kedua meninggalnya Viona, dan saat itu Kang Asep memberitahuku bahwa kau belum datang, tapi pasti datang. Setelah menunggu sekian lama, dan kau pun belum datang, akhirnya kuputuskan untuk kembali ke Amerika. Sekali lagi, maafkan atas kejadian tadi.”

Aku hanya diam mendengar penjelasannya, dan keheningan melingkupi kami, seakan keheningan itu dilemparkan dari langit. Kabut tebal mulai menipis karena tertiup angin.  Di antara keheningan yang hadir, tiba-tiba dia berseru, “Lihat!” Tangannya menunjuk ke arah telaga.

“Lihat sepasang angsa putih itu, begitu mesra. Ah, sungguh sepasang kekasih yang romantis.”

Tiba-tiba seekor dari sepasang angsa putih itu, terkulai, kemudian terkapar mengapung di atas air telaga. Air di sekitarnya berubah menjadi merah. Rupanya angsa putih itu terkena peluru yang nyasar dari seorang pemburu. Melihat kekasihnya terkapar, pasangannya menjerit, meratapinya.

Suaranya terdengar begitu memilukan. Pasangannya terus berusaha membangunkan kekasihnya dengan paruhnya—mendorong—namun kekasihnya hanya diam. Arus kecil membawa tubuh kekasihnya menjauh.

Melihat tubuh kekasihnya semakin menjauh, ia menepi di tepian telaga sambil terus menatap tubuh kekasihnya dengan tatapan kosong. Katak tua yang menjauh dariku tadi, duduk dengan penuh wibawa di atas bunga teratai, layaknya seorang dewa, mencoba menghibur angsa itu dengan suaranya yang berdengung, seolah berkata, ini adalah takdir.

“Tragis! Sungguh menyedihkan,” ujar Violin ketika menyaksikan peristiwa yang menyayat hati.

“Terkadang takdir melompat-lompat, mengejek perjalanan panjang dari sebuah kehidupan. Yang di depan mata, tiba-tiba menghilang; yang jauh dapat diraih.”

“Ya,” kataku. “Bukankah bersatunya emas dan giok ditentukan oleh si perajin?”***

 

()

Baca Juga

Rekomendasi